Wiradesa, Wartadesa. – Kericuhan berkali-kali tejadi dalam Pekan Olahraga Desa (Pordes) Zona Utara yang diselenggarakan oleh Latih Tanding (LT) di lapangan sepakbola Desa Wiradesa (Ketandan) Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, Rabu (5/4) sore kemarin.
[button type=”3d” color=”” target=”” link=”https://www.wartadesa.net/pordes-zona-utara-16-besar-ricuh-suporter-dadirejo-minta-pertandingan-diulang/”]Baca: Pordes Zona Utara 16 Besar Ricuh, Suporter Dadirejo Minta Pertandingan Diulang[/button]
Kali ini kericuhan dipicu oleh aksi pemukulan pemain kesebelasan tuan rumah Desa Ketandan terhadap pemain dari kesebelasan Desa Bebel Kecamatan Wonokerto, setelah skor 1-0 untuk kesebelasan Desa Wiradesa (Ketandan).
“Score 1-0, menang Ketandan. Tapi laga masih berjalan terus ada insiden, pemaine Bebel diantem pemaine Ketandan. Sing ngantem nomer 7.” Ujar Huda, salah seorang penonton pertandingan di lokasi kejadian.
Akibat insiden tersebut, kedua suporter masuk ke arena pertandingan hingga panitia LT memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan.
Aksi adu jotos layaknya laga MMA ini disayangkan oleh pecinta sepakbola di Kabupaten Pekalongan, “Ini sepakbola apa MMA? Kog isinya adu jotos,” ujar salah seorang penonton.
Sementara itu pecinta sepakbola Pekalongan, Arahman menyayangkaan kejadian tersebut. “Sangat disayangkan panitia dan tuan rumah tidak bisa menjaga situasi menjadi kondusif. Tidak bisa meredam suporter tuan rumah yang disebelah Timur dan Utara.” Ujar Arahman.
Arahman melanjutkan, Insiden dilapangan murni antar pemain dan wasitpun sudah membuat keputusan pelanggaran. Tapi pemain tuan rumah melakukan tindakan provokatif dan memancing emosi pemain tamu. Dan suporter tuan rumah masuk kelapangan mulai terjadi tindakan anarkis terhadap pemain tamu dari Bebel, itu yang aku lihat, tambahnya.
Kontributor Wartadesa, Hamam Triadi melaporkan bahwa akibat insiden tersebut pertandingan dihentikan. Sementara penonton yang rata-rata merupakan suporter dari tim kesebelasan desa lainnya mengultimatum agar panitia menghentikan laga final yang akan digelar di hari berikutnya.
“Pokok’e Jumat kudune ora ono final. Nek ono final too kudu diamuk …Pokok’e ngamuk… Haram final …” Ujar Huda yang kecewa dengan laga pertandingan yang digelar dalam Pordes Zona Utara karena berkali-kali ricuh.

Sebelumnya kericuhan terjadi saat laga 16 besar antara kesebelasan Sidorejo Tirto melawan kesebelasan Api-Api Wonokerto, aksi pemukulan oleh suporter dari Desa Sidorejo, hingga panitia menjatuhkan sanksi denda Rp. 20 juta dan diskualifikasi dalam LT tahun berikutnya (tahun 2018). Namun sanksi ini tidak dijalankan oleh panitia dengan alasan tidak ingin mematikan potensi Sidorejo.
“Surat sangsi sebetule sudah keluar tapi setelah negosiasi, (sanksi) dibatalkan dengan alasan tidak ingin mematinkan potensi Sidorejo … tapi menurut saya bukan prestasi tapi potensi penonton yang banyak dari Sidorejo,” ujar seorang sumber. (Hamam T, Bono)










