oleh: Milatun Khanifah*
Isu food loss dan food waste telah menjadi perhatian serius di hampir seluruh wilayah di belahan dunia. Masalah food loss dan food waste terjadi dari mulai produksi bahan makanan dan pengolahan makanan dalam skala besar, usaha kecil menengah bahkan sampai tataran rumah tangga. Food and Agriculture Organization/FAO (2019) mendefinisikan food loss sebagai produk pangan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia namun pada akhirnya tidak dimakan akibat penurunan kualitas yang tercermin dalam nilai gizi, nilai ekonomi, atau aspek keamanan pangan. Sehingga dalam terminologi food loss tersirat adanya unsur ketidaksengajaan dalam pemborosan makanan. Food waste adalah produk pangan yang disediakan untuk konsumsi manusia tetapi dibuang atau digunakan untuk kebutuhan selain pangan setelah produk pangan tersebut dibiarkan rusak atau kedaluwarsa akibat kelalaian.
Kota Pekalongan tidak banyak memiliki lahan yang digunakan sebagai lahan produksi bahan pangan. Sumber bahan makan pokok, sayur , buah, dan hewan ternak, banyak didapatkan dari daerah lain seperti Kabuaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Kondisi ini menggambarkan potensi food loss di tahap produksi di Kota Pekalongan relative kecil. Namun demikian terjadinya food loss dari tahap lain dalam rantai makanan terutama dalam pemrosesan dan penyiapan bahan makanan masih perlu mendapatkan perhatian. Potensi food loss yang besar di Kota Pekalongan dapat terjadi karena suhu Kota Pekalongan yang relative tinggi dan penggunaan teknologi pemrosesan dan pengolahan bahan makanan yang belum optimal.
Suhu kota Pekalongan yang relative tinggi menyebabkan bahan makanan terutama sayur dan buah banyak yang rusak sebelum mencapai dapur. Kondisi ini dapat terlihat dengan banyaknya sayur dan buah yang rusak dan tidak layak dikonsumsi menumpuk dan akhirnya dibuang sebagai sampah di pasar-pasar tradisional Kota Pekalongan. Tumpukan sayur dan buah yang rusak ini tidak banyak dimanfaatkan ulang oleh masyarakat setempat, misalnya digunakan sebagai bahan makan ternak atau pupuk organik. Artinya proses re-use dari bahan sayur dan buah agar tidak berujung menjadi sampah masih belum menjadi budaya untuk mengurangi food loss.
Penggunaan teknologi yang belum optimal sehingga meningkatkan potensi food loss dalam pengolahan bahan makanan salah satunya dapat kita lihat dalam proses pembuatan Megono sebagai menu khas Kota Pekalongan. Megono adalah lauk dengan bahan dasar buah nangka muda yang dicacah halus kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu dapur. Proses pencacahan nangka muda ini dilakukan dengan cara tradisional menggunakan pisau dengan ukuran cukup besar. Dengan teknik seperti ini banyak bagian dari buah nangka muda yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan dan banyak yang tumpah pada saat proses pencacahan. Buah nangka juga banyak yang dibuang jika bentuknya tidak rata karena kesulitan pada proses mengupas, sehingga banyak bagian inti yang terbuang. Masyarakat kota Pekalongan belum menggunakan teknologi lebih maju, seperti penggunaan mesin pencacah untuk mengurangi food loss saat memroses nangka muda ini untuk menjadi bahan yang siap dimasak menjadi megono.
Potensi food loss sebenarnya bisa terkurangi dengan keberadaaan pasar-pasar tradisional di Kota Pekalongan sebagai salah satu tempat distribusi terbesar bahan makan yang beroperasi setiap hari dan mulai sejak dini hari. Sebelum subuh, pasar utama yaitu pasar Banjarsari dan Grogolan sudah mulai ramai dengan aktivitasnya. Kondisi ini memungkinkan masyarakat, baik di kalangan rumah tangga maupun pelaku usaha makanan bisa mendapatkan bahan dasar untuk diolah setiap hari. Mereka tidak perlu menyetok dalam jumlah banyak yang berpeluang menyebabkan bahan makanan rusak sebelum diolah menjadi makanan. Selain itu, keberadaan beberapa institusi pendidikan tinggi yang memiliki jurusan teknik mesin juga memberikan harapan dalam upaya pengurangan food loss. Mereka dapat digandeng dalam pengembangan alat atau teknologi yang membantu para pedagang nangka muda cacah sebagai bahan dasar megono untuk meminimalkan food loss.
Sebagai kota sentra batik, penduduk kota Pekalongan sebagian besar berkutat dalam produksi batik. Sektor ini masih menjadi tulang punggung ekonomi Kota Pekalongan dan menjadi ciri khas yang sangat dikenal. Tidak hanya kepala rumah tangga, ibu rumah tangga di Kota Pekalongan banyak yang memilih untuk bekerja di rumah mulai dari memotong kain, menjahit, melipat atau memasukkan produk batik ke dalam kemasan. Dalam urusan makanan, mereka lebih memilih membeli makanan dari pada memasak sendiri. Ini menyebabkan warung makan di Kota Pekalongan dapat ditemukan bahkan di gang-gang kecil. Warung-warung makan ini juga bisa kita dapatkan menjajakan masakannya kapan pun, bahkan banyak mereka yang menjajakan makanannya pada dini hari. Potensi food waste yang cepat menumpuk tidak hanya dari rumah tangga tapi juga dari warung-warung makan. Kondisi ini menyebabkan tingginya volume sampah makanan di Kota Pekalongan.
Kota Pekalongan pernah dinyatakan status darurat sampah pada tahun 2025, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Pekalongan Nomor 600.4.15/0556 Tahun 2025. Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan menunjukkan bahwa 60 persen dari 160 ton sampah perhari yang dihasikan kota Pekalongan adalah sampah dari bahan makanan maupun sisa makanan. Sampah ini berasal dari sektor besar maupun dari sampah rumah tangga.
Perlu peningkatan kesadaran bagi warga kota Pekalongan untuk mengupayakan bijak dalam mengkonsumsi pangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan beberapa tips antara lain belanja bahan makanan yang benar-benar diperlukan, menyimpan bahan makanan dengan benar untuk menghindari pembusukan, mengolah bahan makanan secara efisien, termasuk memanfaatkan bagian makanan yang sering terbuang seperti kulit buah atau tulang ikan, memanfaatkan sisa makanan dengan mengolahnya menjadi hidangan baru atau dijadikan kompos untuk mengurangi limbah dan membagikan makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada masyarakat yang membutuhkan. Tips-tips tersebut tidak hanya dalam rangka mengurangi sampah organic yang masih menjadi masalah lingkungan dan menjadi tantangan besar kota Pekalongan tapi juga sebagai upaya memperbaiki perekonomian karena praktik ini dapat menghemat pengeluaran belanja rumah tangga.
Keberadaam lembaga yang bergerak untuk mengurangi potensi food loss dan food waste dengan konsep Reduce, Re-Use dan Re-Cycle di Kota Pekalongan perlu diperkuat. Semua ini harus dilakukan dengan sinergi yang baik agar dampak food loss dan food waste di kota Pekalongan tidak semakin meluas. Kampanye konsumsi ramah lingkungan dan bijak pangan untuk menekan jumlah sampah sisa makanan sejak dari sumbernya harus digalakkan. Pemerintah daerah, kecamatan hingga kelurahan bersama dengan tokoh masyarakat dan penggiat sosial media memiliki peran penting untuk keberhasilan kampanye dalam rangka menekan food loss dan food waste di Kota Pekalongan. ***
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan










