PEKALONGAN, WARTADESA. – Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali mencatat sejarah akademik yang gemilang. Kampus yang akrab disapa UIN Gus Dur ini resmi mengukuhkan tiga Guru Besar baru pada Sabtu (6/6/2026). Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini digelar di Ball Room Lantai 3 Gedung Rektorat UIN Gus Dur.
Ketiga akademisi yang dikukuhkan tersebut adalah:
-
Prof. Dr. Abdul Khobir, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam)
-
Prof. Dr. H. Achmad Tubagus Surur, M.Ag. (Guru Besar Bidang Pemikiran Islam di Indonesia)
-
Prof. Moh Muslih, Ph.D. (Guru Besar Bidang Evaluasi Pendidikan Islam)
Dalam prosesi tersebut, ketiga Guru Besar menghadirkan gagasan besar melalui orasi ilmiah masing-masing. Gagasan tersebut menegaskan komitmen dan relevansi Islam dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, hingga ekologis kontemporer.
Sinergi Gagasan: Dari Ekologi, Ekonomi Syariah, hingga Pendidikan Digital
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Tarbiyah Lingkungan dalam Islam”, Prof. Abdul Khobir menyoroti pentingnya pendidikan Islam berbasis kesadaran ekologis. Ia menilai krisis lingkungan saat ini merupakan krisis moral dan spiritual manusia modern.
“Pendidikan Islam harus mampu membentuk karakter ekologis melalui integrasi nilai tauhid, etika lingkungan, dan tanggung jawab menjaga alam sebagai amanah kekhalifahan,” ucap Prof. Khobir.
Di sisi lain, Prof. Achmad Tubagus Surur mengangkat tema “Living Sharia Economics dalam Perspektif Habib Luthfi bin Yahya”. Ia menegaskan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar sistem bebas riba, melainkan tentang nilai spiritualitas, solidaritas sosial, dan pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal. Menurutnya, pemikiran Habib Luthfi mampu menghadirkan model ekonomi syariah yang humanis melalui penguatan UMKM, koperasi syariah, dan budaya gotong royong khas masyarakat Pekalongan.
Sementara itu, Prof. Moh Muslih, Ph.D. menyoroti urgensi transformasi peran guru di tengah derasnya arus teknologi dan budaya digital. Ia menegaskan bahwa guru di era modern bukan lagi sekadar penyampai ilmu, melainkan pembimbing karakter, penggerak perubahan sosial, dan penjaga nilai kemanusiaan.
“Pendidikan masa depan harus mampu memadukan kecakapan teknologi dengan penguatan moral, kreativitas, dan empati sosial peserta didik,” tegas Prof. Muslih.
Target 20 Guru Besar pada Tahun 2029
Ketiga pemikiran ini memiliki benang merah yang kuat, yaitu menghadirkan Islam sebagai solusi transformatif. Jika Prof. Surur menekankan transformasi ekonomi berbasis spiritualitas sosial dan Prof. Khobir menghadirkan pendidikan ekologis, maka Prof. Muslih mendorong pembaruan pendidikan yang humanis serta adaptif terhadap teknologi.
Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dalam sambutannya memberikan perumpamaan filosofis yang mendalam bagi ketiga Guru Besar baru ini. Ia mengibaratkan Prof. Khobir sebagai akar, Prof. Surur sebagai batang, dan Prof. Muslih sebagai cabang serta daun—yang bersama-sama bersinergi menyiapkan generasi unggul untuk masa depan yang lebih baik.
Prof. Zaenal mengingatkan bahwa gelar Guru Besar merupakan jabatan akademik tertinggi dan impian semua dosen, namun di dalamnya melekat tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual yang besar kepada ilmu pengetahuan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Pengukuhan besar hari ini melengkapi 13 guru besar yang sudah ada, dengan target mencapai 20 guru besar sampai tahun 2029. Rektor siap memberikan support penuhnya,” ungkap Prof. Zaenal.
Momentum bersejarah ini sekaligus memperkuat posisi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam kontribusi akademik Islam demi pembangunan masyarakat yang berkeadilan, berkelanjutan, dan humanis di tengah dinamika global.
Kontributor: Khairul Anwar










