close

Opini

Opini

Kesehatan Mental dan Fisik Mahasiswa : Langkah Konkret menuju Indonesia Emas 2045

elena

Oleh: Ellena Risqi Aristiantari

PENDAHULUAN

Mahasiswa merupakan bagian penting dari generasi muda yang berperan dalam mempersiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Dalam menjalani pendidikan tinggi, mahasiswa sering menghadapi berbagai tuntutan akademik, seperti tugas, ujian, dan tekanan untuk mencapai prestasi. Berbagai tuntutan tersebut dapat menimbulkan stres akademik yang berdampak pada kesehatan mental apabila tidak dikelola dengan baik (Arifah, 2026).

Stres akademik yang berkepanjangan dapat menyebabkan kecemasan, kelelahan akademik, menurunnya motivasi, serta menurunnya kesejahteraan mental mahasiswa (Arifah, 2026). Selain kesehatan mental, kesehatan fisik juga perlu diperhatikan karena kondisi tubuh yang kurang baik dapat menghambat mahasiswa dalam belajar dan beraktivitas secara optimal. Oleh karena itu, kesehatan mental dan fisik mahasiswa perlu dijaga secara seimbang.

Upaya menjaga kesehatan mahasiswa dapat dilakukan melalui langkah konkret, seperti mengelola stres, mengatur waktu, menjaga pola tidur dan makan, berolahraga secara rutin, serta mencari dukungan ketika menghadapi masalah. Langkah-langkah tersebut penting untuk membentuk mahasiswa yang sehat, produktif, dan berkualitas sehingga mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

PEMBAHASAN

1. Permasalahan yang Terjadi

Mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan akademik, seperti tugas, ujian, dan tekanan untuk mencapai prestasi. Tuntutan tersebut dapat menimbulkan stres akademik yang berdampak pada kesehatan mental apabila tidak dikelola dengan baik. Stres akademik yang berkepanjangan dapat menyebabkan kecemasan, gejala depresi, kelelahan akademik, dan menurunnya kesejahteraan mental mahasiswa (Arifah, 2026). Selain itu, kesehatan fisik mahasiswa juga perlu diperhatikan karena kurangnya aktivitas fisik dapat berdampak pada kesehatan tubuh dan kesejahteraan secara keseluruhan (World Health Organization, 2024).

2. Kaitan dengan SDGs

Permasalahan kesehatan mental dan fisik mahasiswa berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. SDG 3 secara khusus mencakup upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan serta mempromosikan kesehatan mental. Permasalahan ini juga berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya karena mahasiswa merupakan bagian dari pendidikan tinggi dan kesehatan yang baik dapat mendukung proses belajar secara optimal (United Nations, 2026).

3. Alasan Permasalahan Penting Diselesaikan

Kesehatan mental dan fisik mahasiswa penting untuk diperhatikan karena kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menjalani kegiatan akademik dan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang memiliki kondisi kesehatan yang baik akan lebih mampu berkonsentrasi, mengembangkan potensi diri, dan menjalankan aktivitas secara optimal. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental dan fisik mahasiswa diperlukan untuk mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, berkualitas, dan produktif dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan (World Health Organization, 2024).

4. Peran Mahasiswa

Mahasiswa tidak hanya menjadi pihak yang menghadapi permasalahan kesehatan, tetapi juga memiliki peran dalam mengatasinya. Peran tersebut dapat dilakukan dengan mengatur waktu antara kegiatan akademik dan istirahat, menjaga pola hidup sehat, melakukan aktivitas fisik secara rutin, mengelola stres, serta mencari bantuan ketika menghadapi masalah kesehatan mental. Mahasiswa juga dapat menciptakan lingkungan pertemanan yang saling mendukung dan mengajak teman untuk menerapkan pola hidup sehat. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi bagian dari generasi muda yang sehat dan aktif dalam pembangunan.

5. Gagasan atau Solusi yang Ditawarkan

Gagasan yang dapat diterapkan adalah “Gerakan Mahasiswa Sehat Menuju Indonesia Emas 2045”. Gerakan ini dapat dilakukan melalui edukasi mengenai kesehatan mental dan fisik, kegiatan olahraga rutin, pengelolaan waktu akademik yang sehat, serta penyediaan ruang dukungan dan konseling bagi mahasiswa. Aktivitas fisik secara rutin dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental serta meningkatkan kesejahteraan (World Health Organization, 2024). Melalui gerakan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjaga kesehatan mental dan fisiknya sehingga dapat belajar dan beraktivitas secara optimal.

GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Gagasan yang ditawarkan adalah “Gerakan Mahasiswa Sehat Menuju Indonesia Emas 2045”, yaitu gerakan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam menjaga kesehatan mental dan fisik serta menciptakan lingkungan kampus yang peduli terhadap kesehatan.

Gerakan ini dapat diwujudkan melalui edukasi kesehatan, olahraga bersama, dan kelompok dukungan melalui organisasi mahasiswa. Mahasiswa juga dapat memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan informasi kesehatan, melakukan penelitian sederhana mengenai kesehatan mahasiswa, serta mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat dan kampanye hidup sehat.

Melalui aksi yang sederhana dan dapat diterapkan secara berkelanjutan, mahasiswa diharapkan mampu membangun kebiasaan hidup sehat dan menjadi generasi yang sehat, produktif, serta siap berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045

PENUTUP

Kesehatan mental dan fisik merupakan bagian penting dalam mendukung mahasiswa menjadi generasi yang sehat, produktif, dan berkualitas. Berbagai tuntutan akademik dan pola hidup yang kurang sehat dapat memengaruhi kesejahteraan mahasiswa sehingga perlu diatasi melalui langkah yang nyata. Mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan diri sekaligus membangun lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan.

Melalui “Gerakan Mahasiswa Sehat Menuju Indonesia Emas 2045”, mahasiswa dapat berkontribusi melalui edukasi, kegiatan olahraga, pemanfaatan teknologi, dukungan antarmahasiswa, serta gerakan hidup sehat. Dengan menjaga kesehatan mental dan fisik sejak masa perkuliahan, mahasiswa dapat mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

 REFERENSI

Arifah, E. N. (2026). Stres akademik: faktor risiko dan dampaknya terhadap kesehatan mental mahasiswa. Maliki Interdisciplinary Journal, 4(5), 519–528.

https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/22198

World Health Organization. (2024). Physical activity.

https://www.who.int/news- room/fact-sheets/detail/physical-activity

United Nations. (2026). Goal 3: Good Health and Well-being.

https://urj.uin- malang.ac.id/index.php/mij/article/view/22198

Penulis adalah Mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Literasi Digital Mahasiswa Untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

iman

Oleh: Muhammad Dava Nur Iman

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Mahasiswa sebagai generasi yang dekat dengan teknologi tidak hanya dituntut mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam mencari, memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara tepat dan bertanggung jawab. Menurut UNESCO Institute for Information Technologies in Education (UNESCO IITE).

Dalam dunia pendidikan, literasi digital menjadi semakin penting karena proses pembelajaran saat ini banyak memanfaatkan teknologi. Mahasiswa dapat menggunakan berbagai sumber digital seperti jurnal ilmiah, perpustakaan daring, platform pembelajaran, dan media edukasi untuk memperluas pengetahuan. Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan, seperti banyaknya informasi yang belum tentu benar, penyebaran berita palsu, plagiarisme, serta penggunaan sumber digital yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan literasi digital agar dapat menggunakan teknologi secara kritis, bijak, aman, dan bertanggung jawab.

PEMBAHASAN

1. Permasalahan yang Terjadi

Literasi digital mahasiswa merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam mendukung proses pendidikan yang berkualitas. Perkembangan teknologi memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam memperoleh informasi dan sumber pembelajaran. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan berbagai permasalahan. Salah satunya adalah masih adanya mahasiswa yang belum mampu menggunakan informasi digital secara kritis dan bertanggung jawab. Mahasiswa dapat dengan mudah menemukan informasi di internet, tetapi tidak semua informasi tersebut benar dan dapat dipercaya.

2. Kaitan dengan SDGs

Permasalahan literasi digital tersebut memiliki kaitan yang erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas). SDG 4 bertujuan memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Dalam perkembangan pendidikan di era digital, kemampuan menggunakan dan memahami teknologi menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran. Literasi digital yang baik memungkinkan mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan, melakukan penelitian, serta menghasilkan karya akademik

3. Alasan Permasalahan Penting Diselesaikan

Permasalahan tersebut penting untuk diselesaikan karena kemampuan literasi digital berpengaruh terhadap cara mahasiswa memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Apabila mahasiswa tidak mampu membedakan informasi yang benar dan salah, mereka dapat menggunakan sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam kegiatan akademik. Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas tugas, penelitian, maupun hasil pembelajaran. Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki literasi digital yang baik dapat menggunakan berbagai sumber informasi secara lebih kritis, melakukan pengecekan terhadap kebenaran informasi, menghargai hak cipta, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan akademiknya.

4. Peran Mahasiswa

Mahasiswa memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital untuk mendukung pendidikan berkualitas. Sebagai bagian dari lingkungan akademik, mahasiswa dapat menjadi pengguna sekaligus penyebar informasi yang bertanggung jawab. Mahasiswa dapat membiasakan diri menggunakan sumber informasi yang terpercaya, memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, mencantumkan sumber dalam karya akademik, serta menghindari plagiarisme. Selain itu, mahasiswa dapat berbagi pengetahuan mengenai literasi digital kepada teman dan masyarakat melalui diskusi, seminar, maupun media sosial. Peran tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

5. Gagasan atau Solusi yang Ditawarkan

Gagasan yang dapat dilakukan adalah membentuk Gerakan Literasi Digital Mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi. Program tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan mengenai cara mencari sumber akademik yang terpercaya, mengevaluasi informasi di internet, menggunakan jurnal ilmiah, memahami etika digital, menghindari plagiarisme, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan pembelajaran. Mahasiswa juga dapat membuat konten edukatif melalui media sosial yang membahas cara mengenali informasi palsu dan menggunakan teknologi secara bijak.

Melalui peningkatan literasi digital, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk belajar, mencari pengetahuan, melakukan penelitian, dan mengembangkan kreativitas. Dengan kemampuan tersebut, mahasiswa dapat berkontribusi dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, kritis, dan bertanggung jawab.

GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Mahasiswa memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital sebagai upaya untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Salah satu aksi yang dapat dilakukan adalah membentuk Gerakan Literasi Digital Mahasiswa di lingkungan kampus.

Selain itu, mahasiswa dapat melakukan kampanye literasi digital melalui media sosial dengan membuat konten edukatif mengenai pentingnya menggunakan internet secara bijak dan bertanggung jawab. Konten tersebut dapat membahas cara membedakan informasi yang benar dan salah, mencegah penyebaran berita palsu, menghindari plagiarisme, serta pentingnya mencantumkan sumber dalam karya akademik.

PENUTUP

Literasi digital mahasiswa merupakan kemampuan yang sangat penting dalam menghadapi perkembangan teknologi di bidang pendidikan. Kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara bijak dapat membantu mahasiswa meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Permasalahan seperti penyebaran informasi yang tidak benar, penggunaan sumber yang tidak terpercaya, dan plagiarisme perlu diatasi agar teknologi dapat dimanfaatkan secara positif dalam kegiatan pendidikan.

Penulis adalah mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA DALAM KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA MASYARAKAT

hanifah

OLEH: SHARLA LAELA HANIFAH

PENDAHULUAN

SDGs adalah kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan. SDGs memiliki tiga prinsip utama yaitu universal, integrasi, dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal atau no one left behind. Di dalam SDGs terdapat 17 tujuan dengan 169 target. Masing-masing tujuan memiliki makna dan target yang diharapkan dapat tercapai pada 2030. Tujuan nomor tiqa dari 17 tujuan SDGs adalah kehidupan sehat dan sejahtera atau dalam bahasa Inggrisnya adalah good health ana well-being.

Tujuan ini menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia atau ensure hea/thy lives and promote well-being for all at all ages.

PEMBAHASAN

Seluruh isu kesehatan dalam SDGs diintegrasikan dalam satu tujuan yakni tujuan nomor 3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Terdapat 38 target SDGs di sektor kesehatan yang perlu diwujudkan. Selain permasalahan yang belum tuntas ditangani diantaranya yaitu upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), pengendalian penyakit HIV/AIDS, TB, Malaria serta peningkatan akses kesehatan reproduksi (termasuk KB), terdapat hal- hal baru yang menjadi perhatian, yaitu:

1. Kematian akibat penyakit tidak menular (PTM);

2. Penyalahgunaan narkotika dan alkohol 3. Kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas

4. Universal Health Coverage 5. Kontaminasi dan polusi air, udara dan tanah: serta penanganan krisis dan kegawatdaruratan.

Fokus dari seluruh target tersebut antara lain gizi masyarakat, sistem kesehatan nasional. akses kesehatan dan reproduksi, Keluarga Berencana (KB), serta sanitasi dan air bersih. Pembangunan sektor kesehatan untuk SDGs sangat tergantung kepada peran aktif seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat dan daerah, parlemen, dunia usaha, media massa, lembaga sosial kemasyarakatan, organisasi profesi dan akademisi, mitra pembangunan serta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Tantangan terbesar dalam pelaksanaan agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia adalah reformulasi konsep pembangunan yang terintegrasi dan penempatan kesehatan sebagai satu rangkaian proses manajemen pembangunan yang meliputi input, process, output, outcome dar impact pembangunan serta memahamkan bersama akan substansi pembangunan kesehatan yang harus dilaksanakan bersama di era desentralisasi dan demokratisasi saat ini.

Program yang diusung untuk mewujudkan SDGs dalam bidang kesehatan adalah Program Indonesia Sehat dengan 3 pilar yakni paradigma sehat, pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional.

1. Paradigma sehat merupakan sebuah pendekatan yang mengedepankan konsep promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan dan menempatkan kesehatan sebagai input dari sebuah proses pembangunan.

2. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dan diarahkan untuk peningkatan Akses dan mutu pelayanan. Dalam hal pelayanar kesehatan primer diarahkan untuk upaya pelayanan promotif dan preventif, melalui pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan baik dalam tatanan tata kelola klinis. tata kelola manajemen dan tata kelola program

3. Jaminan Kesehatan Nasional, neaara bertekad untuk menjamin seluruh penduduk dan warga negara asing yang tinggal di Indonesia dalam pelayanan kesehatannya.

GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Mahasiswa memiliki peran strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks di era modern. Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam menciptakan lingkungan yang sehat melalui edukasi. inovasi. dan pemberdayaan masyarakat. Perkembangan zaman yang disertai dengan kemajuan teknologi informasi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa untuk menyebarkan informasi kesehatan vang benar, akurat, dan mudah dipahami

Peran mahasiswa dalam bidang kesehatan masyarakat dapat diwujudkan melalui berbaga kegiatan, seperti kampanye hidup sehat, penelitian sederhana mengenai perilaku masyarakat, serta pengabdian kepada masyarakat melalui program-program kesehatan Selain itu, mahasiswa juga dapat menjadi teladan dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat PHBS), baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat luas. Pentingnya peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada edukasi, tetap juga pada kontribusi nyata dalam membantu pemerintah mencapai target pembangunan kesehatan nasional.

Secara sosial dan moral mahasiswa memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan indonesia sehat. Program ini tidak dapat berhasil tanpa partisipasi aktif dari semua elemen bangsa termasuk mahasiswa. Para mahasiswa diharapkan mampu mewujudkan perubahan menuiu ke arah indonesia yang lebih baik dan sejahtera. Para mahasiswa yang tergabung dalam program pengabdian masyarakat seperti KKN, Organisasi Kemanusiaan, maupun kegiatan sukarela lainnya, mahasiswa dapat terjun langsung membantu masyarakat dalam program posyandu, kampanye kesehatan, ataupun yang lainnya.

Selain itu, program Indonesia Sehat yang dirancanakan pemerintah membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk mahasiswa, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial sebaga sarana efektif dalam menvebarkan informasi dan mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat. Sebagai calon intelektual muda, mahasiswa harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai mengenai isu-isu kesehatan yang relevan, seperti pencegahan penyakit menular, stunting, kesehatan mental dan gizi seimbang. Dengan pemahaman yang baik, mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan.

Di sisi lain, mahasiswa kesehatan kini aktif dalam bersosial media, hal ini bisa menjadi peluang untuk melakukan edukasi dengan lebih luas dan cepat. Diera digital seperti sekarang, penyebaran informasi bisa berbahaya, terlebih banvak masyarakat yang enggan untuk mencari kebenaran dari informasi yang didapat, disinilah peran mahasiswa sangat penting sebagai contoh utama msyarakat.

Mahasiswa memiliki tanggung iawab moral dan sosial dalam mewujudkan masyarakat sehat melalui pendidikan, aksi nyata, dan inovasi yang berkelanjutan, peran mahasiswa diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

PENUTUP

Kesimpulannya peran mahasiswa tidak bisa dipandang sebelah mata, mahasiswa berperan besar dalam mewujudkan masyarakat sehat. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan semangat perubahan, diharapkan mahasiswa dapat menjadi salah satu pionir untuk mewujudkan masyarakat sehat, yang pada akhirnya akan mendukung terwujudnya bangsa yang kuat dan berdaya saing.

 

Penulis adalah mahasiswa S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Generasi Sehat, Indonesia Kuat: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan SDG 3 Menuju Indonesia Emas 2045

mita

Oleh: Mita Amelia

PENDAHULUAN

Pembangunan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kesehatan masyarakatnya. Masyarakat yang sehat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk belajar, bekerja, beraktivitas, serta berkontribusi dalam pembangunan. Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang berfokus pada upaya memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada setiap usia. Kesehatan juga menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 (Howden-Chapman et al., 2017).

Mahasiswa dapat mengambil bagian dalam menghadapi persoalan tersebut melalui tindakan sederhana maupun kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Edukasi kesehatan, kampanye pola hidup sehat, kegiatan olahraga, pengabdian masyarakat, penelitian, hingga pemanfaatan teknologi dapat menjadi bentuk kontribusi mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai kesehatan, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan kampus dan masyarakat.

PEMBAHASAN

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang sehat untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Generasi yang sehat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara optimal dan berkontribusi dalam berbagai bidang pembangunan. Sebaliknya, permasalahan kesehatan yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika seseorang telah mengalami penyakit, tetapi juga pada pencegahan dan pembentukan kebiasaan hidup sehat.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah kebiasaan hidup generasi muda. Kesibukan akademik, perubahan pola aktivitas, penggunaan teknologi, serta kebiasaan menghabiskan waktu dalam posisi duduk dapat menyebabkan aktivitas fisik menjadi berkurang. Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Setiawi et al. (2025) menempatkan aktivitas fisik sebagai salah satu aspek yang perlu dinormalisasi kembali di era digital agar generasi muda tetap memiliki gaya hidup aktif.

Selain kesehatan fisik, kesejahteraan juga perlu dipahami secara lebih luas. SDG 3 tidak hanya berbicara mengenai terbebas dari penyakit, tetapi juga mengenai peningkatan kesejahteraan manusia secara menyeluruh. Howden-Chapman et al. (2017) menjelaskan bahwa tujuan SDG 3 berkaitan dengan kehidupan yang sehat dan kesejahteraan bagi semua orang pada seluruh tahapan usia.

Permasalahan mengenai pola hidup dan kesehatan generasi muda memiliki hubungan yang erat dengan SDG 3. Tujuan tersebut menempatkan kesehatan dan kesejahteraan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang menjalani kehidupan secara produktif sekaligus meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat.

Persoalan kesehatan perlu mendapatkan perhatian karena kualitas kesehatan generasi muda akan berpengaruh terhadap kualitas pembangunan di masa mendatang. Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki kondisi fisik dan kesejahteraan yang baik.

Pembentukan kebiasaan sehat juga sebaiknya dilakukan sejak dini. Kebiasaan seperti berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, menjaga kebersihan, melakukan pemeriksaan kesehatan, dan menghindari perilaku yang berisiko dapat menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa. Rohmah et al. (2026) menunjukkan bahwa pembiasaan perilaku positif pada generasi muda dapat mendukung pembentukan karakter dan kualitas generasi yang dibutuhkan untuk Indonesia Emas 2045.

Selain itu, mahasiswa juga memiliki kemampuan untuk menyebarkan pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan kepada lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan organisasi, media sosial, seminar, kampanye kesehatan, maupun pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki mahasiswa akan menjadi lebih bermanfaat apabila dapat diterapkan dan dibagikan kepada orang lain.

Selanjutnya, mahasiswa dapat mengajak lingkungan kampus untuk menerapkan gaya hidup sehat. Organisasi mahasiswa dapat menyelenggarakan kegiatan seperti olahraga bersama, kampanye hidup sehat, pemeriksaan kesehatan, seminar mengenai kesehatan, atau kegiatan edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik. Kegiatan tersebut tidak harus selalu berskala besar.

GAGASAN/AKSI

Salah satu gagasan yang dapat dilakukan mahasiswa adalah membentuk “Gerakan Mahasiswa Sehat” di lingkungan kampus. Gerakan ini dapat menjadi kegiatan sederhana yang mengajak mahasiswa untuk membangun kebiasaan hidup sehat secara bersama-sama. Program tersebut dapat terdiri atas beberapa kegiatan, seperti Healthy Week, olahraga bersama, edukasi kesehatan, kampanye pola makan sehat, pemeriksaan kesehatan, dan tantangan aktivitas fisik.

Selain itu, organisasi mahasiswa dapat bekerja sama dengan program studi, tenaga kesehatan, atau pihak lain untuk membuat kegiatan edukasi kesehatan. Materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, seperti pentingnya aktivitas fisik, pola makan seimbang, pemeriksaan kesehatan, kebersihan diri, dan kesejahteraan secara umum. Mahasiswa yang memiliki latar belakang bidang kesehatan juga dapat berkontribusi melalui edukasi yang sesuai dengan kompetensi mereka.

Gerakan tersebut juga dapat diperluas melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat membawa program sederhana seperti olahraga bersama, edukasi pola hidup sehat, dan kampanye pemeriksaan kesehatan ke lingkungan masyarakat. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Gagasan tersebut sejalan dengan tujuan SDG 3 karena menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan kesehatan, tetapi sebagai pihak yang ikut menciptakan perubahan. Petelos et al. (2025) juga menunjukkan bahwa pencapaian SDG 3 membutuhkan pendekatan yang mendukung kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda melalui kegiatan edukasi, aktivitas fisik, inovasi, dan pengabdian dapat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pembangunan kesehatan.

PENUTUP

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang memiliki kualitas pengetahuan, keterampilan, karakter, serta kesehatan yang baik. SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera menjadi salah satu tujuan yang penting untuk diperhatikan karena kesehatan merupakan dasar bagi manusia untuk dapat belajar, bekerja, berkembang, dan berkontribusi dalam pembangunan. Permasalahan pola hidup kurang sehat dan rendahnya aktivitas fisik di tengah perkembangan era digital menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang sehat dan mampu menjaga kesejahteraannya. Karena itu, sudah saatnya mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi ikut mengambil peran sebagai penggerak perubahan. Generasi sehat hari ini adalah salah satu fondasi bagi Indonesia yang kuat pada tahun 2045.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rohmah, F., Rahmah, F., Sari, J. N., Amalia, A., & Yuliani, S. (2026). Mengeksplor 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Untuk Mendukung Indonesia Emas 2045. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 11(3), 3085-3094.

Puspasari, H. W., & Ratmanasuci, R. Y. P. (2026). GENERASI EMAS: Generasi Yang Sehat Untuk Indonesia Emas 2045. Penerbit KBM Indonesia.

Hasanah, A. N., Nurhasanah, Y., Prabowo, T., & Wahyuni, I. (2025, December). EDUKASI DETEKSI DINI KELAINAN DARAH SEBAGAI BENTUK PEMBERDAYAAN MAHASISWA DI ERA INDONESIA EMAS. In Bakti Tunas Husada Conference Series (Vol. 3, No. 1, pp. 315-330).

Setiawi, A. P., Harahap, M. F., Surimeirian, M. A., Hrp, N. K., Syatiri, M., Pristiawati, A., … & Suharta, A. (2025). NORMALISASI OLAHRAGA DAN AKTIVITAS FISIK DI ERA DIGITAL: Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045.

Nadila, D. SIKAP PROAKTIF GENERASI Z: KATALIS PERUBAHAN MENUJU GREEN BUILDING DAN GREEN ENERGY UNTUK MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045. TAHUN 2024, 73.

Petelos, E., Antonaki, D., Angelaki, E., Lemonakis, C., & Alexandros, G. (2025). Enhancing public health and SDG 3 through sustainable agriculture and tourism. Sustainability, 17(14), 6253.

Howden-Chapman, P., Siri, J., Chisholm, E., Chapman, R., Doll, C. N., & Capon, A. (2017). SDG 3: Ensure healthy lives and promote wellbeing for all at all ages. A guide to SDG interactions: from science to implementation. Paris, France: International Council for Science, 81-126.

SEHAT, K. (2026). Kehidupan Sehat dan Sejahtera. 17 MUTIARA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN-Interpretasi Bebas Tujuan SDGs dalam Berkehidupan, 55.

Penulis adalah mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Peran Mahasiswa Teknik Mesin dalam Mewujudkan Efisiensi Energi Menuju Indonesia Emas 2045

foto

Oleh: Denis Setiawan

Energi terbarukan terus berkembang, tetapi belum mencapai skala yang dibutuhkan untuk memenuhi target iklim dan pembangunan global. Kita membutuhkan tindakan yang dipercepat di semua sektor terutama di bidang pemanasan dan transportasi yang didukung oleh kebijakan dan investasi yang kuat. Mencapai akses universal pada tahun 2030 berarti meningkatkan investasi dalam sumber energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi. Memperluas infrastruktur dan meningkatkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih di negara-negara berkembang akan merangsang pertumbuhan ekonomi dan melindungi lingkungan. Percepatan transisi energi global ini turut menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju kemandirian dan ketahanan energinya sendiri.

Saat ini Indonesia tengah bersiap menyongsong satu abad kemerdekaannya tepatnya pada tahun 2045 dengan membawa visi besar menjadi negara maju yang berdaulat, adil, dan makmur. Namun, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa fondasi energi yang kuat. Oleh karena itu energi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas membutuhkan energi, mulai dari penerangan, transportasi, kegiatan rumah tangga, hingga proses produksi di industri. Namun, persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menyediakan energi yang cukup, tetapi juga bagaimana energi tersebut digunakan secara efisien. Efisiensi energi berarti memperoleh manfaat atau hasil yang dibutuhkan dengan penggunaan energi yang lebih optimal. Persoalan ini menjadi semakin penting karena penggunaan energi nasional masih menghadapi tantangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa intensitas energi primer Indonesia pada 2025 mencapai 144,58 SBM per miliar rupiah, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 133 SBM per miliar rupiah. Dalam laporan tersebut, Kementerian ESDM menyatakan bahwa kondisi tersebut mengindikasikan pemanfaatan energi nasional masih kurang efisien. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan oleh pemerintah atau perusahaan besar. Namun sebagai mahasiswa juga dapat mengambil bagian dalam upaya penyelesaian tersebut. Khususnya bagi mahasiswa Teknik Mesin, persoalan efisiensi energi memiliki hubungan langsung dengan bidang keilmuan yang dipelajari karena Teknik Mesin berkaitan dengan mesin, energi, sistem mekanis, perpindahan panas, fluida, manufaktur, dan berbagai teknologi lainnya. Oleh karena itu, mahasiswa Teknik Mesin dapat berperan sebagai generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membuat teknologi dan sistem bekerja secara lebih efisien.

Efisiensi energi sering kali dipahami secara sederhana sebagai mengurangi penggunaan energi tersebut. Padahal, dalam bidang Teknik Mesin, konsep efisiensi memiliki cakupan yang lebih luas. Tetapi efisiensi berkaitan dengan kemampuan sebuah mesin atau sistem menghasilkan keluaran yang optimal dengan penggunaan energi yang sesuai kebutuhannya. Setiap mesin dirancang untuk menghasilkan suatu kerja. Akan tetapi, dalam proses pengoperasiannya kemungkinan terdapat cacat sistem. Seperti gesekan yang berlebihan, panas yang tidak diperlukan, kebocoran, kondisi komponen yang menurun, hingga pengoperasian yang tidak tepat. Nah itu semua dapat membuat energi yang digunakan tidak menghasilkan keluaran secara maksimal sehingga mengurangi efesiensi energi yang di gunakan.

Mahasiswa Teknik Mesin dapat mengambil berbagai peran penting dalam hal ini. Pertama, mahasiswa dapat menjadi penganalisis masalah. Dengan ilmu yang dipelajari, mahasiswa dapat mengamati kondisi mesin atau sistem tertentu, dengan melakukan pengukuran sesuai fasilitas yang tersedia, kemudian menganalisis bagian yang berpotensi mengalami pemborosan energi.

Kedua, mahasiswa dapat menjadi inovator. Inovator di sini bukan berarti harus menciptakan teknologi yang sepenuhnya baru. Akan tetapi mahasiswa dapat mengembangkan atau modifikasi sederhana yang meningkatkan efisiensi, misalnya melalui optimalisasi sistem, perbaikan pengaturan operasi, pengurangan kehilangan energi, atau pemanfaatan energi yang sebelumnya terbuang agar tidak terbuang sia sia.

