PEKALONGAN, WARTA DESA. – Di tengah dinamika zaman yang sering kali menonjolkan perbedaan, sebuah pemandangan menyejukkan hati tersaji di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Tiga organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di wilayah tersebut—Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Rifaiyah—duduk berdampingan dalam satu majelis. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah manifestasi nyata dari indahnya ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim).
Kegiatan bertajuk Doa Bersama untuk Tokoh Bangsa ini digelar pada Ahad, 15 Februari 2026, bertempat di halaman kediaman Habib Ahmad bin Hasan Al Kaff, Jalan Raya Sapugarut. Lokasi yang terletak tepat di sebelah selatan Kantor Kecamatan Buaran tersebut dipadati oleh para jamaah yang antusias menyaksikan momentum bersejarah ini.
Merajut Persaudaraan Melalui Doa
Acara ini dihadiri oleh para tokoh sentral dari ketiga ormas tersebut, di antaranya Kyai Murtadho mewakili Nahdlatul Ulama, Kyai Basith Al Hafidh dari Rifaiyah, dan Kyai Mirwan dari Muhammadiyah. Kehadiran mereka di satu panggung menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam metode dakwah maupun organisasi, tujuan akhirnya tetap sama: memohon rida Allah SWT dan mendoakan para pahlawan bangsa.
Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bligo, Rusman Effendy, menjelaskan bahwa kegiatan pengajian rutin ini kali ini memiliki nuansa spesial karena dilaksanakan bersama-sama untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
“Ini adalah wujud sinergi antara tiga ormas Islam terbesar. Kami ingin memastikan bahwa menyambut Ramadan tahun ini diawali dengan hati yang bersih dan semangat kebersamaan,” ujar Rusman.
Selain para tokoh agama, tampak hadir pula jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Sekretaris Camat, perwakilan Polsek Buaran, TNI, hingga Lurah Sapugarut. Kehadiran unsur pemerintah dan aparat keamanan ini menegaskan bahwa persatuan umat adalah fondasi utama stabilitas nasional.
Perbedaan Sebagai Rahmat, Bukan Penyekat
Ketua Umum Pelaksana Kegiatan, Abdul Haris Hamam, dalam sambutannya memberikan pesan mendalam mengenai arti penting persatuan. Menurutnya, perbedaan latar belakang organisasi tidak boleh menjadi penghalang untuk hidup rukun. Sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai kekayaan yang memperdalam makna persaudaraan.
“Kita belajar bahwa perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan warna yang memperindah kebersamaan. Hidup rukun tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari sikap saling menghormati dan menerima satu sama lain,” tutur Hamam dengan penuh semangat.
Hamam menekankan bahwa ukhuwah islamiyah adalah jembatan hati. Di tengah keberagaman cara pandang, jembatan inilah yang menyatukan perasaan setiap mukmin. Ia juga menegaskan bahwa silaturahmi yang tulus tidak cukup hanya diucapkan di bibir, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan konkret seperti berkumpulnya tiga ormas ini dalam satu majelis.
Pesan Kerendahan Hati dan Harapan Masa Depan
Di akhir acara, suasana menjadi khidmat saat doa mulai dipanjatkan. Hamam mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengedepankan sifat tawadhu (rendah hati) dalam beragama dan berorganisasi.
“Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati, selalu belajar, dan memperbaiki diri. Kita harus menjauhkan diri dari sifat sombong, merasa paling benar sendiri, atau merasa lebih tinggi dari yang lain,” tambahnya.
Momentum di Buaran ini diharapkan menjadi pemantik bagi daerah lain di Indonesia. Ketika NU, Muhammadiyah, dan Rifaiyah dapat bersatu dalam doa, maka tidak ada alasan bagi umat Islam untuk terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan atau afiliasi organisasi.
Persatuan yang ditunjukkan di Sapugarut, Buaran, adalah bukti bahwa Islam adalah agama kedamaian. Dengan merawat ukhuwah, umat Islam di Pekalongan telah mengirimkan pesan kuat kepada bangsa: bahwa persaudaraan adalah energi terbesar untuk membangun peradaban yang lebih baik. Semoga keberkahan doa bersama ini membawa syafaat dari Baginda Nabi Muhammad SAW bagi seluruh umat yang hadir.***
Pewarta: Nanang Fahrudin
Editor: Buono










