close
Pendidikan

Sepenggal kisah guru di negeri di awan

guru simego

Petungkriyono, Wartadesa. – Tidak kurang dari 52 kilometer, Wahyu Hendro Wijayanto (31), guru SD Negeri 02 Simego harus berjuang keras dari rumanya di Karanganyar Kabupaten Pekalongan untuk mengajar di sebuah sekolah yang berada di negeri di awan, Petungkriyono. Simego merupakan desa paling ujung Selatan Kota Santri.

Desa Simego merupakan satu dari sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono yang berada di sabuk pegunungan Dieng dan merupakan desa tertinggi di Kabupaten Pekalongan. Yakni terletak di ketinggian 2400 mdpl. Di desa tersebut hanya ada dua sekolah dasar, yakni SD Negeri 01 dan 02 Simego.

Cuaca buruk sering mengancam siswa-siswi di Petungkriyono, mereka musti ekstra waspada. Foto: suarapetungkriyono

Saat kondisi hujan, seperti akhir-akhir ini, perjuangan Wahyu semakin berat, jalan yang terjal dan licin karena hujan serta turunan yang curam membutuhkan kewaspadaan ekstra. Jika tidak, berpotensi akan mencelakai dirinya, dan nyawa menjadi taruhannya. Pun, dia harus waspada adanya pohon tumbang sewaktu-waktu saat dia lewat.

“Harus berhati-hati saat kondisi hujan. Karena sewaktu-waktu pohon di sepanjang jalan bisa tumbang,” tutur Wahyu, beberapa waktu lalu.

Wahyu menceritakan bagaimana perjuangan para guru di Simego, Petungkriyono, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Para guru harus saling bergotong-royong untuk mengevakuasi pohon yang tumbang, agar bisa dilewati saat mereka terperangkap pohon yang tumbang. Mereka pun harus rela terlambat untuk tiba di sekolah. Wilayah Petungkriyono merupakan wilayah hutan lindung di Kabupaten Pekalongan, sehingga hutan di wilayah itu masih alami.

Selama 10 tahun, Wahyu mengajar di Simego, suka duka sudah banyak dialami.  Bapak dari satu anak ini harus sering menginap di sekolah tempatnya mengajar mengingat jarak ke rumah yang cukup jauh. Rata-rata sekolah di wilayah ini menyediakan kamar tidur bagi guru yang terpaksa harus menginap. Baik yang sudah berstatus PNS maupun honorer.

“Rata-rata guru yang mengajar di sana (Simego) harus menginap, karena hujan seringkali turun dan membahayakan bagi guru yang memang menggunakan sepeda motor,” lanjut Wahyu.

Sementara Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Petungkriyono, Masyhudi mengaku, rata-rata guru yang mengajar di wilayah Petungkriyono merupakan pendatang. Jika dilaju, mereka harus menempuh jarak yang terlalu jauh dan harus menempuh waktu hampir 3 jam. Mereka rata-rata harus menginap di sekolah antara lima sampai enam hari.

“Banyak guru pendatang, dan memang harus menginap karena jarak ke pusat pemerintahan juga terlalu jauh. Setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing dan dilanjut mengajar hari Senin,” ujar Masyudi. (Sumber: suarapetungkriyono)

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : negeri di awanPetungkriyonosimego