Oleh : Dr. Cholisa Rosanti,M.Si
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa pendidikan ilahiah yang sarat makna bagi pembangunan manusia, khususnya dalam dunia pendidikan. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, nilai-nilai Isra’ Mi’raj relevan untuk meneguhkan arah pendidikan agar tidak kehilangan ruh dan tujuan.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan spiritual dan akhlak. Perintah shalat yang diterima Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa Mi’raj menjadi simbol bahwa hubungan dengan Allah (hablum minallah) adalah fondasi utama dalam kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, hal ini menegaskan bahwa proses belajar seharusnya melahirkan pribadi yang sadar akan tanggung jawabnya kepada Tuhan, bukan sekadar manusia yang cakap secara akademik.
Selain itu, Isra’ Mi’raj menunjukkan pentingnya proses dan keteladanan. Nabi Muhammad saw. dipersiapkan secara spiritual sebelum menerima perintah besar. Ini memberi pelajaran bahwa pendidikan memerlukan tahapan, kesabaran, dan pendampingan. Seorang pendidik bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing yang menuntun peserta didik melalui proses pembentukan karakter. Keteladanan Nabi dalam menerima dan menjalankan perintah shalat menjadi contoh nyata bahwa nilai yang diajarkan harus terlebih dahulu dihidupkan oleh pendidiknya.
Dalam dunia pendidikan modern, sering kali keberhasilan diukur melalui angka, peringkat, dan prestasi formal. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa keberhasilan sejati adalah keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kecerdasan dan kesalehan. Pendidikan yang terlepas dari nilai spiritual berisiko melahirkan generasi yang pintar tetapi kehilangan arah, cakap namun miskin empati.
Oleh karena itu, momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi refleksi bagi dunia pendidikan untuk kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran moral, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial, sebagaimana shalat mendidik manusia untuk taat, tertib, dan peduli. Dengan demikian, nilai-nilai Isra’ Mi’raj tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihidupkan dalam praktik pendidikan sehari-hari demi melahirkan generasi berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. ***
Penuis adalah Dosen Universitras Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan










