close
Opini

FISIOTERAPIS MUDA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PEMULIHAN FUNGSI GERAK MENUJU GENERASI EMAS 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 18.30.23

Oleh: Arini Khairunnisa

 

Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita besar bangsa yang hanya dapat diwujudkan oleh generasi yang sehat, produktif, dan mampu bergerak bebas tanpa hambatan fisik. Namun, di balik optimisme itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia, yakni sebesar 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian nasional. Di sisi lain, Riset Kesehatan Dasar juga mencatat bahwa proporsi penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun yang kurang beraktivitas fisik terus meningkat, dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018, sebuah tren yang memperbesar risiko gangguan muskuloskeletal dan penyakit tidak menular penyebab keterbatasan gerak. Di sisi lain, jumlah lansia yang membutuhkan pemulihan fungsi gerak juga terus bertambah seiring transisi demografi menuju masyarakat menua, sebagaimana tergambar dalam proyeksi penduduk jangka panjang Badan Pusat Statistik.

Persoalan ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ketiga, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menargetkan setiap individu memperoleh akses layanan kesehatan yang layak, termasuk layanan rehabilitasi fisik. Sayangnya, akses terhadap fisioterapi di Indonesia masih timpang, karena layanan ini masih terpusat di kota besar sementara masyarakat di desa dan daerah terpencil kesulitan menjangkaunya. Di titik inilah mahasiswa fisioterapi, sebagai calon tenaga kesehatan profesional, memiliki peran strategis untuk hadir lebih awal sebagai agen perubahan.

World Health Organization bahkan telah menegaskan pentingnya rehabilitasi melalui inisiatif Rehabilitation 2030, yang menyoroti bahwa satu dari tiga orang di dunia berpotensi membutuhkan layanan rehabilitasi, namun ketersediaan tenaga dan fasilitasnya masih jauh dari mencukupi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. World Physiotherapy, organisasi global fisioterapi, juga mencatat adanya kekurangan tenaga rehabilitasi yang kritis di berbagai belahan dunia akibat populasi yang menua dan meningkatnya penyakit kronis. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pemulihan fungsi gerak bukan lagi persoalan yang dapat ditunda, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dijawab bersama, termasuk oleh generasi muda yang masih berstatus mahasiswa.

Gangguan fungsi gerak bukan sekadar persoalan medis individu, melainkan ancaman terhadap produktivitas bangsa secara luas. Seseorang yang mengalami kelumpuhan pascastroke, cedera tulang belakang, atau keterbatasan gerak akibat penyakit kronis akan kehilangan kemandirian dan kesempatan berkontribusi secara ekonomi maupun sosial. Jika dibiarkan tanpa penanganan rehabilitasi yang tepat, jumlah penyandang disabilitas fungsional berpotensi terus bertambah dan menjadi beban ganda bagi keluarga maupun sistem kesehatan nasional menjelang tahun 2045, saat Indonesia diproyeksikan menikmati puncak bonus demografi.

Pentingnya penyelesaian masalah ini tidak lepas dari kaitannya dengan beberapa target SDGs sekaligus. Selain SDG 3 tentang kesehatan, upaya pemulihan fungsi gerak juga menyentuh SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi kesehatan gerak sejak dini, serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) karena pemerataan akses fisioterapi akan mengurangi ketimpangan layanan kesehatan antara kota dan desa. Tanpa keseriusan menangani isu ini, cita-cita generasi emas yang sehat dan produktif akan sulit tercapai.

Di sinilah peran mahasiswa fisioterapi menjadi penting. Sebagai generasi muda yang dibekali ilmu tentang anatomi, biomekanik, dan modalitas terapi, mahasiswa fisioterapi tidak perlu menunggu lulus untuk mulai memberi manfaat. Melalui organisasi kemahasiswaan, kegiatan pengabdian masyarakat, dan pemanfaatan teknologi, mahasiswa dapat menjadi ujung tombak yang menjembatani kesenjangan akses layanan pemulihan fungsi gerak, sekaligus menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga fungsi gerak sejak dini.

Persoalan ini semakin mendesak jika dikaitkan dengan pola hidup generasi muda masa kini. Kebiasaan duduk berjam-jam di depan layar gawai dan minimnya aktivitas fisik membuat gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung dan leher kini banyak dialami bahkan oleh usia produktif dan pelajar. Jika generasi yang diharapkan menjadi tulang punggung Indonesia Emas 2045 justru mengalami gangguan gerak sejak usia muda, maka target bonus demografi yang produktif akan sulit terwujud. Oleh karena itu, intervensi preventif berbasis edukasi jauh lebih efektif dibandingkan menunggu masalah muncul terlebih dahulu.

Selain aspek fisik, gangguan fungsi gerak yang tidak tertangani juga membawa dampak psikologis dan sosial yang tidak kalah serius. Individu yang kehilangan kemampuan bergerak secara mandiri rentan mengalami penurunan rasa percaya diri hingga ketergantungan penuh pada keluarga. Padahal, keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hidup setiap warganya, termasuk mereka yang pernah mengalami keterbatasan gerak. Hal ini menunjukkan bahwa peran fisioterapi tidak sekadar memulihkan fungsi fisik, tetapi juga mengembalikan martabat dan kemandirian seseorang untuk kembali berperan aktif di tengah masyarakat.

Pertama, mahasiswa fisioterapi dapat menginisiasi program edukasi dan skrining gerak sederhana bertajuk “Gerak Sehat Desa” yang dilaksanakan melalui kegiatan pengabdian masyarakat maupun Kuliah Kerja Nyata. Program ini berfokus pada deteksi dini gangguan postur, keseimbangan pada lansia, serta edukasi latihan peregangan bagi pekerja dan pelajar yang banyak duduk, sehingga masalah muskuloskeletal dapat dicegah sebelum menjadi kronis.

Kedua, mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi digital melalui rintisan layanan telerehabilitasi sederhana, misalnya video panduan latihan pemulihan pascacedera atau pascastroke ringan yang disebarkan melalui media sosial dan kanal edukasi kampus. Inovasi semacam ini menjadi solusi realistis bagi masyarakat di daerah dengan akses fisioterapis yang masih terbatas, sekaligus melatih mahasiswa untuk berpikir inovatif dan berbasis bukti ilmiah.

Ketiga, organisasi mahasiswa fisioterapi dapat menjalin kolaborasi lintas program studi kesehatan untuk membangun pos rehabilitasi komunitas berbasis kewirausahaan sosial, yang tidak hanya memberi layanan gerak dasar bagi masyarakat prasejahtera, tetapi juga menjadi wadah penelitian mahasiswa untuk mengembangkan metode terapi yang lebih efektif dan terjangkau. Ketiga langkah ini realistis untuk dijalankan mahasiswa karena tidak memerlukan kewenangan klinis penuh, namun tetap memberi dampak nyata bagi pemulihan fungsi gerak masyarakat.

Keempat, mahasiswa dapat mengembangkan inovasi alat bantu gerak sederhana dan terjangkau melalui ajang kompetisi karya ilmiah maupun program kreativitas mahasiswa. Inovasi semacam ini melatih mahasiswa fisioterapi untuk berpikir kritis dan solutif, sekaligus membuka peluang kewirausahaan di bidang kesehatan yang mendukung kemandirian ekonomi generasi muda.

Kelima, mahasiswa juga dapat aktif menjadi kader kesehatan gerak di lingkungan kampus dan sekitarnya, misalnya dengan menginisiasi kelas peregangan rutin bagi civitas akademika maupun pelatihan kader kesehatan di tingkat desa yang dapat meneruskan edukasi secara mandiri setelah program mahasiswa berakhir. Dengan pendekatan ini, dampak yang dihasilkan tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai, melainkan terus berkelanjutan karena masyarakat telah dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menjaga fungsi gerak secara mandiri.

Pemulihan fungsi gerak adalah fondasi penting bagi terwujudnya generasi yang sehat, mandiri, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. Mahasiswa fisioterapi, dengan bekal keilmuan dan semangat pengabdian, memiliki peluang besar untuk menjadi ujung tombak perubahan tersebut melalui edukasi, inovasi teknologi, dan aksi nyata di tengah masyarakat.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Satu sesi edukasi peregangan di desa atau satu video panduan latihan yang dibagikan secara daring dapat menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya menjaga fungsi gerak. Oleh karena itu, mari jadikan bangku kuliah bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang untuk berkarya nyata bagi bangsa. Sudah saatnya generasi muda, khususnya mahasiswa bidang kesehatan, tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian aktif dalam mewujudkan target SDGs demi masa depan bangsa yang sehat, produktif, dan bergerak bebas tanpa hambatan menuju Indonesia Emas 2045.

Referensi

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/id/cegah-stroke-dengan-aktivitas-fisik

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Kurang Aktivitas Fisik Berpotensi Alami Penyakit Tidak Menular. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/kurang-aktivitas-fisik-berpotensi-alami-penyakit-tidak-menular

World Health Organization. (2017). Rehabilitation 2030 Initiative. Diakses dari https://www.who.int/initiatives/rehabilitation-2030

Kementerian PPN/Bappenas. (2023). Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 118/M.PPN/HK/08/2023 tentang Peta Jalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs Tahun 2023-2030. Diakses dari https://jdih.bappenas.go.id/peraturan/countviewer/3368/2023kepmenppn118.pdf

Badan Pusat Statistik. (2023). Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2050 Hasil Sensus Penduduk 2020. Diakses dari https://www.bps.go.id/id/publication/2023/05/16/fad83131cd3bb9be3bb2a657/proyeksi-pendudukindonesia-2020-2050-hasil-sensus-penduduk-2020.html

World Physiotherapy. Workforce. Diakses dari https://world.physio/advocacy/workforce

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S1 Fisioterapi  Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : fisioterapiumpp