close

Opini

KesehatanOpini

Inovasi Sehat untuk Diabetes: Peran Multigrain, Umbi Yakon, dan Daun Kelor dalam Menjaga Gula Darah

foto

Oleh : Elisa Issusilaningtyas

Diabetes mellitus telah menjadi ancaman kesehatan global yang serius, dengan prevalensi terus meningkat di seluruh dunia. Di tengah keterbatasan akses obat-obatan dan efek samping yang tidak diinginkan, masyarakat kini mulai melirik kembali kepada kearifan alam. Penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil, dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memilih makanan yang tepat. Salah satunya adalah inovasi makanan sehat yang menggabungkan tiga bahan alami multigrain, umbi yakon, dan daun kelor muncul sebagai inovasi sehat yang menjanjikan dalam membantu mengontrol kadar gula darah penderita diabetes.

Multigrain adalah campuran berbagai biji-bijian seperti gandum, jagung, dan beras merah. Biji-bijian ini kaya akan serat dan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga dapat membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan. Penelitian komprehensif menunjukkan bahwa konsumsi multigrain secara signifikan dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada penderita diabetes. Studi meta-analisis yang melibatkan berbagai uji klinis menemukan bahwa asupan 50 gram multigrain per hari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 24%. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa proporsi multigrain yang lebih tinggi dalam sumber karbohidrat berkorelasi negatif dengan fluktuasi glukosa darah setelah makan. Para ahli merekomendasikan asupan harian lebih dari 150 gram bahan multigrain sebagai pendekatan preventif untuk diabetes. Intervensi dengan berbagai jenis multigrain terbukti lebih efektif dibandingkan konsumsi tunggal satu jenis biji-bijian saja

Umbi yakon (Smallanthus sonchifolius), tanaman asal Amerika Selatan yang kini mulai dikenal luas, memiliki potensi luar biasa sebagai agen antidiabetes. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air dari berbagai bagian tanaman yakon dapat meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan. Ekstrak daun yakon mampu menurunkan indeks glikemik terintegrasi hingga 30,2%, sementara ekstrak umbi menunjukkan efek yang lebih kuat dengan penurunan mencapai 39,4%. Keunggulan yakon terletak pada kandungan fruktooligosakaridasnya yang tinggi sekitar 70-80% dari komposisinya yang berfungsi sebagai prebiotik alami. Senyawa bioaktif dalam yakon, terutama ester asam caffeic, berkontribusi pada efek hipoglikemik yang telah diakui secara luas dalam komunitas ilmiah. Umbi ini tidak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga memodulasi sistem imun dan meningkatkan kesehatan pencernaan.

Daun kelor (Moringa oleifera) yang mudah ditemukan di Indonesia ternyata menyimpan khasiat menakjubkan untuk penderita diabetes. Studi klinis menunjukkan bahwa suplementasi daun kelor dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c secara bermakna. Dalam sebuah penelitian quasi-eksperimental, konsumsi jus daun kelor selama tujuh hari berturut-turut mampu menurunkan kadar gula darah rata-rata sebesar 15,7 mg/dL pada pasien diabetes tipe 2. Lebih menggembirakan lagi, terapi rebusan daun kelor terbukti efektif menurunkan kadar gula darah dan HbA1c dengan nilai signifikansi yang tinggi. Kandungan flavonoid, beta-karoten, vitamin C, dan senyawa bioaktif lainnya dalam daun kelor bekerja sebagai agen antihiperglikemik alami yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur metabolisme karbohidrat

Kombinasi olahraga aerobik dengan suplementasi daun kelor bahkan menunjukkan efek sinergis yang superior dalam meningkatkan kontrol glikemik, profil lipid, dan kadar adiponektin pada pasien diabetes tipe 2.

Sinergi multigrain diperkaya umbi yakon, dan daun kelor bisa menjadi alternatif yang aman dan alami dalam pengelolaan diabetes untuk membantu mengatur kadar gula darah. Multigrain menyediakan karbohidrat kompleks yang melepas energi bertahap membantu menjaga kestabilan gula darah dengan serat dan karbohidrat kompleks, sementara umbi yakon menambah rasa manis alami plus prebiotik, dan kelor memberikan vitamin serta senyawa bioaktif pelindung. Formulasi tepat menghasilkan produk dengan indeks glikemik rendah (52-56), tinggi protein (11,2-14,3%), tinggi serat (9,1-11,6%), dan kaya antioksidan dengan konsep “makanan sebagai obat” dalam filosofi pengobatan tradisional. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Dosen Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Kearifan Alam dan Keilmuan Islam: Inovasi Granul Effervescent Antidiabetes untuk Masyarakat

foto

Oleh: Nikmah Nuur Rochmah

Peningkatan kasus diabetes melitus di Indonesia menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga terjangkau, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Salah satu upaya yang berkembang adalah inovasi granul effervescent antidiabetes berbasis kombinasi umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas, yang dikaji dalam perspektif keilmuan Islam dan kearifan alam.

Dalam pandangan Islam, alam semesta merupakan amanah dari Allah SWT yang mengandung tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat kauniyah). Setiap tumbuhan diciptakan dengan fungsi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Umbi bit merah dikenal kaya antioksidan alami, jahe memiliki aktivitas antiinflamasi dan pengatur metabolisme, sereh berpotensi mendukung keseimbangan metabolik, sedangkan nanas mengandung enzim alami yang membantu proses pencernaan. Kombinasi keempat bahan alam ini mencerminkan kearifan lokal yang selama berabad-abad telah dimanfaatkan masyarakat sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

Keunggulan inovasi ini terletak pada bentuk sediaannya, yaitu granul effervescent. Bentuk ini dipilih karena praktis, mudah dikonsumsi, memiliki rasa yang lebih dapat diterima, serta memungkinkan penyerapan senyawa aktif secara lebih cepat. Dari sisi keilmuan farmasi, formulasi effervescent menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat mengoptimalkan bahan alam tanpa menghilangkan karakter alaminya. Inilah wujud sinergi antara sains kontemporer dan pengetahuan tradisional yang berakar pada budaya masyarakat.

Dalam kajian filsafat ilmu Islam, inovasi ini dapat dipahami melalui tiga aspek utama. Secara ontologis, bahan alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki hakikat dan potensi penyembuhan. Secara epistemologis, pengembangannya dilakukan melalui metode ilmiah—eksperimen, pengujian, dan pembuktian—yang sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang menjunjung tinggi akal dan observasi. Sementara itu, secara aksiologis, tujuan inovasi ini diarahkan pada kemaslahatan umat, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui solusi kesehatan yang aman dan terjangkau.

Lebih dari sekadar produk kesehatan, granul effervescent antidiabetes ini juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Pemanfaatan bahan alam lokal membuka peluang pemberdayaan petani dan masyarakat desa, sekaligus mendorong kemandirian bangsa dalam pengembangan produk kesehatan berbasis sumber daya sendiri. Nilai ini sejalan dengan prinsip Islam tentang keadilan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, inovasi granul effervescent dari umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas bukan hanya menjawab tantangan medis diabetes melitus, tetapi juga merepresentasikan wajah peradaban Islam yang berkemajuan—peradaban yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Melalui kearifan alam dan keilmuan Islam, inovasi ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat sekaligus inspirasi bagi pengembangan sains yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. ***

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap

 

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
Opini

Isra’ Mi’raj sebagai Sumber Nilai Pendidikan Spiritual dan Moral

penulis

Oleh : Dr. Cholisa Rosanti,M.Si

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa pendidikan ilahiah yang sarat makna bagi pembangunan manusia, khususnya dalam dunia pendidikan. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, nilai-nilai Isra’ Mi’raj relevan untuk meneguhkan arah pendidikan agar tidak kehilangan ruh dan tujuan.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan spiritual dan akhlak. Perintah shalat yang diterima Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa Mi’raj menjadi simbol bahwa hubungan dengan Allah (hablum minallah) adalah fondasi utama dalam kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, hal ini menegaskan bahwa proses belajar seharusnya melahirkan pribadi yang sadar akan tanggung jawabnya kepada Tuhan, bukan sekadar manusia yang cakap secara akademik.

Selain itu, Isra’ Mi’raj menunjukkan pentingnya proses dan keteladanan. Nabi Muhammad saw. dipersiapkan secara spiritual sebelum menerima perintah besar. Ini memberi pelajaran bahwa pendidikan memerlukan tahapan, kesabaran, dan pendampingan. Seorang pendidik bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing yang menuntun peserta didik melalui proses pembentukan karakter. Keteladanan Nabi dalam menerima dan menjalankan perintah shalat menjadi contoh nyata bahwa nilai yang diajarkan harus terlebih dahulu dihidupkan oleh pendidiknya.

Dalam dunia pendidikan modern, sering kali keberhasilan diukur melalui angka, peringkat, dan prestasi formal. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa keberhasilan sejati adalah keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kecerdasan dan kesalehan. Pendidikan yang terlepas dari nilai spiritual berisiko melahirkan generasi yang pintar tetapi kehilangan arah, cakap namun miskin empati.

Oleh karena itu, momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi refleksi bagi dunia pendidikan untuk kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran moral, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial, sebagaimana shalat mendidik manusia untuk taat, tertib, dan peduli. Dengan demikian, nilai-nilai Isra’ Mi’raj tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihidupkan dalam praktik pendidikan sehari-hari demi melahirkan generasi berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. ***

Penuis adalah Dosen Universitras Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Integrasi Bioinformatika dan Farmakogenetik terhadap Respon Terapi Imunosupresan pada Resipien Transplantasi Ginjal

khusnul

Oleh: Khusnul Khotimah

Abstrak

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat ditentukan oleh efektivitas dan keamanan terapi imunosupresan jangka panjang, khususnya tacrolimus sebagai agen lini pertama. Namun, tacrolimus memiliki indeks terapeutik sempit dan menunjukkan variabilitas farmakokinetik serta respon klinis yang tinggi antarindividu. Variasi genetik pada gen metabolisme dan transporter obat, terutama CYP3A5, berperan signifikan dalam menentukan kebutuhan dosis, stabilitas kadar obat, serta risiko penolakan graft dan toksisitas. Pendekatan farmakogenetik konvensional yang berfokus pada gen tunggal belum mampu menjelaskan kompleksitas respon terapi yang melibatkan interaksi multi-gen, jalur biologis, serta faktor klinis.

Bioinformatika menawarkan pendekatan berbasis sistem biologi untuk mengintegrasikan data genomik, molekuler, dan klinis secara komprehensif. Artikel ini mengkaji peran integrasi bioinformatika dan farmakogenetik dalam memahami dan memprediksi respon terapi imunosupresan pada resipien transplantasi ginjal, dengan penekanan pada tacrolimus dan stabilitas kadar obat yang direpresentasikan oleh Tacrolimus Trough Level Coefficient of Variation (TTL-CV). Pendekatan integratif ini berpotensi mendukung penerapan precision medicine guna meningkatkan keberhasilan jangka panjang transplantasi ginjal.

Kata kunci: transplantasi ginjal, tacrolimus, bioinformatika, farmakogenetik, TTL-CV, precision medicine.

Pendahuluan

Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal paling optimal bagi pasien penyakit ginjal tahap akhir dan terbukti memberikan harapan hidup serta kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dialisis jangka panjang. Secara global, jumlah transplantasi ginjal terus meningkat seiring bertambahnya beban penyakit ginjal kronis dan kemajuan teknologi medis. Di Indonesia, meskipun jumlah prosedur masih terbatas, tren transplantasi ginjal menunjukkan peningkatan sejalan dengan berkembangnya pusat transplantasi dan sistem pelayanan kesehatan.

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat bergantung pada pengelolaan terapi imunosupresan seumur hidup untuk mencegah penolakan graft. Tacrolimus menjadi agen imunosupresan utama karena efektivitasnya yang tinggi, namun penggunaannya menghadapi tantangan besar akibat indeks terapeutik sempit dan variabilitas farmakokinetik yang tinggi, baik antarindividu maupun intra-pasien. Variabilitas ini berkontribusi terhadap risiko subterapi yang berujung pada penolakan graft, maupun overeksposur yang menyebabkan nefrotoksisitas, gangguan metabolik, dan komplikasi jangka panjang.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa variasi genetik, khususnya polimorfisme pada gen CYP3A5, CYP3A4, dan ABCB1, berperan penting dalam menentukan metabolisme dan distribusi tacrolimus. Namun, sebagian besar studi farmakogenetik masih bersifat reduksionistik dengan fokus pada satu gen, sehingga belum mampu menjelaskan kompleksitas respon terapi yang melibatkan interaksi multi-gen dan jalur biologis. Dalam konteks ini, bioinformatika menjadi pendekatan strategis untuk mengintegrasikan data genetik dan klinis guna mendukung penerapan terapi imunosupresan berbasis presisi.

Ontologi: Hakikat Respon Terapi Imunosupresan dalam Transplantasi Ginjal

Secara ontologis, respon terapi imunosupresan merupakan hasil interaksi dinamis antara obat, sistem imun, dan karakteristik biologis individu. Tacrolimus tidak bekerja dalam ruang biologis yang sederhana, melainkan dalam jaringan molekuler kompleks yang melibatkan enzim metabolisme, transporter obat, jalur pensinyalan imun, serta faktor klinis dan lingkungan. Variasi genetik membentuk dasar biologis yang menyebabkan setiap resipien transplantasi ginjal memiliki respon terapi yang unik.

Konsep ini menegaskan bahwa terapi imunosupresan tidak dapat diperlakukan sebagai intervensi “satu dosis untuk semua”. Stabilitas kadar tacrolimus, yang dapat diukur melalui TTL-CV, mencerminkan keseimbangan biologis antara metabolisme obat dan respon imun. Oleh karena itu, pemahaman ontologis terhadap respon terapi harus mencakup dimensi sistemik yang melampaui analisis gen tunggal.

Epistemologi: Integrasi Bioinformatika dan Farmakogenetik sebagai Kerangka Pengetahuan

Epistemologi respon terapi imunosupresan dibangun melalui integrasi bukti genetik, molekuler, dan klinis. Farmakogenetik menyediakan dasar pengetahuan mengenai hubungan antara variasi genetik dan farmakokinetika tacrolimus, khususnya peran polimorfisme CYP3A5 dalam menentukan kebutuhan dosis dan pencapaian kadar terapeutik. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan ketika diterapkan secara terpisah.

Bioinformatika berperan sebagai kerangka epistemologis yang memungkinkan analisis sistem biologi melalui pemanfaatan basis data genomik seperti GWAS Catalog, HaploReg, GTEx, Ensembl, dan PharmGKB. Melalui pemetaan jalur biologis dan jaringan interaksi gen, bioinformatika mampu mengidentifikasi gen dan pathway kunci yang berkontribusi terhadap variabilitas respon terapi. Integrasi ini memungkinkan pemahaman mekanistik yang lebih mendalam serta mendukung pengembangan model prediksi respon terapi berbasis data.

Dengan demikian, integrasi bioinformatika dan farmakogenetik memperkuat praktik berbasis bukti (evidence-based practice) dalam pengelolaan terapi imunosupresan, sekaligus menjembatani kesenjangan antara temuan genetik dan penerapannya di klinik.

Aksiologi: Nilai Manfaat bagi Pasien dan Sistem Kesehatan

Dari sudut pandang aksiologi, tujuan utama integrasi bioinformatika dan farmakogenetik adalah memberikan manfaat nyata bagi resipien transplantasi ginjal. Pendekatan ini memungkinkan individualisasi dosis tacrolimus secara lebih akurat, mempercepat pencapaian kadar terapeutik, serta menurunkan risiko penolakan graft dan toksisitas obat. Pemanfaatan TTL-CV sebagai mediator biologis memberikan alat evaluasi yang lebih sensitif terhadap stabilitas terapi jangka panjang.

Selain manfaat klinis, pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi pembiayaan kesehatan melalui penurunan komplikasi pascatransplantasi dan kebutuhan rawat inap berulang. Dalam konteks sistem kesehatan nasional, integrasi ini mendukung pengembangan kebijakan berbasis precision medicine yang relevan dengan karakteristik populasi Indonesia.

Penutup

Integrasi bioinformatika dan farmakogenetik merupakan pendekatan inovatif dan strategis dalam memahami serta mengoptimalkan respon terapi imunosupresan pada resipien transplantasi ginjal. Dengan memadukan pemahaman ontologis terhadap kompleksitas biologis, kerangka epistemologis berbasis sistem biologi, dan orientasi aksiologis pada kemaslahatan pasien, pendekatan ini memberikan landasan ilmiah yang kuat bagi penerapan precision medicine dalam transplantasi ginjal. Ke depan, integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan jangka panjang transplantasi ginjal dan kualitas hidup resipien secara berkelanjutan.***

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Farmasi, Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Melampaui Romantisme Bahari: Menuntut Keadilan bagi Penjaga Kedaulatan Pangan Laut

Khoirul-Fatah

Oleh: Khoirul Fatah

Indonesia kerap membanggakan jati dirinya sebagai negara maritim terbesar di dunia. Narasi mengenai kekayaan sumber daya laut, bentangan garis pantai yang panjang, dan potensi ekonomi kelautan terus digaungkan dalam berbagai forum akademis dan pemerintahan. Akan tetapi, di balik gemerlap data statistik ekspor hasil perikanan dan industri pariwisata pantai, tersimpan kenyataan pahit yang sering luput dari perhatian: kehidupan rentan para nelayan tradisional dan komunitas pesisir yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan maritim kita.

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia Nelayan dan Masyarakat Sipil setiap 13 Januari bukanlah sekadar rutinitas tahunan belaka. Momentum ini menjadi pengingat penting bahwa pelaku utama yang menjaga ketahanan pangan laut justru berada dalam kondisi paling tidak berdaya. Ironi ini sangat nyata: mereka yang menyediakan sumber protein bagi jutaan keluarga Indonesia, justru sering kesulitan mencukupi kebutuhan gizi keluarganya sendiri.

Membongkar Ketidakadilan Sistemik

Masalah fundamental yang dihadapi para nelayan saat ini bukan semata persoalan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim, melainkan ketimpangan struktural yang mengakar. Nelayan tradisional dipaksa menghadapi pertarungan yang tidak seimbang. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan kondisi laut yang kian tidak bersahabat; di sisi lain, mereka berhadapan dengan kebijakan tata ruang pesisir yang kerap mengutamakan kepentingan industri besar dan pariwisata komersial dibandingkan ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal.

Hak asasi para nelayan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai hak untuk menangkap ikan di laut. Hak mereka meliputi perlindungan dari perampasan wilayah tangkap (ocean grabbing), jaminan harga jual yang layak, akses terhadap teknologi modern, serta perlindungan jaminan sosial yang memadai. Ketika area tangkapan mereka terenggut akibat proyek reklamasi atau tercemar limbah industri, sesungguhnya telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia secara terstruktur terhadap komunitas pesisir.

Kontribusi Strategis Masyarakat Sipil dan Dunia Akademik

Di sinilah pentingnya peran organisasi masyarakat sipil dan lembaga pendidikan tinggi. Universitas tidak boleh lagi berperan sebagai institusi yang terpisah dari realitas sosial, yang hanya mengkaji laut dari sudut pandang ilmu alam atau teknik semata. Diperlukan integrasi pendekatan ilmu sosial, hukum, dan ekonomi politik dalam memahami persoalan kelautan secara komprehensif.

Kredibilitas akademik sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah publikasi di jurnal internasional, tetapi dari seberapa besar institusi tersebut hadir secara nyata di tengah masyarakat pesisir untuk memberikan solusi konkret. Karya ilmiah harus bertransformasi menjadi instrumen advokasi yang berbasis rigor akademik. Data tentang kemiskinan pesisir, kerusakan ekosistem laut, dan konflik pertanahan di wilayah maritim harus diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong pembuat keputusan untuk berpihak pada kemanusiaan.

Mewujudkan Keadilan Maritim

Momentum Hari HAM Nelayan dan Masyarakat Sipil ini harus menjadi katalis perubahan. Kita perlu mengadvokasi konsep “Keadilan Maritim” (Blue Justice), di mana pembangunan sektor kelautan harus inklusif dan tidak meninggalkan satu pun warga negara dalam keterpurukan. Perlindungan terhadap aktivis lingkungan yang menyuarakan kerusakan ekosistem laut juga harus dijamin, mengingat maraknya upaya pembungkaman terhadap para pembela lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai bagian dari komunitas akademik, kontribusi kita adalah menyoroti isu-isu yang terpinggirkan ini ke permukaan. Melalui riset, publikasi, dan keberpihakan nyata, kita tidak hanya menjaga kelestarian laut, tetapi juga memuliakan martabat manusia yang hidup bersamanya. Mari kita pastikan bahwa lautan Indonesia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memberikan harapan cerah bagi masa depan para nelayan dan keluarga mereka. ***

Diperkenankan mengambil sebagian atau keseluruhan dari tulisan ini dengan menyertakan link/tautan aktif artikel ini

Penulis adalah Dosen UMPP Pekalongan

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Pasien DM Semakin Banyak, Saatnya Apoteker dan Teknologi Digital Bergerak Bersama

ainun

Oleh: Ainun Muthoharoh

Diabetes melitus (DM) bukan lagi sekadar penyakit kronis, melainkan masalah kesehatan serius yang terus meningkat di Indonesia. Angka kematian dan kesakitan akibat diabetes bahkan menempati peringkat tertinggi dibandingkan penyakit tidak menular lainnya. Ironisnya, meskipun jumlah penyandang diabetes terus bertambah, kesadaran untuk menjalani pengobatan secara rutin masih sangat rendah. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar dua pertiga penyandang diabetes di Indonesia yang menjalani pengobatan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 90 persen pasien diabetes memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya minum obat secara teratur. Kondisi ini membuat diabetes semakin sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kebutaan.

Prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia diprediksi mencapai lebih dari 10 persen penduduk. Jawa Tengah sendiri termasuk provinsi dengan kasus diabetes tertinggi. Di tingkat layanan kesehatan, berbagai permasalahan muncul, salah satunya adalah kejadian efek samping obat atau adverse drug reaction (ADR) pada pasien rawat jalan yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan diabetes bukan hanya soal pemberian obat, tetapi juga membutuhkan pemantauan yang berkelanjutan. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kepatuhan pasien. Pasien diabetes dengan kepatuhan rendah terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Faktor usia di atas 40 tahun dan tingkat pendidikan yang rendah semakin memperbesar risiko ketidakpatuhan. Ketika pasien tidak patuh pada resep dokter, target pengobatan sulit tercapai dan kesejahteraan pasien pun menurun.

Di sinilah peran apoteker menjadi sangat penting. Sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan, apoteker memiliki tanggung jawab melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Sayangnya, selama ini PTO lebih banyak diterapkan pada pasien rawat inap, sementara pasien rawat jalan yang jumlahnya jauh lebih besar, belum mendapatkan perhatian optimal. Padahal, sebagian besar pasien diabetes menjalani pengobatan jangka panjang secara rawat jalan. Penerapan PTO pada pasien rawat jalan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan pemantauan yang baik, apoteker dapat mendeteksi ketidakpatuhan, mengidentifikasi efek samping obat, serta menyesuaikan terapi sesuai kondisi pasien. Tantangannya adalah keterbatasan jumlah apoteker, waktu pelayanan, dan biaya operasional.

Di tengah tantangan tersebut, teknologi digital menawarkan solusi yang menjanjikan. Aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat memungkinkan apoteker memantau kepatuhan pasien secara real-time tanpa harus bertemu langsung. Pasien pun dapat berkonsultasi dari rumah, menghemat waktu dan biaya, serta tetap mendapatkan pendampingan profesional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi yang dikombinasikan dengan peran aktif apoteker mampu meningkatkan kepatuhan minum obat, memperbaiki kontrol gula darah, serta menurunkan kejadian efek samping obat. Pemantauan yang efektif juga membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah inovasi aplikasi kesehatan untuk pasien diabetes, baik sebagai media edukasi maupun pemantauan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan layanan kefarmasian, khususnya peran apoteker dalam PTO.

Selain aspek teknologi, keberhasilan pengelolaan diabetes sangat dipengaruhi oleh self-efficacy atau keyakinan pasien terhadap kemampuannya mengelola penyakit. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindakan dan mencapai hasil yang diharapkan. Pada pasien DM, self-efficacy yaitu pada keyakinan pasien bahwa dirinya mampu mengelola penyakit diabetes secara mandiri. Contoh sederhana, yaitu jika pasien memiliki self-efficacy tinggi: “Saya yakin bisa minum obat setiap hari dan mengatur makan, meskipun sedang sibuk.” Jika pasien memiliki self-efficacy rendah: “Saya tahu harus minum obat, tapi rasanya sulit dan saya tidak yakin bisa melakukannya terus.” Pasien dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih patuh terhadap pengobatan, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Sebaliknya, self-efficacy yang rendah berhubungan erat dengan kontrol gula darah yang buruk dan meningkatnya risiko komplikasi.

Oleh karena itu, pengelolaan diabetes di masa depan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan konvensional semata. Kolaborasi antara apoteker, tenaga kesehatan lain, dan teknologi digital menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan, keselamatan penggunaan obat, serta kualitas hidup penyandang diabetes. Sudah saatnya pemantauan terapi obat berbasis aplikasi mobile menjadi bagian dari layanan kesehatan rutin bagi pasien diabetes rawat jalan. Dengan dukungan teknologi dan peran aktif apoteker, pengendalian diabetes bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta / Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
Opini

Refleksi Akhir Tahun: Muhasabah dan Ikhtiar dalam Perspektif Islam

IMG-20260109-WA0003

Oleh: Dr. Risdiani, S.Ag., M.Si.

Pergantian tahun merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah, yakni introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Dalam perspektif Islam, waktu adalah amanah yang sangat berharga. Setiap detik yang berlalu tidak hanya menandai bertambahnya usia, tetapi juga mendekatkan manusia pada saat pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Refleksi akhir tahun seharusnya tidak berhenti pada evaluasi pencapaian duniawi, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dan moral. Allah Swt. Berfirman:

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Ayat ini menegaskan bahwa waktu akan kehilangan maknanya jika tidak diisi dengan iman dan amal. Tahun yang telah berlalu menjadi cermin untuk menilai sejauh mana keimanan terjaga, amal kebaikan diperbanyak, dan kontribusi kepada sesama terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan satu tahun, berbagai tantangan, perubahan, dan keterbatasan tentu dihadapi. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Dalam Islam, kondisi tersebut dipahami sebagai bagian dari ujian kehidupan. Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan keimanan dan melatih kesabaran. Rasulullah saw. Bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati terletak pada kemampuan belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, muhasabah menjadi semakin penting agar manusia tidak terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Aktivitas yang padat, target yang berlapis, dan tuntutan profesional sering kali membuat orientasi akhir terlupakan. Islam mengingatkan bahwa kualitas amal lebih utama daripada kuantitas aktivitas. Setiap langkah perlu dilandasi kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian, tetapi tentang kebermanfaatan dan keikhlasan dalam berbuat.

Refleksi akhir tahun juga mengajak kita untuk menumbuhkan rasa syukur. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan amanah. Setiap peran, pekerjaan, dan tanggung jawab yang diemban sejatinya adalah ladang ibadah jika dilandasi niat yang lurus. Dengan bersyukur, manusia diajarkan untuk tidak larut dalam keluhan, melainkan fokus pada peluang kebaikan yang masih terbuka. Menatap tahun yang baru, Islam mendorong umatnya untuk memperbarui niat (tajdid an-niyyah), memperkuat ikhtiar, dan memperdalam ketawakalannya. Harapan harus disertai doa, dan usaha harus dibingkai dengan kejujuran serta keistiqamahan. Semoga tahun mendatang menjadi waktu yang lebih berkah, produktif, dan bermakna, di mana setiap langkah tidak hanya bernilai keberhasilan dunia, tetapi juga bernilai ibadah di sisi Allah Swt., serta membawa maslahat luas bagi umat dan peradaban manusia seluruhnya, sebagai wujud tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial sepanjang perjalanan hidup. ***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Menguatkan Solidaritas Kemanusiaan di Hari Imigran Internasional

IMG-20251218-WA0007

Oleh : Hadwitya Handayani Kusumawardhani, S.Kom, M.Kom

Setiap tanggal 18 Desember, dunia memperingati Hari Imigran Internasional, sebuah momentum penting untuk merefleksikan perjalanan jutaan manusia yang berpindah lintas negara demi keamanan, pekerjaan, atau kehidupan yang lebih layak. Peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000 sebagai pengakuan atas kontribusi besar para imigran, sekaligus sebagai seruan untuk melindungi hak-hak dasar mereka.

Migrasi: Fenomena Global yang Tak Terelakkan

Dalam dua dekade terakhir, mobilitas manusia meningkat pesat. Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, konflik bersenjata, dan dinamika sosial-politik menjadi faktor pendorong perpindahan populasi antarnegara. Migrasi bukan hanya urusan negara yang dituju, namun fenomena global yang saling terhubung layaknya arus ekonomi, teknologi, dan budaya.

Selain dikenal sebagai negara pengirim pekerja migran, Indonesia juga menjadi salah satu tujuan bagi imigran dan pengungsi dari berbagai negara. Kehadiran mereka membawa dinamika sosial, tantangan kebijakan, namun juga peluang kolaborasi antarbangsa.

Kontribusi Imigran bagi Dunia

Tidak dapat dipungkiri, imigran berperan besar dalam berbagai sektor. Mereka mengisi kekurangan tenaga kerja, memperkaya keragaman budaya, serta berkontribusi pada perekonomian negara tempat mereka bermukim. Di banyak negara maju, sektor pertanian, kesehatan, dan logistik bahkan bergantung pada tenaga migran.

Pada bidang budaya, imigran membawa pengetahuan, seni, kuliner, dan cara pandang baru yang ikut membentuk masyarakat yang lebih inklusif dan dinamis. Keanekaragaman ini adalah modal sosial yang tak ternilai dalam dunia global saat ini.

Masih Ada Tantangan

Meski kontribusinya besar, jutaan imigran masih menghadapi diskriminasi, eksploitasi, serta risiko kekerasan—khususnya mereka yang berpindah secara terpaksa, seperti pengungsi dan pencari suaka. Banyak yang harus menempuh perjalanan penuh bahaya, hidup tanpa jaminan kesehatan, pendidikan, ataupun status hukum yang jelas.

Hari Imigran Internasional mengingatkan kita bahwa imigran bukan statistik, melainkan manusia yang memiliki mimpi, keluarga, dan hak yang sama seperti warga negara lainnya.

Seruan untuk Perlindungan dan Kemanusiaan

Sebagai bangsa yang menjunjung nilai kemanusiaan, Indonesia memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan hak-hak dasar para imigran. Pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh banyak komunitas lokal dan lembaga sosial menjadi bukti bahwa solidaritas dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Momentum ini menjadi ajakan bagi pemerintah, masyarakat sipil, media, dan dunia pendidikan untuk:

  • Meningkatkan pemahaman publik mengenai isu migrasi.
  • Menolak segala bentuk diskriminasi terhadap imigran.
  • Memperkuat kebijakan perlindungan dan integrasi sosial.
  • Mengapresiasi kontribusi para imigran dalam kehidupan berbangsa.

Penutup

Hari Imigran Internasional bukan sekadar peringatan simbolik. Ini adalah pengingat bahwa dunia terdiri atas jutaan perjalanan manusia yang saling terhubung. Dengan memperkuat semangat solidaritas dan kemanusiaan, kita membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat bagi semua, tanpa memandang dari mana seseorang berasal. ***

 

Penulis adalah Dosen UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Optimalisasi Peran Aisyiyah dalam Pengembangan Kurikulum PAUD Berbasis Teknologi pada Era Digital

penulis

Oleh: Dr. Cholisa Rosanti, M.Si

Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam memajukan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia. Dalam era teknologi yang berkembang pesat, Aisyiyah dituntut untuk melakukan inovasi kurikulum agar mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Perkembangan digital yang demikian cepat membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan anak usia dini, terutama dalam proses pembelajaran yang menuntut kreativitas, adaptasi, dan pemanfaatan teknologi secara bijak.

Dalam konteks pengembangan kurikulum, Aisyiyah memiliki keunggulan karena menekankan integrasi nilai-nilai Islam dalam seluruh proses pembelajaran. Kurikulum PAUD Aisyiyah dirancang tidak hanya untuk mengembangkan aspek kognitif, motorik, dan bahasa, tetapi juga pembentukan akhlak sejak dini. Pada era teknologi, integrasi nilai Islam menjadi pedoman penting agar anak tidak hanya berinteraksi dengan teknologi secara mekanis, tetapi tetap memahami batasan etika, adab, dan moral yang sesuai ajaran Islam.

Aisyiyah telah menerapkan berbagai inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi, seperti penggunaan media pembelajaran digital, aplikasi literasi dini, serta penyediaan pelatihan guru terkait literasi digital. Guru-guru PAUD Aisyiyah dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi bukan sebagai pengganti interaksi manusia, tetapi sebagai alat bantu untuk memperkaya proses pembelajaran. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara perkembangan akal, jiwa, dan perilaku.

Selain itu, Aisyiyah melakukan penguatan kerja sama dengan berbagai lembaga berbasis teknologi untuk memperluas akses materi digital yang aman dan ramah anak. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Aisyiyah juga menekankan keterlibatan orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah, sehingga kesinambungan pendidikan antara sekolah dan keluarga dapat terjaga.

Dengan berbagai upaya tersebut, Aisyiyah berhasil menempatkan diri sebagai pelopor pendidikan anak usia dini yang adaptif, religius, dan responsif terhadap tantangan zaman. Pengembangan kurikulum berbasis teknologi yang terarah dan berlandaskan nilai-nilai Islam menjadi kunci untuk membangun generasi emas yang berkarakter dan siap menghadapi masa depan.

Referensi

  1. Aisyiyah. (2020). Pedoman Kurikulum PAUD Aisyiyah. Pimpinan Pusat Aisyiyah.
  2. Kemendikbud RI. (2022). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Teknologi. Jakarta.
  3. Nuryanto, A. (2021). “Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran PAUD.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 10(2), 145–160.
  4. PP Muhammadiyah. (2019). Pendidikan Holistik dalam Perspektif Islam.
  5. UNESCO. (2023). Early Childhood Digital Learning Framework. Paris: UNESCO Publishing.
  6. Suyadi. (2020). Pendidikan Islam Anak Usia Dini di Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

Penulis adalah: Dosen AIK Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Pelatihan dasar tingkatkan kompetensi guru PAUD

Kajen, Warta Desa - Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Pekalongan diberi pelatihan selama tujuh hari.  Pelatihan yang berorientasi pada teknis Read more

Longsor hantam PAUD Angrek Wulan Curugmuncar Petungkriyono

Petungrkiyono, Wartadesa. - Hujan deras yang terjadi di Desa Curugmuncar Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan sejak Ahad siang (26/2) menjebabkan talud Read more

Tiga ribu warga Muhammadiyah dan Aisyiyah padati rumah pohon Widuri

Pemalang, Wartadesa. - Lebih dari tiga ribu warga Muhammadiyah dan Aisyiyan Kabupaten Pemalang menghadiri acara pengajian silaturahim dalam rangka memperingati Read more

Guru PAUD merasa dilecehkan oleh Oknum Pengawasnya

Bojong, Wartadesa. - Etika  dalam berbicara sudah barang tentu sangat penting , jika asal bicara bisa jadi menyingung perasaan yang Read more

selengkapnya
Opini

INTEGRASI NILAI ISLAM DAN SAINS DALAM EKSPLORASI KELOR, PEGAGAN, DAN JINTAN HITAM UNTUK KESEHATAN BERKELANJUTAN

ainun

Oleh: Apt. Fajrul Fhalaq Baso.,S.Farm.,M.Farm

Di tengah meningkatnya beban penyakit kronis, ketergantungan terhadap obat sintetik impor, serta krisis lingkungan global, dunia kesehatan dihadapkan pada tantangan besar: Bagaimana menyediakan layanan kesehatan yang efektif, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Eksplorasi bahan alam kembali mendapat perhatian serius. Namun, eksplorasi tersebut tidak cukup hanya berbasis sains modern; ia memerlukan landasan nilai yang kuat agar tidak terjebak pada eksploitasi semata. Di sinilah integrasi nilai Islam dan sains menemukan relevansinya.

Islam sejak awal memposisikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ibadah. Perintah Iqra’ tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks, tetapi juga membaca alam sebagai ayat Kauniyah. Alam bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan amanah yang harus dikelola secara bijaksana. Prinsip Khalifah fil ardh menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep kesehatan berkelanjutan yang kini menjadi agenda global.

Dalam sejarah peradaban Islam, integrasi antara nilai spiritual dan sains bukanlah hal baru. Ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Razi, dan Ibnu al-Baitar telah mengembangkan ilmu kedokteran dan farmakologi berbasis bahan alam dengan pendekatan empiris yang maju pada masanya. Mereka tidak memisahkan etika dari ilmu, serta menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama. Spirit inilah yang seharusnya dihidupkan kembali dalam pengembangan bahan alam di era modern.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Di antara sekian banyak tanaman obat, Kelor (Moringa oleifera), Pegagan (Centella asiatica), dan Jintan hitam (Nigella sativa) merupakan contoh bahan alam yang tidak hanya dikenal secara empiris, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang semakin kuat. Ketiganya mencerminkan bagaimana kearifan lokal, nilai keislaman, dan sains modern dapat disinergikan.

Kelor dikenal luas sebagai “miracle tree” karena kandungan nutrisinya yang sangat kaya. Daun kelor mengandung protein, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan yang berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif. Dalam perspektif farmasi, berbagai penelitian menunjukkan potensi kelor sebagai antiinflamasi, antidiabetik, dan imunomodulator. Pemanfaatan kelor yang berkelanjutan bukan hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan pangan dan kemandirian kesehatan, terutama di wilayah pedesaan.

Pegagan, yang sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional, kini banyak diteliti dalam konteks neuroprotektif, penyembuhan luka, serta peningkatan fungsi kognitif. Senyawa aktif seperti asiatikosida telah dibuktikan memiliki aktivitas farmakologis yang menjanjikan. Dalam konteks kesehatan mental dan penuaan populasi, pegagan menawarkan alternatif berbasis alam yang relatif aman jika digunakan secara rasional dan berbasis bukti. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam tentang menjaga akal (hifz al-‘aql) sebagai bagian dari tujuan utama syariat.

Sementara itu, jintan hitam memiliki posisi unik dalam tradisi Islam, dikenal melalui hadis sebagai tanaman dengan potensi penyembuhan berbagai penyakit. Namun, pendekatan ilmiah diperlukan agar pemanfaatannya tidak berhenti pada keyakinan semata. Penelitian modern menunjukkan bahwa thymoquinone, senyawa utama dalam jintan hitam, memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator. Integrasi nilai Islam dan sains menuntut agar keyakinan religius diperkuat dengan evidence based, sehingga penggunaan jintan hitam menjadi rasional, aman, dan bertanggung jawab.

Dari sudut pandang farmasi, tantangan utama dalam pengembangan bahan alam adalah standarisasi, keamanan, efektivitas, dan keberlanjutan. Tanpa pendekatan ilmiah yang sistematis, bahan alam berisiko digunakan secara tidak tepat, bahkan menimbulkan efek yang merugikan. Di sinilah peran tenaga kefarmasian menjadi strategis: menjembatani pengetahuan tradisional, nilai religius, dan ilmu berbasis bukti. Pendekatan ini sejalan dengan etika Islam yang menolak praktik berlebihan (israf) dan mendorong kemanfaatan yang berkeadilan.

Kesehatan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang penyembuhan penyakit, tetapi juga tentang pencegahan, pemberdayaan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Pengembangan kelor, pegagan, dan jintan hitam secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari solusi kesehatan komunitas, sekaligus mendukung ekonomi lokal. Jika dikelola dengan prinsip keadilan dan amanah, eksplorasi bahan alam dapat menjadi instrumen kesejahteraan, bukan sekadar komoditas pasar.

Pada akhirnya, integrasi nilai Islam dan sains dalam eksplorasi bahan alam bukanlah upaya romantisasi masa lalu, melainkan langkah strategis menghadapi masa depan. Kesehatan yang berkelanjutan membutuhkan ilmu yang berpijak pada etika, serta iman yang mendorong pencarian ilmu. Ketika sains berjalan tanpa nilai, ia berisiko kehilangan arah; ketika nilai berjalan tanpa sains, ia berisiko kehilangan daya guna. Sinergi keduanya adalah kunci. Dengan menjadikan kelor, pegagan, dan jintan hitam sebagai contoh, kita diajak untuk melihat bahwa solusi kesehatan tidak selalu harus mahal dan bergantung pada luar negeri. Alam telah menyediakan potensi, Islam telah memberikan nilai, dan sains menawarkan metode. Tugas kita adalah menyatukannya demi kesehatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. ***

 

Penulis adalah : Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Dosen D-III Farmasi STIKes Salewangang Maros

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya