close
KesehatanPendidikan

Putus Mata Rantai Stunting Sejak Remaja, UMPP Latih Kader Desa Jadi Konselor Sebaya

stunting remaja

PEKALONGAN, Warta Desa – Masalah stunting (tengkes) tidak hanya bermula saat anak lahir, melainkan jauh sebelumnya, yakni sejak masa remaja. Menyadari hal tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) turun ke desa untuk memperkuat peran Kader Stunting dan Kader Pashmina melalui program pelatihan Peer Educator (Pendidik Sebaya).

Program inovatif ini berhasil mendapatkan pendanaan bergengsi dari Hibah Pengabdian di Lingkungan Persyarikatan. Tim dipimpin oleh Bidan Fitriyani, SST., MPH, bersama tim ahli Bidan Leila Nisya Ayuanda, M.Keb dan Windha Widyastuti, MNS, serta melibatkan mahasiswa kebidanan, Arifa Maulida dan Ana Ayu Zulfa.

Mengapa Remaja?

Ketua tim pengabdian, Fitriyani, menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi remaja adalah kunci investasi kesehatan jangka panjang. Jika remaja sehat, paham gizi, dan terhindar dari pernikahan dini, maka risiko melahirkan bayi stunting di masa depan akan menurun drastis.

“Kami ingin para kader ini menjadi pendidik sebaya (peer educator). Remaja biasanya lebih nyaman curhat dan mendengar nasihat dari teman sebayanya sendiri daripada orang tua. Inilah yang kita sasar agar edukasi gizi dan kesehatan reproduksi lebih mudah masuk,” ujar Fitriyani.

Bekali Kader dengan Ilmu dan Keterampilan

Dalam pelatihan ini, para kader desa dibekali berbagai materi krusial, antara lain:

  • Kesehatan Reproduksi: Memahami fungsi dan kebersihan organ reproduksi.

  • Gizi Seimbang: Pola makan tepat bagi remaja untuk mencegah anemia.

  • Pencegahan Pernikahan Usia Dini: Mengedukasi kesiapan fisik dan mental sebelum berkeluarga.

  • Teknik Komunikasi: Cara menyampaikan informasi secara santun dan menarik agar diterima sesama remaja.

Membangun Generasi Berkualitas

Melalui pemberdayaan Kader Stunting dan Pashmina ini, UMPP berharap tercipta sistem edukasi yang berkelanjutan di tingkat desa. Para kader diharapkan tidak hanya sekadar punya ilmu, tapi aktif menjadi penggerak di lingkungannya.

“Keberhasilan meraih hibah ini membuktikan keselarasan program kami dengan nilai pemberdayaan masyarakat. Kami ingin mencetak calon orang tua yang berkualitas melalui perbaikan kesehatan sejak usia muda,” tambahnya.

Sivitas akademika UMPP memberikan apresiasi tinggi atas program ini. Model pelatihan kader berbasis pendidik sebaya ini diharapkan bisa direplikasi (dicontoh) oleh desa-desa lain di Pekalongan untuk bersama-sama mewujudkan generasi bebas stunting. (Davina)

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : remajastuntingumpp