close

Kesehatan

KesehatanPendidikan

Bukan Cuma Fisik dan Biaya, UMPP Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Sebelum Menikah

kesehatan mental

PEKALONGAN, Warta Desa – Persiapan menuju jenjang pernikahan biasanya identik dengan urusan administrasi, biaya pesta, hingga kesehatan fisik. Namun, ada satu hal penting yang sering terlupakan: Kesehatan Mental dan Emosional.

Melihat fenomena tersebut, tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) melakukan riset mendalam untuk mendeteksi masalah mental emosional pada calon pengantin. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pasangan di Pekalongan membangun pondasi keluarga yang lebih kuat dan sehat.

Deteksi Dini untuk Keluarga Sehat

Riset yang berjudul “Deteksi Masalah Mental Emosional Calon Pengantin dalam Mempersiapkan Kesehatan Reproduksi” ini berhasil meraih dana bergengsi melalui Hibah Penelitian Fundamental 1 RisetMu.

Tim peneliti ini diketuai oleh Bidan Nina Zuhana, SST., M.Kes, bersama anggota tim Bidan Lia Dwi Pratfitri, MPH dan Bidan Nur Intan Kusuma, M.K. Menariknya, penelitian ini juga melibatkan mahasiswa D3 Kebidanan, Elsa Afifattuz Zahro dan Aisy Dinana Nada, untuk terjun langsung ke lapangan.

“Kesiapan mental punya peran besar dalam menjaga kesehatan reproduksi. Jika mentalnya siap, pasangan akan lebih optimal dalam menghadapi kehamilan dan dinamika kehidupan berumah tangga nantinya,” jelas Nina Zuhana.

Menggali Masalah yang Kerap Terabaikan

Selama ini, tekanan menjelang pernikahan atau kekhawatiran akan masa depan sering kali dianggap sebagai hal biasa. Padahal, jika tidak dideteksi sejak dini, masalah emosional ini bisa berdampak pada keharmonisan keluarga hingga kesehatan ibu dan anak di masa depan.

Penelitian ini bertujuan untuk:

  • Mengidentifikasi potensi masalah mental emosional pada calon pengantin.

  • Mencari faktor-faktor pemicunya.

  • Menyusun rekomendasi program edukasi dan pendampingan yang tepat sebelum akad nikah dilaksanakan.

Manfaat Bagi Warga Desa

Hasil riset ini nantinya tidak hanya berakhir sebagai laporan ilmiah, tetapi akan menjadi dasar bagi UMPP untuk memberikan rekomendasi program pendampingan nyata bagi masyarakat. Melalui penguatan riset ini, UMPP membuktikan komitmennya untuk hadir memberikan solusi atas kebutuhan nyata warga, khususnya dalam mencetak generasi keluarga yang tangguh lahir dan batin.

Sivitas akademika UMPP berharap, dengan adanya deteksi dini ini, calon pengantin di wilayah Pekalongan dan sekitarnya semakin peduli bahwa sehat itu tidak hanya soal badan, tapi juga soal jiwa. (Davina)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Putus Mata Rantai Stunting Sejak Remaja, UMPP Latih Kader Desa Jadi Konselor Sebaya

stunting remaja

PEKALONGAN, Warta Desa – Masalah stunting (tengkes) tidak hanya bermula saat anak lahir, melainkan jauh sebelumnya, yakni sejak masa remaja. Menyadari hal tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) turun ke desa untuk memperkuat peran Kader Stunting dan Kader Pashmina melalui program pelatihan Peer Educator (Pendidik Sebaya).

Program inovatif ini berhasil mendapatkan pendanaan bergengsi dari Hibah Pengabdian di Lingkungan Persyarikatan. Tim dipimpin oleh Bidan Fitriyani, SST., MPH, bersama tim ahli Bidan Leila Nisya Ayuanda, M.Keb dan Windha Widyastuti, MNS, serta melibatkan mahasiswa kebidanan, Arifa Maulida dan Ana Ayu Zulfa.

Mengapa Remaja?

Ketua tim pengabdian, Fitriyani, menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi remaja adalah kunci investasi kesehatan jangka panjang. Jika remaja sehat, paham gizi, dan terhindar dari pernikahan dini, maka risiko melahirkan bayi stunting di masa depan akan menurun drastis.

