Tegal, Wartadesa. – Akibat dijahili dan dipalak oleh kakak kelasnya sesama santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Sibyan Kedungwuni, tujuh santri yang masih anak-anak ini kabur dengan naik angkutan Elf hingga nyasar ke Kota Tegal, Ahad (10/9).
Muhamad Farel Mesi (11), Muhamad Zaenul Arifin Rohmani (10), Fadlan Niam (9), Dwi Ramadani (9), Arjo Aksanal Qirom (10), Moh Sabit Inam Ariya (10), dan Inayatul Maula (7) menangis di depan gardu masuk obyek wisata Pantai Alam Indah (PAI) Tegal, hingga akhirnya ditemukan oleh warga.
Warga yang melihat tujuh santri kesasar dalam kondisi bingung dan menangis tersebut akhirnya mendekati para santri dan mengantarkan ke Mapolresta Tega. Sembari menunggu diantarkan pulang ke rumahnya masing-masing.
Setelah diantarkan ke Mapolresta Tegal, warga tersebut memposting kejadian santri asal Kabupaten Pekalongan yang kabur hingga ke Kota Tegal ke media sosial.
Menurut Fadlan Niam, santri asal Banjarnegara, mengungkapkan kenekadan dirinya dan teman-temannya untuk kabur karena tidak betah di pondok. “Saya dan teman-teman terpaksa kabur dari Ponpes karena enggak betah dan ingin pulang ke rumah,” ujarnya.
Fadlan menambahkan bahwa dirinya sering dipukul oleh sejumlah seniornya dan juga sering dimintai uang/dipalak. Karena sering diperlakukan tidak adil, Ia bersama keenam teman sesama santri lalu menumpang angkutan mobil Elf hingga ke Kota Tegal dengan membayar Rp. 20 ribu.
Sementara itu, Kapolres Tegal Kota AKBP Semmy Ronny Thaaba mengatakan, semula seorang anggota Pawas Iptu Agung Mugiyanto dan Kanit II SPKT Aiptu Snarto mendapatkan laporan adanya anak-anak yang menangis di sekitar Gerbang PAI.
Dari laporan itu, kata dia, petugas juga langsung ke lokasi kejadian dan menemukan tujuh anak yang sedang menangis kebingungan. Ujar Semmy.
“Dari hasil keterangan sementara, ketujuh anak santri tersebut meninggalkan Ponpes karena tidak betah. Bahkan, mereka mengaku hanya ingin sekolah seperti anak-anak yang lain dan bukan di pondok,” kata Semmy.
Santri Ponpes itu ada yang mengaku berasal dari Adiwerna, Slawi, hingga ada yang dari Banjarnegara. Akhirnya, polisi berkoordinasi dengan Mapolres Tegal untuk mengembalikan anak ke orangtuanya. Demikian halnya dengan dua anak santri yang berasal dari Banjarnegara.
Kita bantu dan antar kerumah, hingga semalam, dua orang anak yang berasal dari Kalibening telah diserahkan setelah dijemput pihak keluarga dan sekolah,” pungkasnya (WD, Humas Polresta Tegal)










