Oleh: Nabila Putri Laura
Pendahuluan
Indonesia memiliki cita-cita menjadi negara maju melalui terwujudnya Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu hal yang penting. Generasi muda yang sehat, berpendidikan, dan produktif merupakan modal utama dalam pembangunanr bangsa. Namun, masih terdapat berbagai permasalahan kesehatan yang dapat menghambat kualitas generasi muda, salah satunya adalah anemia pada remaja.
Anemia merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin sehingga kemampuan darah dalam membawa oksigen menjadi berkurang. Remaja putri menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena mengalami menstruasi setiap bulan sehingga memiliki risiko kehilangan zat besi. Selain itu, pola makan yang kurang seimbang dan kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan gizi dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia.
Permasalahan tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Oleh karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan anemia.
Pembahasan
Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada remaja dinegara berkembang, termasuk Indonesia. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa anemia adalah masalah kesehatan global yang mempengaruhi sekitar 40-88% remaja dunia (WHO., 2022). Pada remaja putri (rematri) dinegara berkembang, prevalensi anemia mencapai 53,7%, yang merupakan proporsi yang signifikan dan mengkhawatirkan dalam konteks kesehatan remaja. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (2024) mencatat prevalensi anemia pada remaja sekitar 20-30%. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka ini meliputi pola makan yang tidak seimbang, defisiensizatbesi, serta kondisi kesehatan tertentu yang memperparah risiko anemia diusia remaja (Dewi, Sandra S., Hartono, W., & Susanti, R., 2021).
Permasalahan anemia pada remaja tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan saat ini, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan pada masa mendatang. Remaja putri merupakan calon ibu sehingga kondisi kesehatan sejak remaja perlu diperhatikan. Penelitian Pibriyanti dkk. (2024) secara khusus menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan mengonsumsi TTD dengan kejadian anemia pada remaja putri.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja melalui edukasi kesehatan. Penelitian Nurbaiti, Santoso, dan Supriyadi (2025) menunjukkan bahwa model edukasi yang diberikan kepada remaja putri efektif meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan dalam mengonsumsi TTD. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan secara terarah dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung pencegahan anemia pada remaja.
Di era digital, masyarakat dapat memperoleh informasi kesehatan dengan sangat mudah. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Mahasiswa kebidanan dapat membantu dengan menyebarkan informasi berdasarkan sumber yang kredibel serta mengajak masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang belum terverifikasi. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat ikut membangun masyarakat yang lebih kritis terhadap informasi kesehatan.
Permasalahan tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan sebagai bagian dari generasi muda dan calon tenaga kesehatan dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai pencegahan anemia. Peran tersebut dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan, kampanye di media sosial, kegiatan di sekolah, maupun kerja sama dengan tenaga kesehatan dan masyarakat.
Gagasan dan Aksi Mahasiswa
Salah satu gagasan yang dapat dilakukan adalah membentuk gerakan “Remaja Bebas Anemia” yang dilaksanakan melalui kegiatan edukasi dan kampanye kesehatan. Mahasiswa keperawatan dapat menjadi penggerak dengan membuat konten edukasi mengenai anemia dan menyebarkannya melalui media sosial. Kegiatan juga dapat dilanjutkan dengan edukasi secara langsung di sekolah atau lingkungan masyarakat.
Mahasiswa dapat mengajak remaja untuk lebih memperhatikan pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan sumber zat besi. Selain itu, mahasiswa dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi mengenai pemeriksaan kesehatan dan program yang ditujukan untuk remaja putri, termasuk pentingnya konsumsi tablet tambah darah sesuai petunjuk.
Gerakan tersebut tidak membutuhkan biaya besar dan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Mahasiswa dapat memanfaatkan organisasi kampus sebagai wadah untuk mengembangkan kegiatan, kemudian memperluas kegiatan melalui kerja sama dengan sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai kesehatan di dalam kelas, tetapi juga dapat menerapkan ilmu keperawatan yang dimiliki untuk memberikan manfaat kepada Masyarakat.
Penutup
Pencegahan anemia pada remaja merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan generasi muda yang sehat dan produktif. Sebagai mahasiswa keperawatan, terdapat kesempatan untuk berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Melalui edukasi, pemanfaatan media sosial, kegiatan sosial, serta kerja sama dengan berbagai pihak, mahasiswa keperawatan dapat menjadi agen perubahan dalam mendukung tercapainya SDGs, khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Kontribusi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan lebih banyak generasi muda, dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Referensi
Kusumaningrum, dkk. (2025). Edukasi pentingnya konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di SMK Muhammadiyah Kartasura. Jurnal SOLMA.
Nurbaiti, Santoso, dan Supriyadi. (2025). Model edukasi meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Jurnal Sains Kebidanan.
Pibriyanti, dkk. (2024). Pengetahuan, sikap, dan kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah sebagai faktor risiko kejadian anemia remaja putri. Nutri-Sains.
Yahena, dkk. (2024). Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan tentang tablet tambah darah dan praktik minum tablet tambah darah pada remaja putri. Jurnal Gizi Aisyah.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan










