close
Ekonomi

Harga kulakan naik, Mak Par bingung tak bisa naikin harga jualan

bakul warung
Mak Par, penjual nasi di Desa Kebonsari Karangdadap

Karangdadap, Wartadesa. – Naiknya harga kebutuhan pokok, membuat sebagian pedagang warung makan mengeluh. Seperti disampaikan oleh Mak Par, pedagang warung nasi yang ada di sebelah timur Lapangan Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan. Mak Par mengaku bahwa harga kulakan beberapa bahan pokok untuk warungnya naik. Namun dia tidak serta-merta bisa menaikkan harga jual, lantaran takut ditinggal pelanggan.

“Pada naik mas, untuk belanjaan. Yang belanja sih bapaknya. Kalau naik (bahan pokok) ya bapaknya bilang … minyak goreng naik, apa-apa bahan kulakan yang dibeli … kalau naik bapaknya akan bilang,” tuturnya, Jum’at (12/10).

Mak Par mengaku harga beli tempe “sachet” sebelumnya Rp. 5 ribu, hari ini naik menjadi Rp. 6 ribu. “Tempe kemarin bapaknya beli masih lima ribu, sekarang sudah enam ribu,” lanjutnya.

Meski beberapa bahan kulakan untuk warungnya mengalami kenaikan, namun Mak Par mengaku tidak berani menaikkan harga jual. “Bingung mas … kalau dinaikkan atau dikurangi porsinya … pelanggan akan protes. Sementara belum berani menaikkan harga jual. Malah sekarang saya tidak berani jualan mi instant (dia menyebut salah satu merek), lantaran naiknya tiggi,” masih tutur Mak Par.

Hal yang sama diakui oleh Mba Narti, pedagang warung nasi yang mangkal di Jalan Capgawen. “Barang belanjaan naik semua mas … paling kita bisanya mengurangi porsi saja. kalo harganya dinaikkan, pasti pembeli nanya … kog naik sih,” tuturnya.

Ketika ditanya penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut, Mak Par dan Mba Narti menjawab seragam, “Nggak tahu penyebabnya mas …. pokoknya hampir tiap hari ada saja belanjaan yang naik … mungkin karena dolar yang makin tinggi … atau jangan-jangan karena kemarin ada kenaikan harga BBM?,” ujar Mba Narti berbalik menanyakan penyebab naiknya kebutuhan pokok.

Mba Narti mengaku, kemarin dikomplain oleh pembeli lantaran porsi dagangannya dikurangi. “Kemarin ada yang pesan paketan untuk anak-anak kemah, satu porsi Rp. 3 ribu, ya … lantaran belanjaan naik, saya kurangi porsi nasinya … eh … anak-anak pramuka yang pesan protes, katanya kalau ada kegiatan lagi tidak mau pesan ditempatku mas … kan saya jadi bingung. Dikurangi porsinya protes, apalagi kalau dinaikkan harganya,” pungkas Mba Narti. (WD)

Terkait
Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

Harga lombok di pasar tradisional Pekalongan tembus 40 ribu

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Harga lombok atau cabai di Kota Pekalongan dan sekitarnya tembus higga Rp. 32 ribu perkilogram, bahkan Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : kulakan naik