WARTADESA, PEKALONGAN – Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Pekalongan terus menunjukkan komitmennya dalam menggerakkan ekonomi umat, khususnya bagi kaum perempuan. Melalui Departemen Ekonomi dan Kewirausahaan yang berkolaborasi dengan KL Lazismu PDNA serta Lazismu Kabupaten Pekalongan, mereka sukses menggelar Pelatihan Mitra El-Chicken pada Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pekalongan ini diikuti oleh 10 mitra perintis yang terdiri atas ibu rumah tangga dan perempuan muda dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan. Istimewanya, dua di antara peserta merupakan guru Taman Kanak-kanak (TK) dari Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Pekalongan, yang diharapkan mampu menjadi role model perempuan produktif dalam mendongkrak kesejahteraan keluarga lewat kewirausahaan sosial.
Membangun Kemandirian Lewat Model ECOS
Pelatihan ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas para mitra di bidang kewirausahaan, manajemen usaha, pelayanan pelanggan, hingga strategi pemasaran. Tujuannya jelas: agar para perempuan ini mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Program inovatif ini merupakan bagian dari implementasi Model ECOS (El-Chicken Ekonomi Sirkular Organisasi Sosial) yang dikembangkan oleh PDNA Kabupaten Pekalongan. Langkah nyata ini diharapkan dapat mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan sekaligus mengakselerasi penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Pekalongan.
Hadir langsung dalam acara tersebut, Manajer Lazismu Kabupaten Pekalongan, Bapak Tiknyo. Beliau memberikan suntikan motivasi, arahan, sekaligus pendampingan bagi seluruh peserta.
“Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh konsistensi, semangat belajar, serta kemauan untuk terus berkembang,” pesan Tiknyo memotivasi para peserta.
Lebih dari Sekadar Kuliner: Inklusif dan Ramah Lingkungan
Ketua PDNA Kabupaten Pekalongan, Ainun Muthoharoh, menegaskan bahwa El-Chicken bukan sekadar bisnis kuliner biasa. Ini adalah sebuah gerakan pemberdayaan perempuan yang mengintegrasikan tiga aspek penting: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Program El-Chicken kami rancang untuk meningkatkan pendapatan perempuan muda melalui usaha yang berkelanjutan. Ke depan, kami juga akan membuka kesempatan kemitraan bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu, agar mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi,” ungkap Ainun penuh optimisme.
Tak hanya inklusif, El-Chicken juga mengusung semangat “Jogo Bumi”. Gerakan ini membuktikan bahwa peningkatan ekonomi keluarga bisa berjalan selaras dengan kelestarian alam. Salah satu inovasi konkretnya adalah penggunaan daun pisang sebagai pembungkus makanan, menggantikan kertas nasi atau plastik sekali pakai.
“Kami ingin membuktikan bahwa usaha mikro juga dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Melalui penggunaan daun pisang sebagai kemasan alami, El-Chicken tidak hanya menghadirkan produk yang lebih sehat dan bernilai lokal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas isu lingkungan di Kabupaten Pekalongan,” tambahnya.
Harapan Menjadi Agen Perubahan
Melalui pelatihan intensif ini, PDNA Kabupaten Pekalongan menaruh harapan besar agar para mitra mampu mengembangkan sayap usaha El-Chicken di wilayah masing-masing. Langkah ini bukan sekadar tentang mengepulkan asap dapur atau meningkatkan pendapatan keluarga, melainkan mencetak para perempuan menjadi agen pemberdayaan ekonomi di tengah masyarakat.
Sinergi apik antara organisasi kepemudaan putri Muhammadiyah, Lazismu, dan masyarakat ini diharapkan mampu menjadi blue print atau model kolaborasi kewirausahaan sosial yang inovatif, inklusif, serta berkelanjutan di Kabupaten Pekalongan. (WD)