“Kami ingin para kader ini menjadi pendidik sebaya (peer educator). Remaja biasanya lebih nyaman curhat dan mendengar nasihat dari teman sebayanya sendiri daripada orang tua. Inilah yang kita sasar agar edukasi gizi dan kesehatan reproduksi lebih mudah masuk,” ujar Fitriyani.

Bekali Kader dengan Ilmu dan Keterampilan

Dalam pelatihan ini, para kader desa dibekali berbagai materi krusial, antara lain:

  • Kesehatan Reproduksi: Memahami fungsi dan kebersihan organ reproduksi.

  • Gizi Seimbang: Pola makan tepat bagi remaja untuk mencegah anemia.

  • Pencegahan Pernikahan Usia Dini: Mengedukasi kesiapan fisik dan mental sebelum berkeluarga.

  • Teknik Komunikasi: Cara menyampaikan informasi secara santun dan menarik agar diterima sesama remaja.

Membangun Generasi Berkualitas

Melalui pemberdayaan Kader Stunting dan Pashmina ini, UMPP berharap tercipta sistem edukasi yang berkelanjutan di tingkat desa. Para kader diharapkan tidak hanya sekadar punya ilmu, tapi aktif menjadi penggerak di lingkungannya.

“Keberhasilan meraih hibah ini membuktikan keselarasan program kami dengan nilai pemberdayaan masyarakat. Kami ingin mencetak calon orang tua yang berkualitas melalui perbaikan kesehatan sejak usia muda,” tambahnya.

Sivitas akademika UMPP memberikan apresiasi tinggi atas program ini. Model pelatihan kader berbasis pendidik sebaya ini diharapkan bisa direplikasi (dicontoh) oleh desa-desa lain di Pekalongan untuk bersama-sama mewujudkan generasi bebas stunting. (Davina)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Belasan Siswa SD di Kedungwuni Diduga Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Gemini_Generated_Image_giyedygiyedygiye

KEDUNGWUNI, WARTADESA – Sebanyak 15 siswa SD Negeri 1 Kedungwuni Timur, Kecamatan Kedungwuni, dilaporkan mengalami mual dan muntah massal setelah mengonsumsi paket Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (13/1/2026). Insiden ini kini dalam penanganan serius Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama Dinas Kesehatan dan aparat penegak hukum.

Dari total siswa yang terdampak, 9 anak sempat dilarikan ke Puskesmas Kedungwuni I, sementara 6 lainnya dirujuk ke RSI Pekajangan. Beruntung, kondisi seluruh siswa berangsur membaik dan telah diperbolehkan pulang tanpa menjalani rawat inap.

Mi Berasa Asam Menjadi Kecurigaan Awal

Kepala SPPG Kedungwuni Timur, Idhar Khairul Rahmat, menjelaskan bahwa menu yang dibagikan hari itu terdiri dari mi goreng, telur, salad timun, dan buah anggur. Distribusi dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung dikonsumsi siswa setengah jam kemudian.

Berdasarkan laporan yang diterima dari pihak sekolah, kecurigaan mengarah pada menu mi goreng yang diduga basi. Idhar yang melakukan pengecekan langsung ke lokasi menemukan kejanggalan pada rasa makanan tersebut.

“Saya cek teksturnya tidak lengket, tapi rasanya asam. Padahal biasanya kalau basi itu lengket dan berlendir. Ini fisiknya masih utuh dan empuk seperti mi baru matang, tapi rasanya memang asam,” ungkap Idhar.

Disebut Sebagai “Kejadian Menonjol”

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Pekalongan, Nauf, menegaskan bahwa status insiden ini masih bersifat dugaan. Ia menggunakan istilah “kejadian menonjol” untuk menggambarkan situasi tersebut, sementara penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan wewenang Pemerintah Daerah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan Dinas Kesehatan. Kami juga terus memantau hasil laboratorium dan kondisi siswa di rumah sakit,” ujar Nauf.

Mengenai kelanjutan operasional SPPG Kedungwuni Timur yang memproduksi 2.219 porsi setiap harinya untuk 17 sekolah, pihak korwil menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Badan Gizi Nasional pusat.

Tunggu Hasil Lab dari Semarang

Plt. Kepala SDN 1 Kedungwuni Timur, Deddy Ardiansyah, menyatakan pihak sekolah belum berani menyimpulkan penyebab pasti kejadian ini. “Kami masih menunggu hasil lab dari Dinas Kesehatan untuk memastikan apakah penyebabnya benar-benar dari menu MBG atau faktor lain,” jelasnya.

Saat ini, sampel makanan serta sampel muntahan siswa telah dikirim ke laboratorium di Semarang untuk diuji secara intensif. Hasil pemeriksaan ini nantinya akan menjadi dasar hukum dan evaluasi bagi program pemberian makanan bergizi di wilayah Kabupaten Pekalongan. (Redaksi)

Sumber: Rasika Pekalongan

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatan

“GEMPUR” HANYA SEREMONIAL? Rokok Ilegal Marak di Pekalongan, Warga: Penindakan Jangan Cuma Formalitas!

Gemini_Generated_Image_9tduse9tduse9tdu

KAJEN, Warta Desa – Slogan “Gempur Rokok Ilegal” yang kerap digaungkan Pemerintah Kabupaten Pekalongan kini tengah mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, meski berbagai acara seremonial penertiban sering digelar, peredaran rokok tanpa pita cukai justru kian merajalela dan dengan mudah ditemukan di pelosok Kota Santri.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan rokok-rokok “polos” ini bebas diperjualbelikan di sejumlah toko kelontong, terutama gerai yang dikenal sebagai toko Madura, dengan harga miring yang jauh di bawah standar pasar produk resmi.

Mudah Didapat, Hukum Terkesan “Lumpuh”

Kemudahan akses mendapatkan barang ilegal ini membuat warga geram. Banyak yang menilai pengawasan dari pihak terkait hanya hangat di awal atau saat ada kegiatan besar saja.

“Kalau mau cari yang murah ya langsung ke situ (toko kelontong), selalu ada tanpa pita cukai. Stoknya banyak,” ujar salah satu penikmat rokok yang enggan disebutkan namanya kepada Warta Desa.

Kritik pedas pun datang dari warga lainnya yang menilai pemerintah daerah hanya sibuk menggelar event daripada melakukan pengawasan konsisten di akar rumput.

“Eventnya sering ada, panggungnya mewah, tapi setelah itu tidak ada pengawasan rutin. Rokok ilegal tetap beredar seperti tidak ada hukum. Kesannya penindakan ini cuma formalitas atau acara formal saja,” cetus seorang warga dengan nada kecewa.

Dampak Berantai: Negara Rugi, Budaya “Pembiaran” Tumbuh

Peredaran rokok ilegal ini bukan masalah sepele. Secara nasional, kerugian negara akibat hilangnya potensi cukai mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak sosial dan ekonominya:

  • Persaingan Tidak Sehat: Industri rokok resmi yang taat pajak terancam gulung tikar karena kalah saing harga.

  • Risiko Kesehatan: Produk ilegal tidak melalui uji mutu laboratorium, sehingga kandungan nikotin dan tar tidak terkontrol.

  • Pembiaran Hukum: Masyarakat mulai terbiasa melihat pelanggaran hukum dilakukan secara terang-terangan tanpa ada sanksi tegas.

Ancaman Pidana 5 Tahun Menanti

Padahal, payung hukum untuk menjerat pelaku sudah sangat jelas. Berdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Bea dan Cukai, pelaku penjualan barang kena cukai tanpa pita resmi diancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda hingga Rp5 miliar.

Secara lokal, Perda Kabupaten Pekalongan Nomor 2 Tahun 2018 juga sudah mengatur sanksi administratif hingga pencabutan izin usaha bagi pedagang nakal. Namun, macannya peraturan ini dianggap belum bertaring selama penegakannya masih bersifat musiman.

Warta Desa Mencatat:

Masyarakat Kabupaten Pekalongan kini menunggu langkah nyata, bukan sekadar spanduk sosialisasi atau jalan sehat bertema “Gempur Rokok Ilegal”. Penindakan tegas terhadap distributor besar dan pengawasan rutin ke toko-toko kelontong menjadi kunci utama agar hukum tidak dianggap remeh oleh para oknum pengedar.

Berani Jujur, Berani Tindak! (Rohadi)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Pasien DM Semakin Banyak, Saatnya Apoteker dan Teknologi Digital Bergerak Bersama

ainun

Oleh: Ainun Muthoharoh

Diabetes melitus (DM) bukan lagi sekadar penyakit kronis, melainkan masalah kesehatan serius yang terus meningkat di Indonesia. Angka kematian dan kesakitan akibat diabetes bahkan menempati peringkat tertinggi dibandingkan penyakit tidak menular lainnya. Ironisnya, meskipun jumlah penyandang diabetes terus bertambah, kesadaran untuk menjalani pengobatan secara rutin masih sangat rendah. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar dua pertiga penyandang diabetes di Indonesia yang menjalani pengobatan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 90 persen pasien diabetes memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya minum obat secara teratur. Kondisi ini membuat diabetes semakin sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kebutaan.

Prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia diprediksi mencapai lebih dari 10 persen penduduk. Jawa Tengah sendiri termasuk provinsi dengan kasus diabetes tertinggi. Di tingkat layanan kesehatan, berbagai permasalahan muncul, salah satunya adalah kejadian efek samping obat atau adverse drug reaction (ADR) pada pasien rawat jalan yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan diabetes bukan hanya soal pemberian obat, tetapi juga membutuhkan pemantauan yang berkelanjutan. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kepatuhan pasien. Pasien diabetes dengan kepatuhan rendah terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Faktor usia di atas 40 tahun dan tingkat pendidikan yang rendah semakin memperbesar risiko ketidakpatuhan. Ketika pasien tidak patuh pada resep dokter, target pengobatan sulit tercapai dan kesejahteraan pasien pun menurun.

Di sinilah peran apoteker menjadi sangat penting. Sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan, apoteker memiliki tanggung jawab melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Sayangnya, selama ini PTO lebih banyak diterapkan pada pasien rawat inap, sementara pasien rawat jalan yang jumlahnya jauh lebih besar, belum mendapatkan perhatian optimal. Padahal, sebagian besar pasien diabetes menjalani pengobatan jangka panjang secara rawat jalan. Penerapan PTO pada pasien rawat jalan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan pemantauan yang baik, apoteker dapat mendeteksi ketidakpatuhan, mengidentifikasi efek samping obat, serta menyesuaikan terapi sesuai kondisi pasien. Tantangannya adalah keterbatasan jumlah apoteker, waktu pelayanan, dan biaya operasional.

Di tengah tantangan tersebut, teknologi digital menawarkan solusi yang menjanjikan. Aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat memungkinkan apoteker memantau kepatuhan pasien secara real-time tanpa harus bertemu langsung. Pasien pun dapat berkonsultasi dari rumah, menghemat waktu dan biaya, serta tetap mendapatkan pendampingan profesional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi yang dikombinasikan dengan peran aktif apoteker mampu meningkatkan kepatuhan minum obat, memperbaiki kontrol gula darah, serta menurunkan kejadian efek samping obat. Pemantauan yang efektif juga membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah inovasi aplikasi kesehatan untuk pasien diabetes, baik sebagai media edukasi maupun pemantauan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan layanan kefarmasian, khususnya peran apoteker dalam PTO.

Selain aspek teknologi, keberhasilan pengelolaan diabetes sangat dipengaruhi oleh self-efficacy atau keyakinan pasien terhadap kemampuannya mengelola penyakit. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindakan dan mencapai hasil yang diharapkan. Pada pasien DM, self-efficacy yaitu pada keyakinan pasien bahwa dirinya mampu mengelola penyakit diabetes secara mandiri. Contoh sederhana, yaitu jika pasien memiliki self-efficacy tinggi: “Saya yakin bisa minum obat setiap hari dan mengatur makan, meskipun sedang sibuk.” Jika pasien memiliki self-efficacy rendah: “Saya tahu harus minum obat, tapi rasanya sulit dan saya tidak yakin bisa melakukannya terus.” Pasien dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih patuh terhadap pengobatan, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Sebaliknya, self-efficacy yang rendah berhubungan erat dengan kontrol gula darah yang buruk dan meningkatnya risiko komplikasi.

Oleh karena itu, pengelolaan diabetes di masa depan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan konvensional semata. Kolaborasi antara apoteker, tenaga kesehatan lain, dan teknologi digital menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan, keselamatan penggunaan obat, serta kualitas hidup penyandang diabetes. Sudah saatnya pemantauan terapi obat berbasis aplikasi mobile menjadi bagian dari layanan kesehatan rutin bagi pasien diabetes rawat jalan. Dengan dukungan teknologi dan peran aktif apoteker, pengendalian diabetes bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta / Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Ruang Tunggu RSUD Kraton Dikeluhkan Kotor dan Becek, Pasien Merasa Tidak Nyaman

Screenshot_20260106_165244

Warta Desa, Pekalongan – Ruang tunggu di RSUD Kraton dikeluhkan dalam kondisi kotor dan becek. Genangan air yang tidak segera dibersihkan membuat lantai licin dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan keluarga yang menunggu. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran akan risiko tergelincir, terutama bagi lansia, ibu hamil, dan pasien dengan mobilitas terbatas.

Sejumlah pasien menyebut kursi ruang tunggu tampak basah dan lantai meninggalkan bekas lumpur. Pada saat kondisi itu terjadi, tidak tampak petugas kebersihan yang melakukan penanganan di area tersebut, sehingga genangan dibiarkan cukup lama. Beberapa pengunjung akhirnya memilih berdiri atau berpindah tempat karena khawatir pakaian mereka ikut kotor.

Kondisi becek diduga dipengaruhi oleh aktivitas keluar-masuk pengunjung ke toilet, serta aliran air dari area pintu toilet yang tidak tertangani dengan baik. Namun demikian, pengelolaan kebersihan di area pelayanan publik tetap diharapkan berjalan optimal karena ruang tunggu merupakan area dengan intensitas aktivitas tinggi.

Pasien dan pengunjung berharap pihak manajemen RSUD Kraton meningkatkan pengawasan kebersihan, memperbanyak penanda lantai licin, menyiagakan petugas kebersihan pada jam-jam ramai, serta memastikan lantai tetap kering dan aman dilalui. Kebersihan ruang tunggu dinilai menjadi bagian penting dari mutu pelayanan dan kenyamanan pasien selama berada di lingkungan rumah sakit. (Rohadi)

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

EXPO Produk Inovasi Prodi Sarjana Farmasi FIKes UMPP Dorong Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa

IMG-20251231-WA0016

Warta Desa, Pekalongan – Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) menyelenggarakan EXPO Produk Inovasi Kewirausahaan Farmasi sebagai wadah pembelajaran aplikatif untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan mahasiswa berbasis keilmuan farmasi. Kegiatan ini menampilkan beragam produk inovatif hasil karya mahasiswa, meliputi produk kosmetik, makanan, dan minuman.

Melalui EXPO ini, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep teori yang diperoleh di bangku perkuliahan, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu farmasi dalam bentuk produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

EXPO Produk Inovasi Kewirausahaan Farmasi diselenggarakan pada Senin, 29 Desember 2025, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula FIKes Kampus 2 UMPP. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan mendapat antusiasme tinggi dari sivitas akademika serta masyarakat sekitar.

Dosen Program Studi Sarjana Farmasi FIKes UMPP, St. Rahmatullah,menjelaskan bahwa kegiatan EXPO ini bertujuan sebagai sarana pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa. “Tujuan utama diselenggarakannya EXPO Produk Inovasi ini adalah sebagai wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan melalui perancangan, pembuatan, serta presentasi produk farmasi non-obat seperti kosmetik, makanan, dan minuman,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, khususnya dalam melatih keterampilan kewirausahaan secara langsung. “Mahasiswa mendapatkan pengalaman mulai dari perencanaan produk, formulasi, pengemasan, hingga promosi dan komunikasi produk kepada masyarakat. Selain itu, EXPO ini juga melatih soft skills seperti kerja tim, presentasi, dan kepercayaan diri,” tambahnya.

Menurutnya, kegiatan EXPO ini juga menjadi bentuk evaluasi pembelajaran yang autentik, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan peluang usaha di bidang farmasi.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa farmasi di berbagai semester untuk terus menghasilkan produk inovatif yang bernilai guna tinggi dan berdaya saing. Dalam pelaksanaannya, antusiasme dan kreativitas mahasiswa dinilai sangat tinggi. Hal ini tercermin dari dihasilkannya 65 produk inovasi yang dipamerkan dalam EXPO, mencakup kategori kosmetik, makanan, dan minuman. Ragam produk tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menuangkan ide kreatif ke dalam karya yang aplikatif, mulai dari pemilihan bahan, konsep formulasi, hingga pengemasan dan penyajian produk.

Terkait pengembangan inovasi ke depan, apt. St. Rahmatullah berharap agar kreativitas mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan pameran semata. “Kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat terus dikembangkan menjadi produk yang berkelanjutan dan memiliki nilai guna nyata bagi masyarakat, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, mutu, dan kebutuhan pengguna,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa hasil inovasi mahasiswa diharapkan dapat diarahkan menuju proses hilirisasi, penguatan kewirausahaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Bahkan, produk-produk yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi persyaratan perizinan seperti izin P-IRT dan sertifikat halal, sehingga aman, legal, dan siap dipasarkan secara lebih luas.

Penyelenggaraan EXPO Produk Inovasi ini sejalan dengan komitmen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dalam mencetak lulusan yang unggul, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang positif bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, Program Studi Sarjana Farmasi FIKes UMPP berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata melalui produk-produk kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas. (Davina Zafa)

 

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Pembangunan RS Kraton Baru Terancam Molor, DPRD Pekalongan Prediksi Operasional Mundur ke 2027

IMG-20251217-WA0026

Warykendala Pekalongan — Proyek relokasi RS Kraton ke Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, kini dalam pengawasan ketat DPRD Kabupaten Pekalongan. Anggaran sebesar Rp80 miliar yang bersumber dari pinjaman daerah telah dialokasikan untuk menyelesaikan pembangunan fisik dan persiapan perpindahan layanan.

​Namun, hasil peninjauan lapangan oleh Komisi C DPRD menunjukkan bahwa operasional penuh rumah sakit kemungkinan besar akan mundur hingga tahun 2027. Hal ini dikarenakan proses pembangunan fisik yang memakan waktu lama serta kompleksitas perizinan operasional.

Faktor Penyebab Penundaan

​Beberapa tahapan krusial yang dinilai menghambat percepatan operasional antara lain:

  • Proses Lelang: Direncanakan baru berjalan pada Februari 2026 setelah audit perencanaan oleh Inspektorat selesai.
  • Waktu Konstruksi: Pelaksanaan pembangunan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar delapan bulan.
  • Infrastruktur & Perizinan: Pemenuhan syarat operasional meliputi ketersediaan air bersih, akses jalan, listrik, AMDAL, SLO (Sertifikat Laik Operasional), hingga izin operasional rumah sakit.
  • Akreditasi & BPJS: Rumah sakit wajib mengurus ulang kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan melakukan akreditasi di lokasi baru agar tetap dapat melayani pasien JKN.

​DPRD menyarankan agar pemerintah daerah segera mengajukan surat resmi permohonan perpanjangan waktu perpindahan kepada pihak kesusteran selaku pemilik lokasi RS Kraton saat ini.

Analisis Kritis: Dampak Bagi Daerah

​Berdasarkan situasi di atas, terdapat beberapa poin penting yang perlu dikritisi:

  1. Beban Pinjaman Daerah: Proyek ini menggunakan dana pinjaman sebesar Rp80 miliar. Penundaan operasional hingga 2027 berarti daerah menanggung beban bunga pinjaman lebih lama tanpa adanya pemasukan layanan dari gedung baru.
  2. Ketidakpastian Layanan Kesehatan: Koordinasi yang kurang matang antara eksekutif dan pihak kesusteran dapat mengganggu stabilitas pelayanan pasien jika masa kontrak di gedung lama habis sebelum gedung baru siap pakai.
  3. Kesiapan Administrasi BPJS: Akreditasi ulang merupakan syarat mutlak bagi operasional rumah sakit yang melayani mayoritas peserta BPJS. Keterlambatan dalam proses ini akan merugikan masyarakat menengah ke bawah di Pekalongan.

​Pemerintah daerah didorong untuk lebih proaktif dalam mengurus perizinan secara paralel selama masa konstruksi agar perpindahan pada tahun 2027 tidak kembali mengalami kendala. (Rohadi)

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Bau Menyengat Kandang Bebek Ancam Konsentrasi Siswa SD Pait, Warga Siwalan Mendesak Relokasi

bebek

WARTA DESA, SIWALAN – Keberadaan kandang bebek milik desa di Desa Pait, Kecamatan Siwalan, menjadi polemik serius. Kandang yang menampung sekitar 500 ekor bebek tersebut dikeluhkan warga karena lokasinya yang terlalu dekat dengan pemukiman dan, yang paling parah, berhimpitan dengan area Sekolah Dasar (SD).

Keluhan utama yang disampaikan warga adalah bau menyengat yang dihasilkan dari limbah kandang. Aroma tak sedap ini dilaporkan sering terbawa angin dan masuk langsung ke ruang-ruang kelas sekolah.

“Menurut keluhan orang tua murid, aroma tak sedap dari kandang sering terbawa angin ke ruang kelas, sehingga membuat anak-anak sulit berkonsentrasi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung,” demikian disampaikan salah satu perwakilan warga.

Bahkan, beberapa guru dikabarkan telah menyampaikan keberatan secara lisan, karena kondisi bau yang mengganggu telah mengurangi kenyamanan lingkungan pendidikan.

Bau dan Jalan Rusak, Ketidaknyamanan Ganda

Ketidaknyamanan warga tidak hanya disebabkan oleh bau. Warga sekitar turut merasakan dampak buruk dari kerusakan jalan di area dekat kandang. Jalan yang berlubang dan menjadi becek saat musim hujan memperparah situasi. Kombinasi jalan rusak dan bau menyengat pada pagi dan sore hari menciptakan ketidaknyamanan ganda bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Masyarakat Desa Pait kini mendesak Pemerintah Desa untuk segera mengambil langkah konkret. Ada tiga tuntutan utama dari warga:

  1. Relokasi Kandang: Memindahkan kandang bebek ke lokasi yang lebih layak dan jauh dari fasilitas umum, terutama sekolah.

  2. Pengelolaan Limbah: Menerapkan sistem pengelolaan limbah kandang yang jauh lebih baik untuk menekan bau.

  3. Perbaikan Akses Jalan: Memperbaiki segera akses jalan yang rusak dan berlubang di sekitar lokasi.

Warga menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, mengingat lingkungan sekolah seharusnya menjadi prioritas utama dalam hal kenyamanan dan kebersihan. Masyarakat Desa Pait menanti respons cepat dari pemerintah desa maupun kecamatan demi memastikan proses belajar mengajar anak-anak tetap sehat dan kondusif. (Susandi)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
Kesehatan

Wujud Kepedulian: Manajemen RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Sambangi Pasien Pasca Operasi dan Beri Apresiasi

sudandi

Warta Desa, Pekalongan – Bentuk perhatian dan komitmen terhadap mutu pelayanan, perwakilan manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) PKU Muhammadiyah Pekajangan, Kabupaten Pekalongan, melakukan kunjungan langsung kepada salah satu pasien pasca operasi, Rohadi, pada Selasa (25/11/2025).

Rohadi, warga Desa Lebakbarang yang juga dikenal sebagai Koordinator Lapangan sekaligus Koordinator Media Warta Desa, baru saja menjalani tindakan operasi pengangkatan benjolan di leher (lipoma).

Kunjungan kepedulian tersebut dipimpin oleh Atin, selaku Humas RSI PKU, bersama dengan Arini, Koordinator Ruang Matahari. Keduanya, didampingi sejumlah staf kantor, turun langsung ke Ruang Matahari 4C, tempat Rohadi dirawat, sebagai wujud dukungan moril terhadap proses pemulihan pasien.

Apresiasi atas Ulasan Pelayanan Positif

Dalam kesempatan itu, pihak manajemen secara khusus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Rohadi. Meskipun kondisinya masih dalam masa pemulihan usai operasi, Rohadi tetap menyempatkan diri memberikan ulasan positif terkait pelayanan rumah sakit. Ulasan tersebut mencakup aspek pelayanan administrasi, pelayanan dokter, hingga profesionalitas para perawat yang bertugas.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami kepada pasien,” ujar Atin. “Kami sangat mengapresiasi Pak Rohadi yang dalam kondisi belum pulih sepenuhnya tetap berkenan memberikan masukan dan penilaian terhadap pelayanan kami. Semoga proses pemulihan beliau berjalan cepat dan lancar,” tambahnya.

Senada dengan itu, Arini menegaskan komitmen mereka untuk terus meningkatkan mutu pelayanan di Ruang Matahari. “Kami selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik, baik dari aspek keramahan, kecepatan pelayanan, maupun kenyamanan pasien,” jelasnya.

Arini juga memohon doa restu dari masyarakat agar RSI PKU dapat segera merealisasikan pembangunan gedung lama menjadi lebih baru dan representatif demi kenyamanan pasien di masa mendatang.

Kunjungan manajemen RSI PKU Pekajangan ini diharapkan dapat mempererat hubungan baik antara rumah sakit dan masyarakat. Ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan humanis bagi seluruh pasien. (Susandi)

 

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya