Oleh: Muhammad Ryan Gunawan
Pengenalan Penulis
Nama saya adalah Muhammad Ryan Gunawan, saya biasa dipanggil Ryan, dan saya merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, saya lahir di Sukoharjo, namun saya berdomisili di Pekalongan, walaupun saya berdomisili Pekalongan tapi saya tetap lebih lama tinggal di Sukoharjo pada 7 tahun terakhir, saya berada di pondok pesantren selama 7 tahun dan itu membuat saya sedikit kaget dengan dunia perkuliahan, tapi dengan meneguhkan hati dan langkah saya ucapkan bismillah, semoga di dalam dunia perkuliahan ini dapat menjadi jembatan untuk menggapai cita cita saya.
Pendahuluan
Generasi Z (Gen Z), yang lahir dalam rentang pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era lompatan teknologi digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai generasi digital native, mereka tidak hanya menggunakan teknologi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadikan ekosistem digital sebagai tempat berinteraksi, belajar, dan membangun mata pencaharian. Fenomena ini menempatkan Gen Z pada posisi strategis sebagai calon pemegang kendali utama struktur ekonomi dan perkembangan teknologi global di masa depan. Dalam disiplin ilmu Informatika, keberadaan teknologi komputer dan sistem informasi bukan lagi sekadar infrastruktur teknis, melainkan fondasi utama pembentukan nilai-nilai ekonomi baru. Namun, transisi menuju era ekonomi berbasis teknologi ini tidak terjadi tanpa hambatan. Agar Gen Z mampu menjalankan perannya secara optimal, potensi digital yang mereka miliki harus diselaraskan dengan kesempatan kerja yang adil dan produktif. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk menganalisis peran Gen Z dalam mengendalikan ekonomi dan teknologi masa depan, tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi, serta kontribusi konkret mahasiswa Informatika dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs).
Pembahasan
Meskipun Gen Z dikenal sangat adaptif terhadap teknologi, realitas lapangan kerja digital saat ini menunjukkan sejumlah permasalahan krusial. Salah satu masalah utama adalah jurang pemisah keterampilan digital (digital skill gap). Tingginya tingkat penggunaan media sosial dan aplikasi konsumtif tidak secara otomatis berkorelasi dengan pemahaman mendalam tentang logika pemrograman, analisis data, atau keamanan siber. Di samping itu, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan otomatisasi mengancam hilangnya berbagai jenis pekerjaan konvensional tingkat pemula (entry-level). Fenomena lain yang memprihatinkan adalah maraknya gig economy—seperti pekerjaan lepas berbasis aplikasi—yang sering kali tidak menawarkan kepastian pendapatan, perlindungan hukum, maupun jaminan kesehatan. Akibatnya, sebagian besar Gen Z terjebak dalam kondisi kerja yang rentan dan tidak berkelanjutan.
Permasalahan di atas berkaitan erat dengan SDGs Poin 8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Salah satu target utama dari SDGs Poin 8 adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja yang produktif, serta memastikan pekerjaan yang layak bagi semua perempuan dan laki-laki, termasuk kaum muda. Ketimpangan keterampilan digital dan tidak adanya jaminan kerja pada ranah gig economy membatasi kemampuan Gen Z untuk berkontribusi secara penuh pada pertumbuhan ekonomi formal. Tanpa adanya intervensi, disrupsi teknologi berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi baru alih-alih kesejahteraan bersama.
Menyelesaikan permasalahan ini merupakan hal yang sangat mendesak. Bonus demografi yang dialami banyak negara, termasuk Indonesia, akan menjadi sia-sia jika angkatan kerja muda tidak dibekali keterampilan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri. Jika Gen Z hanya diposisikan sebagai konsumen teknologi dan tenaga kerja murah dalam pasar digital yang tidak teregulasi, maka target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak akan tercapai. Sebaliknya, apabila Gen Z dibekali keahlian teknis bernilai tinggi, mereka dapat mentransformasi lanskap ekonomi melalui inovasi, efisiensi sistem, dan pembentukan lapangan kerja baru berbasis teknologi.
Sebagai bagian dari Gen Z yang menempuh pendidikan tinggi di bidang Informatika, mahasiswa memiliki peran unik dan strategis. Mahasiswa Informatika bertindak sebagai jembatan antara teori ilmu komputer teoritis dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Lebih dari sekadar calon pekerja, mahasiswa Informatika adalah agent of change yang memegang kapasitas teknis untuk merancang solusi lunak (software solutions) yang relevan dengan tantangan sosial-ekonomi. Dengan pemahaman mendalam mengenai arsitektur perangkat lunak, manajemen basis data, dan algoritma, mahasiswa Informatika berpotensi menciptakan ekosistem digital yang adil dan inklusif.
Gagasan
Sebagai bentuk aksi nyata dalam mendukung SDGs Poin 8 dan memperkuat posisi Gen Z di panggung ekonomi digital, gagasan yang ditawarkan adalah pengembangan sebuah platform digital berbasis sumber terbuka (open-source) bernama “InkluSKILL”. Platform ini dirancang dan dikembangkan oleh mahasiswa Informatika untuk menyelesaikan dua masalah utama: skill gap dan ketidakpastian kerja layak.
Secara teknis, platform ini memiliki tiga fitur utama:
- Modul Pembelajaran Keterampilan Komputer Terapan: Menyediakan jalur pembelajaran (learning path) gratis yang berfokus pada keahlian Informatika berorientasi industri, seperti web development, data science, dan cybersecurity fundamentals.
- Sistem Pencocokan Kerja Berbasis AI yang Transparan: Menggunakan algoritma pencocokan kompetensi yang mengedepankan prinsip kesetaraan, memastikan para pekerja muda mendapatkan proyek atau pekerjaan sesuai standar upah layak dan perlindungan hak kerja.
- Inkubasi Inovasi UMKM Digital: Mengintegrasikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dengan mahasiswa serta talenta muda Informatika untuk memodernisasi sistem operasional UMKM melalui pemanfaatan perangkat lunak (Software-as-a-Service sederhana).
Aksi mahasiswa dimulai dari skala kampus melalui pembentukan komunitas pengembang (developer circle) yang membina pemuda di sekitar lingkungan perguruan tinggi, sebelum akhirnya menskalakan platform ini melalui kerja sama dengan pihak pemerintah lokal dan industri.
Penutup
Generasi Z memiliki potensi tak terbatas untuk menjadi pemegang kendali ekonomi dan teknologi di masa depan. Walupun demikian, potensi ini terhalang oleh tantangan berupa digital skill gap, disrupsi otomatisasi, dan ketiadaan jaminan kerja layak pada sektor digital. Melalui kerangka SDGs Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), permasalahan ini harus ditangani secara sistematis. Mahasiswa Informatika, melalui penguasaan teknologi dan kepedulian sosial, memegang peran kunci dalam menghadirkan solusi konkret. Inisiatif seperti platform “InkluSKILL” membuktikan bahwa penguasaan teknologi di tangan generasi muda dapat dioptimalkan tidak hanya untuk profitabilitas, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, inklusif, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Referensi
- International Labour Organization. (2022). Global Employment Trends for Youth 2022: Investing in transforming futures for young people. Geneva: ILO.
- United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. Resolution adopted by the General Assembly on 25 September 2015 (A/RES/70/1).
- Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum.
- World Bank. (2021). Beyond Unicorns: Harnessing Digital Technologies for Inclusion in Indonesia. Washington, DC: World Bank.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi S1 Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP










