BOJONG, PEKALONGAN, WARTA DESA. – Rencana kegiatan perpisahan dan pentas seni di SDN 01 Kalipancur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, resmi dibatalkan. Keputusan ini diambil menyusul polemik terkait besarnya iuran yang dibebankan kepada wali murid hingga menjadi sorotan publik di media sosial.
Awal Mula Polemik: Iuran Rp 26 Juta
Kegaduhan bermula dari unggahan akun Facebook “Jhon Leh” di grup Wong Bojong yang menyoroti rencana anggaran acara kelulusan sebesar Rp 26 juta. Dalam dokumen yang beredar, wali murid kelas VI dibebankan iuran sebesar Rp 300.000, sementara siswa kelas I hingga V juga dikenakan biaya “infaq” sebesar Rp 50.000.
Unggahan tersebut menuai kritik tajam karena dianggap memberatkan orang tua murid di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Respons Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, M. Kholid, memberikan respons tegas. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah telah melanggar Surat Edaran (SE) Nomor 420/0026 tentang Penyelenggaraan Pelepasan Lulusan Sekolah.
Kholid menyayangkan adanya penarikan dana kepada siswa kelas bawah. “Sangat menyayangkan hal itu terjadi. Kurang pas ketika selain kelas 6 juga dimintai iuran, karena yang melaksanakan kegiatan kan hanya kelas 6 saja,” tegas Kholid.
Berdasarkan aturan, kegiatan pelepasan haruslah sederhana, inovatif, tidak memberatkan, dan wajib disetujui minimal 90% orang tua murid kelas akhir. Selain itu, dilarang keras menarik kontribusi dari orang tua kelas bawah serta acara harus dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Klaim Pihak Sekolah
Menanggapi polemik tersebut, Kepala SDN 01 Kalipancur, Surajak, memberikan klarifikasi. Ia mengklaim bahwa pihak sekolah tidak terlibat dalam teknis penarikan dana. Menurutnya, seluruh kegiatan telah diserahkan sepenuhnya kepada komite sekolah dan wali murid melalui musyawarah.
“Pihak sekolah menyatakan tidak ikut dan tidak tahu saat kegiatan tersebut dilaksanakan,” ujar Kholid, menirukan penjelasan pihak sekolah saat dikonfirmasi.
Suasana Haru dan Kekecewaan Siswa
Pembatalan acara ini menyisakan kesedihan mendalam bagi para siswa. Surajak mengungkapkan bahwa anak-anak telah berlatih tari dan mempersiapkan penampilan selama berhari-hari. Akibat pembatalan mendadak ini, banyak siswa yang menangis sedih.
Bagi Surajak sendiri, pembatalan ini memiliki kesan personal karena acara tersebut direncanakan menjadi momen perpisahan terakhir sebelum dirinya memasuki masa purna tugas sekitar empat bulan mendatang. Hingga saat ini, belum ada rencana kegiatan pengganti dari pihak sekolah maupun komite.
Kasus di SDN 01 Kalipancur ini kini menjadi peringatan keras bagi seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Pekalongan agar lebih cermat dan patuh terhadap aturan yang telah ditetapkan demi menjaga kondusivitas lingkungan pendidikan. (Andi Purwandi)










