Oleh: Farah Naila Amani
PENDAHULUAN
Air bersih dan sanitasi layak merupakan hak dasar manusia yang sangat esensial bagi kelangsungan hidup, kualitas kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Kendati demikian, hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi kendala serius dalam mewujudkan akses universal terhadap air minum yang aman dan sanitasi yang layak bagi seluruh penduduknya.
Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Pekerjaan Umum pada bulan Maret 2025, tercatat sekitar 28 juta warga negara Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses air minum yang layak setiap harinya. Di mana hampir 10% dari total populasi di Indonesia belum memiliki akses terhadap pasokan air bersih yang memadai.
Krisis kekeringan berskala luas yang melanda pada tahun 2026 menjadikan situasi semakin memprihatinkan. Fenomena ini berdampak pada 13 provinsi. Sebagai contoh, sebanyak 61.504 kepala keluarga di Provinsi Jawa Barat menghadapi kesulitan dalam memperoleh air bersih akibat mengeringnya sumur-sumur warga. Lebih lanjut, pasca terjadinya bencana banjir di Aceh Tamiang pada akhir tahun 2025, sebanyak 76% warga masih terjebak dalam krisis air bersih dan sanitasi hingga bulan Februari 2026.
Permasalahan serupa juga terjadi di wilayah pesisir, di mana persoalan sanitasi menjadi aspek yang sangat krusial. Berdasarkan hasil audit sosial, diketahui bahwa 41% rumah tangga di area pesisir masih belum memiliki akses terhadap sanitasi yang aman.
Kondisi tersebut semakin menegaskan urgensi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 6, yakni Air Bersih dan Sanitasi Layak, di Indonesia. Target ini berfokus pada penyediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi seluruh penduduk pada tahun 2030.
PEMBAHASAN
2.1. Kompleksitas Permasalahan Akses Air Bersih dan Sanitasi
Saat ini, Indonesia dihadapkan pada sejumlah permasalahan kritis terkait infrastruktur dan aksesibilitas air bersih serta sanitasi yang layak:
- Krisis Akses Air Bersih yang Meluas Kurang lebih 28 juta penduduk Indonesia masih kesulitan memperoleh akses air minum yang layak setiap hari, yang berarti hampir 1 dari 10 orang belum terpenuhi hak dasar atas air bersih. Situasi ini diperburuk oleh bencana kekeringan pada tahun 2026 yang melanda 13 provinsi. Dalam musibah tersebut, tercatat 741 kepala keluarga mengalami krisis air secara umum, serta 61.504 KK di Jawa Barat kekurangan air akibat sumur yang kering.
- Ketimpangan Akses Antarwilayah yang Signifikan Data perbandingan ketersediaan akses memperlihatkan kesenjangan yang mencolok, berikut adalah tabel representasi persentase ketersediaan air minum layak:
Tabel 1. Persentase Ketersediaan Akses Air Minum Layak di Indonesia
| Kategori / Wilayah | Persentase Akses (%) |
| DKI Jakarta | 99,96% |
| Papua Pegunungan | 30,64% |
| Kawasan Perkotaan | 96,56% |
| Kawasan Perdesaan | 87,06% |
- Dampak Bencana Terhadap Akses Air dan Sanitasi Bencana alam berkontribusi besar pada kerusakan infrastruktur air. Pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, 76% masyarakat kesulitan mendapat air bersih dan akses toilet yang layak hingga Februari 2026. Di Padang, rusaknya Bendungan Batang Kuranji turut menyebabkan gangguan besar dalam pasokan air bersih bagi area terdampak.
- Krisis Sanitasi di Daerah Pesisir Area pesisir kerap terlupakan dalam pembangunan sanitasi. Data menunjukkan 41% rumah tangga di kawasan ini belum memiliki sanitasi yang aman, dan baru 20% yang terkoneksi dengan perpipaan air bersih.
- Infrastruktur yang Tidak Merata dan Rentan Mayoritas daerah masih bergantung pada sumber air konvensional yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem (kekeringan).
2.2. Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Krisis air bersih dan sanitasi memiliki hubungan langsung dengan SDGs, yang mencakup target-target krusial:
- Mewujudkan akses universal dan setara terhadap air minum yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh manusia pada tahun 2030.
- Mewujudkan akses yang memadai dan merata terhadap sanitasi dan higiene, serta mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.
2.3. Signifikansi Penyelesaian Masalah
Penyelesaian isu krisis air dan sanitasi membawa implikasi luas pada berbagai sektor esensial, antara lain:
- Dampak Kesehatan Masyarakat: Ketiadaan sanitasi yang memadai dan konsumsi air yang tidak bersih menjadi pemicu utama munculnya penyakit menular, seperti diare, kolera, tipus, hingga permasalahan stunting pada anak.
- Dampak Ekonomi: Defisit pasokan air bersih memberikan efek domino yang negatif pada kegiatan perekonomian, khususnya pada sektor krusial seperti pertanian, industri manufaktur, dan sektor UMKM.
- Dampak Pendidikan: Sekolah-sekolah di zona terdampak kekeringan sering kali terpaksa ditutup sementara waktu.
- Dampak Sosial dan Keadilan: Kesenjangan ketersediaan air adalah cerminan dari ketidakadilan struktural yang mengakar.
- Dampak Lingkungan: Buruknya sistem sanitasi mengakibatkan terjadinya pencemaran berat pada sumber air, aliran sungai, hingga kawasan laut, yang pada akhirnya akan merusak ekosistem serta keanekaragaman hayati secara permanen.
Tabel 2. Rangkuman Dampak Krisis Air Berdasarkan Wilayah (2025-2026)
| Lokasi Wilayah | Dampak Spesifik | Periode Pendataan |
| 13 Provinsi di Indonesia | Ratusan ribu jiwa kekurangan air akibat krisis kekeringan meluas | 2026 |
| Jawa Barat | 61.504 kepala keluarga terdampak krisis air akibat sumur kering | 2026 |
| Aceh Tamiang | 76% warga mengalami krisis sanitasi (jamban/WC) dan air bersih pascabanjir | Akhir 2025 – Februari 2026 |
| Area Pesisir | 41% rumah tangga tanpa sanitasi aman, 80% tidak terhubung perpipaan air bersih | Berdasarkan Audit Sosial |
2.4. Peran Strategis Mahasiswa
Mahasiswa, khususnya dari disiplin ilmu program studi Informatika, dituntut untuk memegang peran krusial dalam mengakselerasi pencapaian SDGs Tujuan 6. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui tiga aspek:
- Sebagai Pelopor Inovasi Teknologi: Berbekal kompetensi di bidang teknologi informasi, mahasiswa mampu merancang dan mengembangkan solusi digital berbasis komputasi data, yang berfungsi untuk memonitor, memprediksi, sekaligus mengelola mitigasi krisis air.
- Sebagai Peneliti dan Analis Data: Mahasiswa dapat terjun melakukan riset lapangan, agregasi data, serta analisis komprehensif terkait pola krisis ketersediaan air guna menyusun rekomendasi berbasis bukti (evidence-based policy) bagi para pembuat kebijakan.
- Sebagai Relawan dan Edukator: Mahasiswa dapat menginisiasi dan berpartisipasi aktif dalam program pengabdian masyarakat guna mengedukasi warga tentang vitalnya sanitasi, praktik higiene yang benar, serta langkah-langkah penghematan air.
GAGASAN INOVATIF MAHASISWA
Sebagai mahasiswa S1 Informatika yang peka terhadap eskalasi krisis air bersih dan sanitasi di tanah air, penulis merumuskan sebuah gagasan inovatif berupa “Platform Edukasi Sanitasi dan Higiene Digital”. Platform ini dirancang sebagai aplikasi atau situs web yang bersifat interaktif, dengan tujuan utama meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat luas, serta lingkungan institusi pendidikan (sekolah), mengenai betapa pentingnya sanitasi, higiene, dan upaya konservasi sumber daya air.
Untuk mengoptimalkan fungsionalitasnya, platform digital ini akan mengintegrasikan beberapa fitur unggulan, di antaranya:
- Konten Multimedia Edukatif: Menyajikan materi yang dikemas secara modern melalui video, animasi, dan infografis yang mudah dipahami.
- Gamifikasi dan Kuis Interaktif: Mengimplementasikan elemen permainan dan evaluasi ringan agar proses penyerapan informasi (pembelajaran) berjalan lebih menyenangkan dan efektif.
- Ruang Diskusi Interaktif: Menyediakan forum tanya jawab dan diskusi guna memfasilitasi interaksi yang produktif antar pengguna platform.
- Modul Khusus Institusi Pendidikan: Mengakomodasi materi ajar terstruktur yang secara langsung dapat diakses, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh tenaga pendidik (guru) dan siswa di sekolah.
PENUTUP
Melalui sinergi inovasi, kolaborasi berkelanjutan, dan dedikasi yang konsisten, mahasiswa informatika memiliki kapasitas untuk menciptakan disrupsi positif yang berdampak luas. Langkah tersebut dapat direalisasikan dalam berbagai spektrum, mulai dari kampanye kesadaran masif di media sosial, inisiasi program pendidikan di tengah masyarakat, hingga fase pengembangan prototipe teknologi tepat guna berbasis digital. Hal yang paling esensial adalah mengambil langkah awal dari saat ini, dari ruang lingkup terkecil, dan dengan memanfaatkan kapasitas keilmuan yang dimiliki.
Tanggung jawab tersebut tentu turut bersandar di pundak generasi muda yang nantinya akan memegang tongkat estafet peradaban dalam melestarikan planet ini.
REFERENSI
- com. (2026, 7 Agustus). Kekeringan Meluas, Saatnya Beralih dari Respons Darurat ke Adaptasi Terencana. Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2026/08/07/05281331/kekeringan-meluas-saatnya-beralih-dari-respons-darurat-ke-adaptasi-terencana
- BPSDM Kementerian PUPR. (2025). 28 Juta Warga Belum Terlayani Air Bersih, BPSDM Dorong Penguatan SDM Lewat Program Magister Super Spesialis di ITB. BPSDM PUPR. https://bpsdm.pu.go.id/v2/bacaberita/28-juta-warga-belum-terlayani-air-bersih-bpsdm-dorong-penguatan-sdm-lewat-program-magister-super-spesialis-di-itb-
- Badan Pusat Statistik. (2025). Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Layak Menurut Provinsi dan Klasifikasi Desa (Persen). BPS. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/ODU0IzI=/persentase-rumah-tangga-yang-memiliki-akses-terhadap-sumber-air-minum-layak-menurut-provinsi-dan-klasifikasi-desa–persen-.html
- id. (2026, 2 Agustus). Buntut Kekeringan, Warga Mulai Kekurangan Air Bersih. RM.id. https://rm.id/baca-berita/nasional/320034/buntut-kekeringan-warga-mulai-kekurangan-air-bersih
- Koalisi Nasional Pemantau Investasi dan Sumber Daya Air (KNTI). (2025, 16 Oktober). Policy Brief: Wujudkan Akses Air Minum yang Aman dan Sanitasi Layak bagi Perempuan Pesisir. KNTI. https://knti.or.id/policy-brief-wujudkan-akses-air-minum-yang-aman-dan-sanitasi-layak-bagi-perempuan-pesisir/
Penulisa adalah Mahasiswa S1 Prodi Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP










