close

Seni Budaya

Hukum & KriminalSeni Budaya

Odong-odong Tampil di Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan, Dinilai Langgar Aturan dan Undang-Undang

odong odong

Warta Desa, Pekalongan – Penampilan kereta kelinci alias odong-odong dalam Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan menuai kritik tajam. Pasalnya, kendaraan hiburan yang sudah dilarang beroperasi karena tidak sesuai standar keselamatan tersebut justru tampil terbuka dalam acara resmi tingkat kabupaten.

Sebagaimana diketahui, keberadaan odong-odong sudah diatur dalam regulasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setiap kendaraan yang beroperasi di jalan wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Odong-odong selama ini dinyatakan tidak memenuhi standar keselamatan, baik dari sisi rangka kendaraan, sistem rem, maupun perizinan operasional.

Larangan juga diperkuat dengan berbagai surat edaran dan instruksi dari Kementerian Perhubungan serta kepolisian. Kendaraan tersebut dinilai berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terutama karena kerap dimodifikasi tanpa standar resmi.

Namun dalam karnaval baru-baru ini, justru terlihat odong-odong ikut serta sebagai peserta. Hal ini sontak memicu tanda tanya publik terkait konsistensi aturan yang berlaku.

Yang menjadi sorotan odong – ondong tersebut dinaiki oleh istri – istri para anggota DPR

“Kalau di jalan umum saja dilarang karena berbahaya, mengapa bisa tampil di acara resmi kabupaten? Ini jelas kontradiktif dan menimbulkan kesan pembiaran,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan karnaval.

Sejumlah warga menilai, penampilan odong-odong dalam karnaval tidak hanya menyalahi aturan, tetapi juga berpotensi menormalkan praktik yang sudah dilarang. Bahkan, ada kekhawatiran jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan menganggap odong-odong kembali diperbolehkan beroperasi.

“Acara karnaval semestinya menjadi ajang edukasi budaya sekaligus memberi teladan kepada masyarakat. Kalau yang ditampilkan justru kendaraan ilegal, berarti pemerintah daerah gagal memberikan contoh yang baik,” ungkap salah satu aktivis di Pekalongan.

Hingga kini, instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan diperbolehkannya odong-odong ikut tampil. Publik menunggu langkah tegas dari pemerintah kabupaten dan aparat penegak hukum agar aturan tidak hanya berlaku di atas kertas, tetapi juga dijalankan secara konsisten di lapangan. (Agung Dwi Wicaksono)

QR Code

Terkait

[caption id="attachment_1300" align="aligncenter" width="768"] Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

Warga terdampak tol mulai pindah

[caption id="attachment_1331" align="aligncenter" width="768"] Warga terdampak tol di desa Bulakpelem, Sragi ini mulai membongkar rumahnya secara swadaya. (15/10) Foto : Read more

Angaran Pilkades Rembang telan 1.5 miliar

[caption id="attachment_1372" align="alignnone" width="717"] Ilustrasi: Rembang akan melaksanakan pilkades bagi 43 desa secara serentak pada 30 Nopember 2016 mendatang. Rembang, Read more

selengkapnya
Layanan PublikSeni Budaya

MIRIS! Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan Terlupakan, Disulap Jadi Lahan Bisnis Sementara Bangunan Sejarah Terbengkalai

IMG-20250804-WA0030

Warta Desa,Pekalongan – Ditengah geliat pembangunan dan modernisasi yang terus berlangsung di Kabupaten Pekalongan, nasib bangunan bersejarah justru semakin terpinggirkan. Salah satunya adalah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan, yang kini keadaannya sangat memprihatinkan. Bangunan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan dan simbol kekuasaan lokal itu kini seakan hanya menjadi saksi bisu kehampaan sejarah, dilupakan oleh penguasa dan tidak dipedulikan oleh pihak terkait.

Ironisnya, kawasan sekitar pendopo kini justru dipenuhi oleh aktivitas ekonomi, mulai dari warung, stan makanan, toko-toko kaki lima, hingga tempat parkir komersial. Aktivitas bisnis yang semakin padat di sekitar area pendopo tidak diiringi dengan upaya perawatan atau pelestarian terhadap bangunan utamanya. Pendopo dibiarkan kusam, reyot, dan nyaris tak terawat. Cat tembok yang mengelupas, kayu-kayu yang lapuk, dan atap yang mulai rusak menjadi pemandangan sehari-hari yang mencoreng identitas budaya daerah.

Seorang warga setempat, Bapak Sutrisno (62), yang sejak kecil tinggal di kawasan itu, mengungkapkan keprihatinannya.

> “Dulu pendopo ini menjadi pusat kegiatan adat dan pemerintahan. Sekarang hanya jadi pemandangan yang menyedihkan. Tidak ada lagi jiwa sejarah di sini. Pemerintah seakan membiarkannya hancur pelan-pelan,” ucapnya.

 

Pendopo Lama tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai arsitektural tinggi sebagai salah satu peninggalan masa pemerintahan kabupaten tempo dulu. Namun, nilai-nilai luhur tersebut saat ini tertutup oleh geliat bisnis yang mengitari kawasan tersebut. Seolah-olah, ekonomi lebih dikedepankan daripada pelestarian warisan leluhur.

Beberapa pemerhati budaya juga menyayangkan tidak adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam menyelamatkan bangunan tersebut.
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, tinggal tunggu waktu sampai pendopo itu benar-benar roboh atau digantikan bangunan lain,” ujar Turadi, pegiat sejarah lokal. “Padahal jika dirawat dan difungsikan dengan baik, pendopo bisa jadi ikon wisata sejarah Pekalongan.”

Tidak sedikit pula yang menilai bahwa pengelolaan kawasan ini hanya berpihak pada kepentingan sesaat. Tanpa ada regulasi ketat, area sekitar pendopo disulap jadi lahan parkir dan kios-kios yang memberi keuntungan instan, tetapi menggerus nilai budaya.

Hingga kini belum ada informasi pasti dari pihak pemerintah daerah mengenai rencana revitalisasi atau pelestarian pendopo. Dinas terkait pun belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini, masyarakat berharap agar Pendopo Lama Pekalongan tidak hanya dijadikan latar belakang dari geliat bisnis yang kian ramai, tetapi juga dijadikan prioritas dalam pelestarian sejarah daerah. Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan telinga terhadap kondisi nyata warisan budaya yang tengah sekarat di depan mata. (Agung Dwi Wicaksono)

 

QR Code

Terkait
Alih Fungsi Pendopo Lama Pekalongan Dinilai Komersial, Abaikan Nilai Sejarah Leluhur

Warta Desa, Pekalongan – Bangunan bersejarah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan kembali menuai sorotan publik. Alih fungsi bangunan yang dulunya merupakan pusat Read more

Muhammadiyah dan Pendidikan: Refleksi di Hari Pendidikan Nasional 2025

Oleh : H. Tjahyono, M. Pd “Orang Islam jangan hanya menjadi penonton dalam arus kemajuan. Kita harus menjadi pelaku, dan Read more

Tren Banyak BMT Kolaps, Muhammadiyah Kajen Pekalongan Ingatkan Semangat Pendirian BT Muhamka

Warta Desa, Pekalongan - Di tengah kondisi banyaknya lembaga koperasi dan Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang kolaps dan tidak sehat, Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Paguyuban 212 Cah Sableng Gelar Santunan Anak Yatim dan Ruwat Alam

santo

Warta Desa, Pemalang, 21 Juli 2025 – Paguyuban 212 Cah Sableng Sabda Manunggaling Pamalang kembali menggelar kegiatan tahunan berupa tasyakuran ruwat alam dan santunan anak yatim, bertempat di Pendopo Paseban, Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang.

Acara ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap alam dan rezeki yang telah diterima. Dalam kesempatan kali ini, sebanyak 100 anak yatim dan kaum dhuafa menerima santunan dari paguyuban.

Kegiatan dimulai pada Minggu Pon siang hingga malam hari. Masyarakat Kelangdepok turut berpartisipasi dalam arak-arakan gunungan hasil bumi yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil tani lainnya. Gunungan ini sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan alam.

Acara ruwat alam ini juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Dalang Mangun Yuwono, membawakan lakon Parikesit, yang sarat dengan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal nusantara.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Bupati Pemalang, perwakilan dari Kesbangpol, Prokopimcam, Kepala Desa Kelangdepok, para sesepuh, serta masyarakat dari berbagai kalangan yang turut meramaikan acara.

Dalam sambutannya, Bupati Pemalang menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami sangat mendukung dan berharap kegiatan mulia seperti ini terus dilaksanakan. Pemerintah Kabupaten Pemalang siap turut hadir dan mendukung dalam pelestarian budaya serta kegiatan sosial seperti santunan anak yatim,” ujarnya.

Sementara itu, Eyang Sujito, sesepuh Paseban dan tokoh paguyuban 212 Cah Sableng, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada jajaran pemerintah Kabupaten Pemalang atas kehadiran dan dukungannya. “Ini merupakan bentuk sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga budaya dan kepedulian sosial,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap sesama masih kuat tertanam di tengah masyarakat Pemalang. (Gusanto)

Terkait
Bocah Karateka Asal Pekalongan, Sumbang Medali Untuk Pemalang

Unggul Seno menerima pengalungan medali perak dalam lomba Karate Open Jateng & DIY FORKI, (22/10) di Read more

Warga Pemalang jadi korban pembunuhan sadis di Pulomas

Bantarbolang, Wartadesa. - Sugianto (48), warga Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang turut menjadi korban pembunuhan sadis di Jl Pulomas Utara Read more

Warga buka segel kantor Desa Ampelgading

Dampak warga tuntut dua oknum perangkat desa dipecat Pemalang, Wartadesa. - Kapolsek Ampelgading, AKP Heriyadi Noor bersama Camat, Kepala Desa dan Read more

Warga temukan mayat tak dikenal di Kedungbanjar Pemalang, Andakah keluarganya?

Pemalang, Wartadesa. - Polsek Taman Kabupaten Pemalang menunggu 1 x 24 jam, jika tidak ada keluarga yang mengakui korban maka Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni BudayaSosial Budaya

Ruwatan Alam dan Arak-Arakan Hasil Bumi Desa Kelangdepok, Pemalang

IMG-20250720-WA0007

Warta Deaa, Pemalang, 20 Juli 2025 – Bertempat di Pendopo Paseban, Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, telah diselenggarakan acara Ruwatan Alam yang diinisiasi oleh Yayasan Sabda Manunggal Pemalang. Acara sakral ini digelar sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus harapan akan keselamatan dan kemakmuran alam dan masyarakat.

Acara ini menghadirkan dalang kondang, Ki Dalang Mangun Yuwono, yang memimpin prosesi ruwatan sebagai simbol penyucian dan doa bersama untuk alam. Ruwatan alam dipercaya sebagai cara untuk membersihkan energi negatif serta menghindarkan masyarakat dari mara bahaya dan bencana.

Salah satu rangkaian utama dalam kegiatan ini adalah arak-arakan hasil bumi yang meriah, di mana masyarakat membawa berbagai macam hasil panen seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan hasil tani lainnya. Arak-arakan ini mencerminkan rasa syukur atas berkah alam sekaligus doa agar hasil panen ke depan semakin melimpah.

Ketua Yayasan Sabda Manunggal Pemalang, Eyang Sujito, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan terus dilestarikan setiap tahunnya. Harapannya, tradisi ini dapat menjadi sarana spiritual untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, serta memperkuat solidaritas masyarakat.

“Dengan ruwatan alam dan arak-arakan hasil bumi, kami berharap masyarakat terhindar dari musibah dan dapat hidup dalam kemakmuran,” ujar Eyang Sujito.

Acara ini mendapat sambutan antusias dari warga Desa Kelangdepok serta masyarakat dari berbagai daerah yang turut hadir dan meramaikan kegiatan. Semangat gotong royong dan pelestarian budaya menjadi nilai utama dalam perhelatan ruwatan alam ini. (Gusanto)

 

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Pertunjukan Musik Gelombang Cinta #2 di Panorama 25 Bojong Dihadiri Ribuan Penonton, Pedagang Kecil Raup Untung Berlipat

konser

Warta Desa, Pekalongan, 4 Juli 2025 – Ribuan penonton memadati kawasan wisata Panorama 25, Desa Duwet, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, pada Jumat (4/7/2025) dalam gelaran Pertunjukan Musik Gelombang Cinta #2. Acara musik yang dimulai pukul 16.00 hingga 23.00 WIB tersebut menghadirkan bintang tamu LAVORA, JKT48, dan NDX A.X.A, memberikan hiburan spektakuler bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.

Diperkirakan sekitar 9.000 penonton hadir dalam konser tersebut. Tak hanya dari Kabupaten Pekalongan, penonton juga datang dari Batang, Pemalang, Kota Pekalongan, hingga Tegal.

Untuk memastikan keamanan dan kelancaran acara, Kabag Ops Polres Pekalongan Kompol M. Farid Amirullah turun langsung memantau jalannya konser bersama Kapamwil Bojong AKP Wastono,  para Padal masing-masing lokasi penggal pengamanan, serta anggota Polri yang tersprint dalam kegiatan.

Pengamanan konser melibatkan, Polri: 120 personel, TNI: 10 personel, Pamswakarsa: 20 personel, EO penyelenggara: 30 personel.

Santi, penonton asal Comal, mengaku puas dan senang bisa menonton konser idolanya. “Senang banget, puas dan nyaman walaupun harus merogoh kantong cukup dalam,” ujarnya.

Sementara itu, Slamet, pedagang jagung keliling di area konser, mengaku bersyukur dengan adanya pertunjukan musik di Panorama 25. “Alhamdulillah omset saya naik tiga kali lipat. Semoga sering ada event seperti ini biar bisa membantu ekonomi pedagang kecil seperti saya,” tuturnya.

Acara musik Gelombang Cinta #2 ini berlangsung aman, tertib, dan meriah, memberikan hiburan sekaligus berkah ekonomi bagi pedagang sekitar. Panorama 25 kembali membuktikan diri sebagai destinasi wisata sekaligus pusat hiburan masyarakat di Kabupaten Pekalongan. (Rohadi)

QR Code

Terkait
Suporter Persekap Tolak Konser Full Satru Dihelat di SWMK

Kajen, Wartadesa. - Suporter Persekap Pekalongan menolak acara Konser Full Satru yang bakal dihelat di Stadion Widya Manggala Krida (SWMK) Read more

Selamatkan hulu Kali Kupang, Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono gelar aksi konservasi

Petungkriyono, Wartadesa. - Perhutani KPH Pekalongan Timur, Cabang Dinas Kehutanan 4 Jawa Tengah dan SwaraOwa, menginisiasi aksi konservasi hutan dengan Read more

Sekda Pemalang: tak ada konser Slank di gelaran Destika Jawara Pemalang

Pemalang, Wartadesa. - Setelah sebelumnya di media sosial berseliweran berita bahwa grub musik Slank akan melakukan 'perform' di gelaran Festival Destika Read more

Polsek Bojong Amankan Pertunjukan Musik STATION PROJECT #2 di Panorama 25 Duwet

Ribuan Penonton Hadir, Acara Berjalan Aman dan Lancar Warta Desa, Pekalongan, 25 Juni 2025 – Polsek Bojong melaksanakan pengamanan kegiatan pertunjukan Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Pemdes Kaliombo Gelar Sedekah Bumi dan Wayang Kulit Semalam Suntuk sebagai Wujud Syukur

kaliombo

Warta Desa, Pekalongan, 28 Mei 2025 – Pemerintah Desa (Pemdes) Kaliombo, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, menggelar acara Sedekah Bumi atau yang dikenal dengan sebutan Legenonan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara tersebut dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang kenamaan, Ki Dalang Atmo Subarno.

Kepala Desa Kaliombo, Slamet, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan warga masyarakat yang telah bahu-membahu, rukun dan kompak dalam menyukseskan acara yang digelar rutin setiap dua tahun sekali ini.

“Sedekah bumi ini adalah bentuk rasa syukur kita atas hasil bumi dan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut andil, semoga acara ini membawa keberkahan bagi seluruh warga Kaliombo,” ujar Slamet.

Sementara itu, Ketua Panitia Sedekah Bumi dalam sambutannya menjelaskan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam peringatan tersebut. Ia menekankan bahwa pertunjukan wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana tuntunan kehidupan.

“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Karena lakon dalam pertunjukan wayang menggambarkan nilai-nilai kehidupan manusia di muka bumi ini. Ada ajaran, petuah, dan filosofi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran,” tuturnya.

Acara berlangsung dengan meriah dan penuh khidmat. Warga tampak antusias memadati lokasi acara hingga larut malam. Kepala Desa Kaliombo juga menyampaikan harapan agar tradisi Sedekah Bumi ini terus dilestarikan oleh generasi mendatang sebagai bagian dari warisan budaya lokal yang sarat makna spiritual dan sosial. (Gusanto)

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Pemdes Sukorejo, Kecamatan Kesesi, Gelar Sedekah Bumi di Bulan Legeno

legeno

Warta Desa, Pekalongan – Pemerintah Desa (Pemdes) Sukorejo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, kembali menggelar tradisi Sedekah Bumi sebagai agenda rutin tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Legeno dalam kalender Jawa. Kegiatan ini berlangsung meriah dengan partisipasi antusias dari seluruh elemen masyarakat yang ingin menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur.

Kepala Desa Sukorejo, Sukirno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sedekah Bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, khususnya hasil bumi, yang telah diterima selama setahun terakhir.

“Tradisi ini bukan hanya sebagai wujud syukur, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas desa,” ujar Sukirno.

Acara yang dipusatkan di pelataran Balai Desa Sukorejo tersebut diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Setelah itu, warga bersama-sama menggelar slametan dengan menyajikan berkat ancak—yaitu hidangan yang disusun di atas wadah berbentuk anyaman bambu berisi nasi, lauk-pauk, dan hasil bumi yang kemudian dimakan bersama sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Warga Desa Sukorejo menyambut baik kegiatan ini. Selain sebagai ajang kumpul dan silaturahmi, Sedekah Bumi juga dianggap mampu menguatkan nilai-nilai budaya dan spiritualitas masyarakat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini secara rutin setiap tahun, Pemdes Sukorejo berharap agar tradisi Sedekah Bumi tetap hidup dan menjadi bagian penting dari kearifan lokal yang diwariskan kepada generasi mendatang. (Gusanto)

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Warga Dukuh Petungkon Gelar Sedekah Bumi di Bulan Legeno, Arak-arakan Gunungan dan Ogoh-Ogoh Babi Hutan Jadi Daya Tarik

IMG-20250526-WA0000

Warta Desa,  Pekalongan – 25 Mei 2025 –
Warga Dukuh Petungkon, Desa Tembelanggunung, Kabupaten Pekalongan, menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi pada bulan Legeno dengan penuh semangat dan kekhidmatan. Acara yang digelar sejak pagi hari ini diawali dengan arak-arakan gunungan hasil bumi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semuanya tampil mengenakan pakaian adat.

Gunungan yang berisi aneka hasil pertanian seperti padi, sayur-mayur, dan buah-buahan, diarak keliling dukuh sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari bumi. Arak-arakan semakin semarak dengan kehadiran Ogoh-Ogoh berbentuk babi hutan yang menjadi perhatian utama warga.

Menurut Budi Legowo, perwakilan panitia Sedekah Bumi Dukuh Petungkon, Ogoh-Ogoh babi hutan dibuat sebagai simbol keresahan petani terhadap gangguan hama babi hutan yang kerap merusak tanaman.

“Ogoh-Ogoh ini kami buat berbentuk babi hutan karena selama ini wilayah pertanian kami sering diganggu oleh hama tersebut. Ini menjadi simbol harapan agar lahan pertanian di Petungkon terbebas dari hama dan hasil panen bisa melimpah,” ungkapnya.

Usai arak-arakan, digelar pula seremonial penumbakan Ogoh-Ogoh babi hutan oleh Ki Dalang Atmo Subarno sebagai bentuk simbolis pengusiran hama dan energi negatif dari wilayah pertanian warga.

Sementara itu, pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Atmo Subarno yang membawakan lakon Kumbakarno Gugur. Pentas budaya ini disambut antusias oleh warga setempat maupun dari dusun sekitar yang memadati lokasi pertunjukan.

Tradisi Sedekah Bumi ini bukan hanya menjadi sarana pelestarian budaya warisan leluhur, tetapi juga menjadi momen kebersamaan warga dalam menyampaikan doa dan harapan untuk keberkahan serta ketentraman desa. Diharapkan, acara ini bisa terus dilestarikan dan menjadi daya tarik budaya yang membanggakan Kabupaten Pekalongan. (Rohadi)

 

QR Code
Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Seni Budaya

PWI-LS Gelar Festival Budaya Legenonan di GPU Kabupaten Pekalongan

legenonan

Warta Desa, Kabupaten Pekalongan – Perjuangan Walisongo Indonesia – Laskar sabillilah(PWI -LS) kab pekalongan menggelar Festival Budaya Legenonan di Gedung Pertemuan Umum (GPU) Kabupaten Pekalongan, Minggu 25 Mei 2025. Acara ini digelar sebagai bentuk komitmen PWI- LS dalam melestarikan budaya lokal serta mempererat sinergi antara Seni dan budaya, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Festival ini menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya khas kab pekalongan mulai dari tari tradisional, musik daerah, dan kuda lumping hingga pengajian. Antusiasme masyarakat tampak tinggi, ditandai dengan padatnya pengunjung yang memadati lokasi sejak pagi hari.

Ketua PWI-LS kab pekalongan Bapak Abdul ghofur menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya luhur yang mulai terlupakan di tengah modernisasi. Ia juga menekankan pentingnya peran seniman dalam membumikan kebudayaan.

“Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni dan budaya lokal, sekaligus momentum membangun kedekatan antara budayawan dan masyarakat,” ujar Ketua PWI-LS dalam sambutannya.

Festival Budaya Legenonan ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh daerah
A. Mokh. Muhtadin ( Panitia penyelenggaraan
B. Abdul Ghofur ( Ketua PWI- LS)
C. Jalal ( Pengurus PWI- LS)
D. KH. Kholil ( pembicara tausiah), perwakilan organisasi masyarakat, pelajar, dan para pelaku seni. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda tahunan dan semakin memperkuat identitas budaya daerah serta meningkatkan pariwisata berbasis kearifan lokal. (Rohmat Hidayat)

QR Code

 

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Desa Limbangan Gelar Sedekah Bumi, Wujud Syukur dan Cinta pada Alam

WhatsApp Image 2025-05-24 at 18.17.27

Warta Desa, Pekalongan, 24 Mei 2025 — Suasana meriah menyelimuti Desa Limbangan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, saat ratusan warga memadati jalan dan lapangan desa untuk mengikuti tradisi Sedekah Bumi. Acara tahunan ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus bentuk cinta masyarakat terhadap alam.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan kirab dan pawai gunungan hasil bumi yang dimulai dari Limbangan Barat dan berakhir di Lapangan Desa Limbangan. Rute pawai yang dimulai pukul 08.30 WIB melintasi Balai Desa Limbangan menuju Desa Karangsari, Kulu, dan kembali ke Lapangan Limbangan, menjadi tontonan yang menyedot perhatian masyarakat sekitar.

Tidak hanya kirab, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan seni tradisional seperti Jaran Kepang Dadi Mulyo dan Kuda Lumping Turonggo Rekso Sari Pamuji, yang disambut antusias oleh masyarakat dari seluruh RT dan RW di desa.

Kepala Desa Limbangan, Rendy Subiyanto,  menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara tersebut dengan lancar. “Bismillah, alhamdulillah, saya melihat masyarakat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan adat ini. Ini adalah warisan budaya yang perlu terus kita lestarikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkuat kerja sama antara masyarakat dan pemerintah desa.

“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan kerukunan untuk seluruh warga Desa Limbangan. Terima kasih atas dukungan dan partisipasi masyarakat yang luar biasa,” tambahnya.

Dengan digelarnya Sedekah Bumi, Desa Limbangan menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi lokal sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan sekitar. Tradisi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di wilayah Kecamatan Karanganyar. (Rohadi)

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya