Warta Desa, Bandungan, 17 April 2025 — Mahasiswa PPG Universitas PGRI Semarang sukses melaksanakan kegiatan sosialisasi permainan tradisional di SDIT Assalam Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni 16 dan 17 April 2025, ini merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan dengan tema pelestarian budaya dan pembentukan karakter anak.
Sosialisasi ini melibatkan sepuluh mahasiswa calon guru sebagai pelaksana, dan menyasar siswa kelas 3 SD sebagai peserta utama. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi edukatif tentang pentingnya permainan tradisional, dilanjutkan sesi bermain bersama yang melibatkan permainan ular tangga, estafet balok, dan lompat tali karet.
Menurut ketua panitia, Septiya Riskyawan, kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget dengan mengenalkan kembali alternatif hiburan edukatif berbasis budaya lokal. “Kami ingin siswa kembali aktif secara fisik, bersosialisasi langsung dengan teman sebaya, dan menanamkan rasa cinta terhadap budaya bangsa,” ujarnya.
Tingginya penggunaan perangkat digital di kalangan anak-anak telah menimbulkan keprihatinan tersendiri, baik dari pihak sekolah maupun orang tua. Karena itu, melalui kolaborasi antara calon guru, pendidik sekolah, dan masyarakat, permainan tradisional diperkenalkan kembali sebagai solusi alternatif yang menyenangkan dan mendidik.
Kegiatan ditutup dengan simbolisasi penyerahan plakat dan penyampaian pesan-pesan moral tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara teknologi dan budaya. Evaluasi awal menunjukkan respons positif dari peserta, guru, serta orang tua yang mendampingi.
Melalui program ini, diharapkan lahir kesadaran baru di lingkungan sekolah untuk terus mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Selain manfaat budaya dan edukatif, permainan tradisional juga dinilai efektif dalam menumbuhkan semangat sportivitas dan kerja sama di kalangan siswa. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara sosial dan emosional.
Ke depan, mahasiswa PPG Universitas PGRI Semarang berharap program seperti ini dapat direplikasi di sekolah lain, terutama di daerah yang memiliki kekayaan budaya lokal yang belum tergali. Dengan komitmen dan dukungan semua pihak, warisan budaya bangsa berupa permainan tradisional dapat tetap hidup dan relevan di tengah tantangan zaman digital. (Andi Gunawan)










