close
EkonomiOpini WargaSosial Budaya

Benarkah saat tarif ojol dinaikkan, pendapatan driver juga naik?

ojek online
ilustrasi ojek online

Kemarin, pengemudi (baca: driver) ojek online (ojol) melakukan aksi demo menuntut kenaikan tarif tiga aplikator ojol. Berbeda dengan demo lainnya yang digelar di depan Istana Negara, para demonstran langsung ditemui oleh orang nomor satu di Indonesia.

Sejumlah tuntutan disampaikan oleh massa ojol  yang tergabung dari tiga aplikasi, Go-Jek, GrabBike, dan Uber di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (27/3/2018). Para pengemudi menginginkan supaya tarif dinaikan menjadi Rp 4.000 per km.

Juru bicara peserta demo ojol di Jakarta, Einstein Dialektika, mengatakan, semua pengemudi menuntut supaya perusahaan software menaikan tarif yang ketika ini diarasa paling “mencekik” semua pengemudi.

Persaingan antar penyedia aplikator (bahasa baru –muncul saat demo kemarin) dipicu sebagai penyebab kecilnya penghasilan driver. Benarkah demikian?

Berikut curhatan rekan yang mencoba berbincang-bincang terkait penghasilan driver ojol, apakah penyedia ‘tarif lebih mahal’  memberi penghasilan lebih besar kepada driver atau malah sebaliknya.

G*j*k, Gr*b, U*er. Secara tarif beda, dari yg paling mahal sampai paling murah, sesuai urutan itu.
Yg termahal itu entah kenapa justeru aseli made in endonesa (Indonesia). Yg kedua agak jauh sedikit, singapur. Yg termurah malah paling jauh, amrik.

Yg mau saya sampaikan bukan soal tarif yg berbanding terbalik dengan asal perusahaan aplikator (istilah baru sejak demo para driver ojol terkini kemarin).

Awalnya saya berpikir, tarif yg termahal itu masih cukup rasional lah, berarti pihak aplikator masih memerhatikan kesejahteraan para driver dg mematok tarif yg cukup manusiawi, walaupun bagi saya sih masih cukup mahal. (Saya menganggap mahal, merpatokan pada tarif minimal di sini, dibandingkan ojol kompetitor).

Yg saya pikirkan juga, ‘wah pasti penghasilan driver anu lebih banyak drpd driver sebelah ya’. Tapi anggapan ini terkoreksi atas bincang ‘santai’ tadi sama satu driver ojol yg termurah.

Saya mendapat sudut pandang lain, bagaimana ia memaknai tarif dari sisi driver. Menurut beliau, bolehlah tarif ojol anu paling mahal, dan beliaunya paling murah. Tapi hal itu tidak menjamin banyak-sedikitnya penghasilan yg didapatkan, apalagi ‘persaingan’ sangat ketat.

Buktinya, meskipun beliau dipaksa mematok tarif murah, tapi beliau lebih sering mendapatkan order dibandingkan ojol anu.

Ya ini cuma satu kasus sih, belum bisa dijadikan rujukan untuk mewakili fenomena sosial ekonomi yg ditimbulkan oleh hadirnya ojol di tengah masyarakat.

Tapi sing jelas… Penak sing nyawang cak… 😁

*) Sayang sekali ojol pak driver tadi mau bubar, padahal masyarakat cukup tertolong krn tarifnya yg terjangkau.
*) Saya cuma sesekali naik ojol, bukan krn pingin nggaya.. tapi lebih ke itu tadi, mengamati fenomena ekonomi cak.. dan bisa dapat info tempat2 menarik scr gratis.. hehe

Tulisan diatas merupakan asumsi dari pengguna ojol dan driver. Bisa jadi ada banyak formula untuk meningkatkan penghasilan driver itu sendiri, pembatasan jumlah driver merupakan salah satunya. Ini yang sering dilupakan. (Sumber: liputan6 dan tulisan Slamet Badwi)

Tags : ojek onlineojol

Leave a Response