PEKALONGAN – Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pekalongan melakukan terobosan dalam strategi pengelolaan zakat. Para amil kini ditekankan untuk mendalami dan mengeksplorasi kondisi nyata para mustahik (penerima zakat) sebagai langkah awal sebelum melakukan penghimpunan dana.
Pesan kuat tersebut disampaikan oleh Manajer Lazismu Kabupaten Pekalongan, Sutiknyo, S.TP, dalam agenda pembekalan keterampilan amil yang berlangsung pada Selasa, 31 Maret 2026, di Kantor Lazismu setempat, Jalan Pahlawan No. 10 Gejlik, Kajen.
Geser Pola Pikir: Mustahik Dulu, Baru Donatur
Sutiknyo mengajak para amil untuk mengubah pandangan lama yang menganggap penghimpunan dana harus selalu mendahului aksi. Selama ini, jargon “tanpa dana tidak ada kegiatan” kerap menjadi sekat.
“Mulai saat ini coba kita ubah pandangan tersebut. Sebelum menggalang dana, kita pahami dulu kondisi dan kebutuhan riil mustahik. Baru kemudian kita sampaikan kondisi tersebut kepada para donatur,” tegas Sutiknyo.
Ia menambahkan bahwa amil harus berperan sebagai penyambung lidah yang efektif. Menurutnya, selama ini komunikasi amil kepada donatur terlalu kaku pada program lembaga, sehingga donatur sering kali tidak memiliki ikatan emosional atau mengenal siapa sosok yang mereka bantu.
Amil Sebagai Profesi Mulia dan Inovatif
Dalam arahannya, Sutiknyo mengingatkan bahwa profesi amil memiliki kedudukan mulia yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 103. Ia menekankan bahwa amil masuk dalam golongan asnaf (penerima zakat) karena beban tugasnya, bukan karena status ekonominya.
Oleh karena itu, ia menuntut para amil untuk tidak bekerja ala kadarnya:
-
Terus Berinovasi: Mencari cara terbaik agar mustahik mendapatkan hak yang seharusnya.
-
Distribusi Keadilan: Mengacu pada Surat Al-Hasyr Ayat 7, amil bertugas memastikan harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja.
Urgensi Empati dan Militansi
Senada dengan hal tersebut, Divisi Fundraising Lazismu Kabupaten Pekalongan, Wahyudin, SH, menyambut positif arahan tersebut. Menurutnya, aspek assessment atau penggalian sisi unik dari kondisi mustahik adalah kunci keberhasilan program bantuan.
“Dengan menggali sisi unik mustahik, kita bisa menilai bagian mana yang paling krusial untuk dibantu. Menjadi amil itu harus peka, berempati, dan militan,” ujar Wahyudin. Ia meyakini bahwa dengan totalitas membantu sesama, para amil pun akan mendapatkan kemudahan dan bantuan dari Allah SWT. (Nanang)










