close
Opini Warga

Kenyangkan Otak dengan Gagasan, Jangan Mau Didesak Amplop Syukuran Tolak Uangnya!! Pilih Pemimpin yang Kompeten Demi Masa Depan Anak dan Cucu Kita Semua Masyarakat Sikayu

template berita foto warta desa(1)

Oleh: Sofyan, S.Ag

Fokus: Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Sikayu

Peringatan Utama: Masa depan desa kita tidak sedang dilelang. Menerima uang dari calon kepala desa sama saja menjual hak kita untuk menuntut pelayanan yang baik.

Mengapa Harus Pakai Otak, Bukan Perut?

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) adalah momentum krusial yang menentukan arah masa depan desa selama 8 tahun. Desa merupakan benteng pertahanan ekonomi, sosial, dan administratif paling bawah yang menyentuh kehidupan warga sehari-hari. Sayangnya, perhelatan politik tingkat desa kerap dikotori oleh praktik politik uang (money politics) berkedok “amplop syukuran”, “uang bensin”, atau “tali asih”.

Untuk mengubah pola pikir masyarakat, argumen yang disampaikan harus realistis, masuk akal, dan menyentuh kehidupan mereka sehari-hari melalui narasi “Memilih dengan Otak, Bukan Perut”.

1. Matematika Sederhana yang Merugikan

Banyak orang menganggap uang amplop nominal Rp 200.000 sebagai rezeki instan. Namun, mari kita hitung secara matematis:

  • Masa Jabatan: 8 Tahun = 96 Bulan = 2.920 Hari

  • Nilai Suara Per Bulan: Rp 200.000 ÷ 96 bulan = Rp 2.083 per bulan

  • Nilai Suara Per Hari: Rp 200.000 ÷ 2.920 hari = Rp 69 per hari

Logikanya: Menukar kualitas fasilitas desa, jalanan yang bagus, dan pelayanan publik selama 8 tahun hanya demi Rp 69 sehari adalah transaksi paling rugi dalam hidup. Rp 69 per hari bahkan tidak cukup untuk membeli sebatang korek api kayu atau sekadar menyeduh segelas teh hangat.

2. Hukum “Investasi dan Pengembalian Modal”

Dalam ilmu ekonomi dasar, tidak ada uang yang keluar tanpa harapan kembali.

Logikanya: Pemimpin yang membagikan uang puluhan hingga ratusan juta saat kampanye sedang melakukan investasi bisnis, bukan pengabdian. Ketika menjabat, fokus utamanya adalah mengembalikan modal beserta keuntungan bunga politiknya (melalui pengkondisian Dana Desa, komisi proyek pembangunan yang dipangkas, atau perizinan desa). Akibatnya, pembangunan desa akan terbengkalai dan berpotensi korupsi secara masif.

3. Membunuh Potensi Calon Berkualitas

Logikanya: Jika indikator memilih adalah tebalnya amplop, maka warga secara otomatis menutup pintu bagi calon kepala desa yang cerdas, jujur, dan berintegritas hanya karena mereka tidak punya uang untuk membagi amplop. Desa akhirnya dipimpin oleh orang yang kaya, bukan orang yang bisa bekerja. Jabatan Kepala Desa bergeser dari wadah pelayanan rakyat menjadi panggung gengsi kekayaan, sementara warga kehilangan pemimpin yang kompeten.

4. Dampaknya Terasa Langsung di Dapur Sendiri

Logikanya: “Isi perut” dari amplop hanya bertahan 1–2 hari. Namun, keputusan yang salah akan membuat jalan desa rusak bertahun-tahun, bantuan sosial (Bansos) salah sasaran, dan pengurusan administrasi jadi sulit. Pada akhirnya, “perut” warga sendiri yang akan makin menjerit di kemudian hari. Kerusakan ini terasa nyata pada tiga sektor utama:

  • Sektor Infrastruktur Desa: Proyek pembangunan jalan atau drainase dikerjakan secara asal-asalan karena anggarannya disunat demi mengembalikan modal kampanye. Akibatnya, jalanan desa berlubang dan rusak bertahun-tahun, memperlambat pengangkutan hasil panen, serta melambungkan biaya perbaikan kendaraan warga.

  • Sektor Bantuan Sosial (Bansos): Pendataan penerima bantuan sosial tidak lagi didasarkan pada tingkat kemiskinan yang objektif, melainkan dibagikan kepada tim sukses dan pendukung politik. Akibatnya, warga miskin yang benar-benar berhak malah terlewatkan, memicu kecemburuan sosial dan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat.

  • Sektor Pelayanan Administrasi: Tata kelola birokrasi desa menjadi lambat, berbelit-belit, dan sarat akan praktik pungutan liar (pungli) untuk pengurusan surat-surat. Masyarakat tersiksa dan dirugikan baik secara waktu maupun biaya setiap kali membutuhkan dokumen kependudukan, sertifikat, atau perizinan.

“Amplopnya habis dalam semalam, tapi jalan rusak, bansos tidak adil, dan pelayanan buruk harus kita pikul selama 8 tahun berturut-turut.”

5. Kesimpulan & Penutup

Gerakan anti money politics di tingkat desa (Pilkades) sangat krusial, karena desa adalah pondasi awal pemerintahan. Narasi “Memilih dengan Otak, Bukan Perut” menantang warga untuk berpikir rasional jangka panjang daripada tergiur keuntungan instan.

Masa depan desa kita tidak sedang dilelang. Menerima uang dari calon kepala desa sama saja menjual hak kita untuk menuntut pelayanan yang baik. Kalau dia harus “membeli” suaramu pakai uang, berarti dia tahu dia tidak punya gagasan dan kemampuan untuk meyakinkanmu memakai otak.

  • Gunakan otakmu: Pilih yang punya program nyata.

  • Tutup perutmu: Jangan mau ditukar dengan lembaran uang yang habis dalam semalam.

Demi masa depan yang baik untuk anak dan cucu kita semua masyarakat Sikayu.

Terkait
Tak kuat menanjak, mobil bak terbuka masuk sungai

Pemalang, Wartadesa. - Akibat tak kuat menanjak, mobil bak terbuka yang sarat penumpang terjadi di Dukuh Soka Tapa, Desa Plakatan Read more

Merancang keberlangsungan media komunitas

Oleh: Buono Pewarta warga saat ini menjadi trend. Banyak media mainstream yang merangkul pewarta warga dalam kanal jurnalisme warga. Meski Read more

Sepenggal kisah Warta Desa dalam acara Jagongan Media Rakyat

Oleh: Buono Kehadiran Warta Desa (https://www.wartadesa.net) dalam acara dua tahunan Jagongan Media Rakyat (JMR) yang digelar oleh Combine Resources Institution Read more

Video warga ini keluhkan kondisi sejumlah jalan di Pemalang

Pemalang, Wartadesa. - Kondisi sarana-prasarana jalan di sejumlah wilayah Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah dikeluhkan oleh warga. Salah satunya akun Fibantul Elevent Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : pemalangPilkadesPilkades Serentak