close
Opini

Dari Kampus untuk Masyarakat: Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Mewujudkan SDG 3

Salwa Himmatul Ulya.jpg

Oleh: Salwa Himmatul Ulya

 

Pendahuluan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menentukan kualitas hidup. Masyarakat yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, bekerja, beraktivitas, dan berkontribusi dalam pembangunan. Namun, masalah kesehatan masih menjadi tantangan di Indonesia. Persoalan seperti stunting, kekurangan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta ketimpangan akses pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan. Upaya promotif dan preventif, peningkatan kualitas pelayanan, serta keterlibatan masyarakat juga diperlukan.

Salah satu tujuan pembangunan global yang secara langsung membahas persoalan tersebut adalah Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 atau Good Health and Well-being. SDG 3 bertujuan menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada segala usia. Tujuan ini berkaitan dengan berbagai aspek, seperti pencegahan penyakit, kesehatan ibu dan anak, akses pelayanan kesehatan, serta peningkatan kualitas hidup. Dalam mencapai tujuan tersebut, mahasiswa sebagai generasi muda dan calon tenaga kesehatan memiliki peluang untuk ikut mengambil bagian melalui pendidikan, kegiatan sosial, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Pembahasan

Permasalahan kesehatan perlu diperhatikan karena dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Salah satu contohnya adalah masalah kesehatan ibu dan anak. Penelitian Prasetyo et al. (2025) menggunakan data dari 38 provinsi di Indonesia tahun 2024 dan menunjukkan adanya hubungan antara kondisi kesehatan serta status gizi ibu dengan kunjungan antenatal pertama. Kekurangan energi kronis menjadi salah satu kondisi yang berkaitan dengan rendahnya pemanfaatan kunjungan antenatal. Padahal, pemeriksaan antenatal dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi risiko kehamilan, memberikan dukungan gizi, imunisasi, dan edukasi kesehatan.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan ibu sejak masa kehamilan merupakan bagian penting dalam mendukung SDG 3.

Masalah kesehatan masyarakat juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas pelayanan. Pelayanan yang baik bukan hanya tentang tersedianya fasilitas dan tenaga kesehatan, tetapi juga tentang bagaimana pasien diperlakukan. Hidayat, Mimanda, dan Maikel (2025) menunjukkan bahwa responsiveness, yang mencakup dukungan emosional, komunikasi efektif, dan sikap menghargai pasien, berkaitan dengan kepuasan pasien. Bagi keperawatan, temuan ini penting karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang sering berinteraksi langsung dengan pasien. Komunikasi yang jelas dan empatik dapat membantu pasien memahami kondisi serta mengikuti anjuran kesehatan.

Selain pelayanan, kebijakan dan kondisi sosial juga memengaruhi pencapaian kesehatan. Meher dan Zaluchu (2024) membahas bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan kesehatan masyarakat, termasuk stunting dan masalah kesehatan ibu serta anak. Permasalahan tersebut membutuhkan kebijakan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga didukung perencanaan dan pelaksanaan yang menyeluruh. Artinya, penyelesaian masalah kesehatan memerlukan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan generasi muda.

Hubungan antara keperawatan dan SDG 3 juga terlihat dalam perkembangan penelitian. Holmberg dan Ahlstrom (2025) memetakan publikasi penelitian keperawatan mengenai SDGs dan menemukan bahwa SDG 3 menjadi salah satu tujuan yang banyak mendapat perhatian dalam penelitian keperawatan. Namun, penelitian yang secara khusus menghubungkan keperawatan dengan SDGs masih terbatas. Karena itu, mahasiswa keperawatan tidak hanya perlu belajar keterampilan klinis, tetapi juga memahami persoalan kesehatan masyarakat dan mampu melihat bagaimana ilmu keperawatan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Hal tersebut juga sejalan dengan Upvall dan Luzincourt (2019) yang membahas pentingnya memasukkan SDGs dalam pendidikan keperawatan. Menurut mereka, mahasiswa keperawatan dapat belajar menjadi bagian dari masyarakat dan bekerja sama dengan komunitas untuk membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan. Dari sini, saya melihat bahwa pembelajaran di kampus sebenarnya tidak hanya berguna untuk menghadapi dunia kerja, tetapi juga bisa menjadi bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut saya, permasalahan tersebut penting diselesaikan karena kesehatan tidak hanya menentukan kondisi seseorang pada saat ini, tetapi juga memengaruhi masa depan keluarga dan masyarakat. Ketika masyarakat memiliki akses pelayanan kesehatan yang baik dan pengetahuan yang cukup, risiko masalah kesehatan dapat dikurangi.

Sebaliknya, kurangnya pengetahuan, keterlambatan mencari pertolongan, dan keterbatasan akses dapat membuat masalah kesehatan menjadi lebih berat. Oleh karena itu, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh di kampus dan kebutuhan masyarakat.

 

Gagasan/Aksi Mahasiswa

Salah satu gagasan yang realistis adalah membuat program edukasi kesehatan berbasis mahasiswa dengan nama “Kampus Sehat, Masyarakat Sehat”. Program ini dapat dilakukan melalui kegiatan organisasi mahasiswa, pengabdian masyarakat, atau kerja sama dengan puskesmas dan lingkungan sekitar kampus. Kegiatannya tidak harus besar. Mahasiswa dapat memulai dari penyuluhan singkat mengenai pola hidup bersih dan sehat, gizi seimbang, pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, serta pentingnya memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Program tersebut juga dapat memanfaatkan media digital agar jangkauannya lebih luas. Mahasiswa dapat membuat poster, infografis, video pendek, atau konten edukasi berdasarkan sumber kesehatan yang terpercaya. Informasi yang disampaikan harus menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Selain itu, mahasiswa dapat melakukan survei sederhana sebelum dan sesudah edukasi untuk mengetahui apakah pengetahuan peserta mengalami peningkatan. Hasil kegiatan dapat didokumentasikan dan dikembangkan menjadi penelitian mahasiswa.

Sebagai mahasiswa keperawatan, kegiatan tersebut juga harus disesuaikan dengan kompetensi dan tetap berada dalam batas kewenangan mahasiswa. Mahasiswa tidak menggantikan tenaga kesehatan profesional, tetapi membantu menyebarkan informasi kesehatan, meningkatkan kesadaran, dan mengarahkan masyarakat kepada pelayanan kesehatan ketika ditemukan masalah yang membutuhkan pemeriksaan. Dengan demikian, aksi mahasiswa menjadi realistis, aman, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut saya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya peserta, tetapi juga dari keberlanjutan kegiatan dan perubahan pengetahuan atau perilaku. Program dapat dilakukan secara berkala, misalnya satu kali setiap bulan, dengan tema kesehatan yang berbeda. Mahasiswa juga dapat bekerja sama dengan organisasi kampus, dosen, puskesmas, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut membuat kegiatan lebih terarah sekaligus memberi pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelaja

SDG 3 merupakan tujuan pembangunan yang sangat penting karena kesehatan menjadi dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang produktif dan sejahtera. Berbagai masalah seperti gizi buruk, stunting, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas pelayanan menunjukkan bahwa pencapaian kehidupan sehat dan sejahtera membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Penelitian juga menunjukkan pentingnya pelayanan yang responsif, perhatian terhadap kesehatan ibu, serta kontribusi keperawatan dalam pencapaian SDGs.

Mahasiswa keperawatan tidak harus menunggu menjadi tenaga kesehatan profesional untuk mulai berkontribusi. Dari lingkungan kampus, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan melalui edukasi, organisasi, penelitian, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, menurut saya, ilmu yang diperoleh di kampus seharusnya tidak hanya digunakan untuk mendapatkan nilai atau gelar, tetapi juga sebagai sarana untuk memberikan manfaat. Dengan keterlibatan generasi muda sejak sekarang, pencapaian SDG 3 dapat didukung dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang sehat menuju Indonesia Emas 2045.

 

Daftar Referensi

Hidayat, D. H. Z., Mimanda, Y., & Maikel, M. P. (2025). The impact of responsiveness on patient satisfaction: Ensuring healthy lives and well-being through Sustainable Development Goal 3. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 6(1), 21–30. https://doi.org/10.46456/jisdep.v6i1.640

Holmberg, C., & Ahlstrom, L. (2025). Nursing research on the United Nations Sustainable Development Goals—A bibliometric analysis. Journal of Advanced Nursing, 81(12), 8256–8265. https://doi.org/10.1111/jan.16953

Meher, C., & Zaluchu, F. (2024). Public health policy and political contestation in Indonesia. Journal of Public Health in Africa, 15(1), 646. https://doi.org/10.4102/jphia.v15i1.646

Prasetyo, A., Hariastuti, I., Sugiharti, S., Wijayanti, U. T., Wahyudianto, H., Fuada, N., Tjandrarini, D. H., Kusrini, I., Widodo, Y., Rachmawati, R., Salimar, & Setyawati, B. (2025). Nutritional and health factors influencing first antenatal visit among pregnant women in Indonesia. Frontiers in Public Health, 13, 1715230. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1715230

Upvall, M. J., & Luzincourt, G. (2019). Global citizens, healthy communities: Integrating the sustainable development goals into the nursing curriculum. Nursing Outlook, 67(6), 649–657. https://doi.org/10.1016/j.outlook.2019.04.004

Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Indonesia Voluntary National Review 2025. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

World Health Organization. (2024). Indonesia: Health SDG Profile 2024. World Health Organization.

World Health Organization. (2025). Global Nutrition Targets 2030: Stunting Brief. World Health Organization.

World Health Organization. (n.d.). Targets of Sustainable Development Goal 3. World Health Organization.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : peran mahasiswaumpp