Ketiga, mahasiswa dapat menjadi edukator. Karena sebaiknya pengetahuan mengenai efisiensi energi tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah atau laboratorium saja. Tetapi mahasiswa dapat menyebarkan pengetahuan tersebut melalui organisasi mahasiswa, kegiatan pengabdian masyarakat, seminar, maupun media digital.

Kontribusi mahasiswa tidak harus dimulai dengan proyek besar. Lingkungan kampus justru dapat menjadi tempat yang realistis untuk memulai langkah awal. Mahasiswa Teknik Mesin dapat membuat kegiatan sederhana berupa pemetaan penggunaan energi pada mesin atau fasilitas kampus dan yang ada di sekitar kita. Tahap pertama adalah menentukan objek yang akan diamati, kemudian mengidentifikasi sumber energi, durasi penggunaan, kondisi operasional, dan potensi pemborosan. Jika ditemukan berbagai peralatan yang menyerap banyak energi akibat beroperasi melebihi kebutuhannya, mahasiswa dapat merekomendasikan perubahan pola operasionalnya jika memungkinkan. Selain itu peluang efesiensi bisa di wujudkan dengan cara melakukan perawatan rutin, perbaikan sistemnya, dll dengan catatan tetap memenuhi setandar suatu sistem atau peralatan tersebut.

Upaya mewujudkan efesiensi energi memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak mulai dari pemerintahan, industri, akademisi serta masyarakat. Dalam hal ini peran mahasiswa teknik mesin sangat strategis dalam hal ini karena fokus keilmuannya yaitu seputar mesin dan energi. Peran itu dapat di wujudkan dalam aksi nyata yang sederhana misal memantau konsumsi energi, memberikan solusi ketika terdapat pemborosan energi tersebut dan membagikan pengetahuannya kepada masyarakat sekitar. Menyongsong Indonesia emas tahun 2045.Keberhasilan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan menciptakan teknologi baru, melainkan bagaimana cara penggunaan energi secara efesien dan bertanggung jawab.

Target 7.3 of United Nations Sustainable Development Goal 7

esdm.go.id LAPORAN KINERJA DITJEN EBTKE 2025

Penulis adalah mahasiswa S1 Teknik Mesin Fakultas FASTIKOM Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA KEBIDANAN DALAM MEWUJUDKAN KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA UNTUK MENDUKUNG SDGs 2030

12.jpg

Oleh: Ahnifa Putri

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia dan menjadi pilar utama dalam membangun bangsa.Sehat itu mahal harganya, tapi sering di lupain. Padahal kalua masyakarat sakit-sakitan, Pembangunan juga susah jalan. Hal ini sesuai dengan tujuan ke-3 SDGs yaitu :”kehidupan sehat dan Sejahtera”. Taergetnya tahunyam 2030 semua orang bisa dapat layanan Kesehatan yang layak.

Faktanya sekarang di lapangan masih banyak PR. Stunting masih tinggi, ibu hamil telat periksa.dan masih ada lahiran di Rumah tanpa nakes. Belum lagi hoax Kesehatan yg gambar nyebar di WA dan di TIKTOK,jadi harus hati-hati

Nah, sebagai maba prodi kebidanan UMPP saya ngerasa ini tanggung jawab kita juga. Bidan itu kan ujung tombak. Ketemu ibu dari hamil sampai nafas. Dari sinilah kita bisa mulai ngubah pola piker Masyarakat biar lebih sehat. Apalagi dengan bekal nilai AIK, kita harus jadi bidan yang gak Cuma pinter, tapi juga peduli.

PEMBAHASAN

  1. Permasalahan yang terjadi

Kalua di Tarik benang merahnya, masalah Kesehatan di indo itu muter di situ-situ aja. Stunting jadi sorotan karena ngaruh ke otak anak. AKI dan AKB juga belum turun signifikan.penyebabnya klasik: kurang tau,kurang mampu, kurang akses. Banyak juga. Banyak juga yg masih nikah muda, terus kaget pas hamil karena nggak siap secara fisik dan ilmu. Di tambah lagi masih banyak yg percaya “jangan USG kebanyaan” atau “jamu bisa gantiin vitamin.

  1. Kaitanya dengan SDGs

Ada target nurunin AKI,AKB,stunting, terus pastiin semua orang punya akses KB dan layanan Kesehatan reproduksi. Mah siapa yg paling depan?ya kita, calon bidan. Kita yg bakal terjun langsung ke des, ke posyandu, kerumah-rumah

  1. Alasan permasalahan penting di selesaikan

Bayangin 2045 indonesia emas. Yang bangun siapa? Ya anak- anak sekarang. Kalua dari kecil udah stunting,gimana mau bersaing sama negara lain. Terus kalua ibunya gak sehat, anaknya juga ikut terdampal. Jadi ngeberesin masalah Kesehatan ibu dan anak itu ibarat nanem pohon . hasilnya baru kerasa 10-20 tahun lagi makanya harus mulai dari sekarang.

  1. Peran mahasiswa krbidanan

Selama kuliah peran kita ada tiga ; 1.  belajar beneran, jangan Cuma ngejar nilai, tapi paham. Biar nanti pas lulus jadi bidan yang di percaya. 2.  ngasih tau, kita punya ilmu, wajib di bagi lewat penyuluha,lewat ngobrol Santai, lewat sosmed. 3. Ngingetin jadi pengawas jug. Kalau ada tetangga mau lahiran di dukun, kita ngasih tau bahanya baik-bail.

  1. Gagasan/solusiyg di tawarin

Saya punya ide” RUMAH BELAJAR BIDAN MUDA”konsepnya sederhana:

  1. Ngumpul tiap minggu bareng ibu hamil buat kelas senam + edukasi gizi
  2. Pendampingan 1000 HPK dari hamil sampai anak umur 2 tahun biar gak kecolongan
  3. Konten edukasi: bikin video 60 detik “mitos vc fakta lebidana” buat fyp tiktok.

Tujuan biar edukasi nggak kaku dan bisa nyampe kea nak muda juga. Terus harus jalan bareng bidan desa dan kader biar ga jalan sendiri.

GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Selama di ump, ini yg mau saya lakuin:

  1. Ikut hima: biar bisa bikin proker yang beneran nyentuh Masyarakat bukan cumaseremonial
  2. Turun ke desa: ikut posyandu,cek bumil,jadi relawan pas ada kegiatan kampus
  3. Bikin media edukasi:bikin poster simpel tentang tanda bahaya kehamilan pake Bahasa jawa biar mudeng
  4. Upgraden diri: ikur webinar,pelatian biar ilmunya nggak ketinggalan
  5. Jalanin nilai AIK: Ikhlas nolong, jujur ,dan menghargai pasien

PENUTUP

Intinya gini, jadi mahasiswa kebidananitu bukan Cuma duduk di kelas. Kita di tuntut buat bergerak. SDGs3 itu bukan tugas pemerintah doang. Tapi tugas kita semua.

Saya pingin jadi bagian dari perubahan itu. Mulai dari belajar sungguh-sungguh,aktif di kampus, terus ngabdi ke Masyarakat. Semoga Langkah kecil dari umpp ini bisa jadi kontribusi buat Indonesia yang lebih sehat 2030.

REFERENSI

  1. Kemeskes RI.2030. laporan riskesdas 2023 jakarta
  2. 2022,SDGs,Indonesia Jakarta
  3. 2021.pencegahan stunting Jakarta
  4. Tim AIK UMPP,2024. Modul al islam dan kemuhammadiyaha,pekalonga,UMPP Press.

 

Penulis adalah mahasiswa Prodi  S1 kebidanan Fakultas  Ilmu Kesehatan   Universitas Muhammadiyah Pekajang Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Mahasiswa anti korupsi untuk Gerakan Indonesia emas yang lebih maju 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 12.45.33

Oleh: Nisaul uliya

 Latar belakang

Mahasiswa merupakan bagian penting dari generasi intelektual yang memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.perguruan tinggi tidak hanya berkewajiban menghasilkan lulusan kompeten yang akademik,tetapi juga membentuk mahasiswa yang kritis,adaptif,memiliki kepedulian social,serta mampu memberikan kontribusi,nyata,berbagai persoalan masyarakat,  salah satu agenda pembangunan global yang relavan dengan peran mahasiswa adalah Subtainable Development Goals.(SDGs)yang terdiri atas 17 tujuan pembangunan berkelanjutan implementasi SDGs membutuhkan keterlibatan berbagai pihak,termasuk perguruan tinggi dan mahasiswa melalui Pendidikan,penelitian,penganbdian kepada masyarakat inovasi,Gerakan social,seta publikasi gagasan.

Dalam rangka pengenalan orientasi mahasiswa baru(pormaba) universitas muhammmadiyah pekajangan pekalongan (UMPP)tahun akademik 2025/2026,mahasiswa baru diberikan penugasaan berupa penulisan esai popular dengan tema “peran mahasiswa dalam mendukung program SDGs untuk Indonesia emass.

penugasaan ini di harapkan menjadi Langkah awal untuk membangun budaya literasi,kemampuan berpikir kritis,kepedulian terhadap isu pembangunan berkelanjutan sekaligus keberanian mahasiswa UMPP dalam menyampaikan gagasan kepada masyarakat melalui media massa.

 Mahasiswa  Antikorupsi Untuk Gerakan Indonesia Emas Yang Lebih Maju.

Menurut saya, mahasiswa berperan penting untuk berpikir kritis untuk masalah  antikorupsi kenapa begitu? karena,mahasiwa adalah generasi muda penerus,untuk indonesia lebih maju,mahasiswa harus memberhentikan antikorupsi di indonesia dengan cara usut tuntas masalah korupsi agar Indonesia bebas korupsi dan menjadi negara yang maju.dengan adanya korupsi di Indonesia bisa menghambat keuangan yang akan di salurkan,seperti dana buat Pendidikan dipakai yg tidak tidak akhinya proses pendidkan menjadi tidak maksimal,. mulai sekarang kita harus membiasakan diri agar tetap amanah dalam melakukan organisasi. contoh kecil untuk menerapkan diri  antikorupsi dengan cara membiasakan diri untuk bertanggung jawab,kejujuran,serta amanah yang di pegang.dengan menerapkan kepada diri kita  kedepannya  kalau kita di amanah untuk menjadi penjabat kita bisa menerapkan hal itu. di tahun yang sekarang ini, banyak pejabat yang korupsi,maka yg kita harus lakukan adalah mencegahnya agar tahun berikutnya Indonesia bebas korupsi.dan menjadikan Indonesia kaya SDM.

Hubungan dengan SDGs

Dengan SUBTAINABLE DEVELOMENT GOALS atau SDGs.SDGs merupakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dibuat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat.salah satu tujuan SDGs yang berhubungan dengan masalah korupsi adalah SDG 16,yaitu perdamaian,keadilan,kelembagaan,yang tangguh.tujuan ini salah satunya untuk mendorong Lembaga yang efektif,transparan,dan bertanggung jawab.korupsi dapat menghambat pencapaian SDGs karena uang dan sumber daya yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat. dapat disalahgunakan.misalnya,anggaran untuk Pendidikan seharusnya dapat di gunakan untuk meningkatkan fasilitas sekolah dan membantu siswa yang membutuhkan.jika terjadi korupsi, dari anggaran tersebut tidak dapat di terima secara maksimal.oleh mahasiswa dapat ikut mendukung dengan menerapkan sikap anti korupsi dalam kehidupan sehari hari.

Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan

Mahasiswa merupakan calon pemimpin di masa depan,setelah menyelesaikan Pendidikan,mahasiswa akan bekerja di berbagai bidang.apapun profesinya ,sikap jujur dan bertanggung jawab tetap di butuhkan.menurut saya,menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki jabatan atau kekuasaan.seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh yang baik kepada orang lain.oleh karena itu mahasiswa dapat membentuk karakter sejak sekarang,hal hal sederhana seperti mengerjakan tugas sendiri,tidak mengambil hak orang lain ,menggunakan uang dengan jujur,dan mematuhi aturan sudah merupakan bagian dari latihan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar di akademik,tetapi juga memiliki moral yang baik.

Mewujudkan Indonesia yang lebih maju

Negara yang maju juga membutuhkan masyarakat yang memiliki hukum,kejujuran ,rasa tanggung jawab,dan kepedulian terhadap kepentingan Bersama.jika korupsi masih dianggap biasa ,maka pembangunan Indonesia akan sulit berjalan dengan maksimal.mahasiswa memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut.perubahan tidak harus selalu di mulai dari sesuatu yang besar.

Penutup

Penugasaan esai pormaba UMPP tahun akademik 2026/2027 diharpkan menjadi awal terbentuknya budaya mahasiswa UMPP yang literaf,kritis,inovatif,berintegritas dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat.melalui tulisan,mahasiswa tidak hanya belajar,menyampaikan gagasan,tetapi juga membangun rekam jejak intelektual dan mengambil bagian dalam pencapaian Sustainable Development Goals.mahasiswa UMPP diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik,tetapi juga hadir,sebagai agen perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,bangsa dan dunia,menuju Indonesia emas 2045

 “satu mahasiswa,satu gagasan,satu kontribusi,untuk Indonesia emas 2045”

 

Penulis adalah mahasiswa  S1 akuntansi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Muhammadiyah Pekajangan      Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

FPB tunda demo terkait penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai

Kajen, Wartadesa. - Forum Pekalongan Bangkit (FPB) menunda rencana aksi demo terkait kasus Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang tengah Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

selengkapnya
Opini

Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas bagi Generasi Masa Depan

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.31.59

Oleh: Abil Dwi Sabilla

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, pendidikan berkualitas menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. SDG 4 bertujuan memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.

Namun, pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesenjangan akses pendidikan, keterbatasan fasilitas, rendahnya literasi, serta perbedaan kualitas pendidikan antardaerah. Kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa. Sebagai generasi muda yang memperoleh kesempatan pendidikan tinggi, mahasiswa memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi berikutnya.

PEMBAHASAAN

Pendidikan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sekolah dan guru, tetapi juga oleh ketersediaan akses, lingkungan belajar yang aman, metode pembelajaran yang baik, serta kesempatan yang setara bagi setiap peserta didik. Pendidikan yang berkualitas harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan kondisi ekonomi, lokasi, maupun latar belakang sosial.

Mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan pendidikan. Salah satu bentuk kontribusinya adalah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat memberikan pendampingan belajar, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, serta membantu siswa mengenal teknologi sebagai sarana pembelajaran.

Selain itu, perkembangan teknologi memberikan peluang bagi mahasiswa untuk menciptakan inovasi pendidikan. Mahasiswa dapat membuat konten edukatif, mengembangkan media pembelajaran sederhana, atau memanfaatkan platform digital untuk membantu siswa memperoleh sumber belajar yang lebih luas.

Peran mahasiswa juga penting dalam menanamkan kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik. Pendidikan harus membentuk generasi yang memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, keterampilan bekerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi jembatan antara ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Salah satu gagasan yang dapat dilakukan adalah membentuk “Gerakan Mahasiswa Sahabat Pendidikan”. Program ini bertujuan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran bagi siswa, khususnya di lingkungan yang memiliki keterbatasan akses pendidikan. Progam tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa kegiatan :

  • Pendampingan belajar, yaitu mahasiswa menjadi mentor bagi siswa dalam mata pelajaran maupun tugas sekolah.
  • Gerakan literasi, seperti kegiatan membaca bersama, pojok baca, dan edukasi mengenai pentingnya budaya membaca.
  • Literasi digital, dengan mengajarkan siswa cara menggunakan teknologi secara aman, bijak, dan produktif.
  • Kelas inspirasi, yaitu mahasiswa berbagi pengalaman mengenai pendidikan, dunia perkuliahan, dan berbagai pilihan karier untuk meningkatkan motivasi siswa.
  • Pembuatan media pembelajaran, seperti video, modul sederhana, dan materi digital yang mudah dipahami.
  • Kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat, sehingga program dapat berjalan secara berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Aksi tersebut dapat dimulai dari lingkungan sekitar kampus dan kemudian dikembangkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Dengan memanfaatkan ilmu, waktu, kreativitas, dan teknologi, mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata tanpa harus menunggu menjadi seorang profesional.

PENUTUP

Pendidikan berkualitas merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa. Melalui pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, generasi muda dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki peran strategis dalam mendukung terwujudnya SDG 4. Peran tersebut dapat dilakukan melalui pengabdian kepada masyarakat, pendampingan belajar, gerakan literasi, pemanfaatan teknologi, serta berbagai inovasi pendidikan.

Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menjadi individu yang berpendidikan, tetapi juga mampu membagikan pengetahuan dan menciptakan perubahan bagi masyarakat. Dengan kolaborasi dan aksi nyata, mahasiswa dapat menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih merata dan berkualitas, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.

 

REFERENSI

United Nations. (n.d.). Goal 4: Quality Education. Sustainable Development Goals.

United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development.

UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report.

Kementerian PPN/Bappenas. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) Indonesia.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Kebijakan dan Program Merdeka Belajar.

 

Penulis adalah mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Otonomi perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan reproduksi:analisis kemitraan bidan dan ibu di Indonesia

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.43.06

Oleh: Ika Citra Pertiwi

 

Pendahuluan

Kesehatan reproduksi merupakan hal penting bagi setiap perempuan. Perempuan memiliki hak untuk mendapatkan informasi dan menentukan pilihan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Contohnya dalam memilih alat kontrasepsi, merencanakan kehamilan, pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan perawatan setelah melahirkan.

Namun, di Indonesia keputusan mengenai kesehatan reproduksi terkadang masih dipengaruhi oleh suami, keluarga, budaya, dan kondisi ekonomi. Karena itu, perempuan perlu mendapatkan dukungan agar lebih percaya diri dalam menentukan keputusan mengenai kesehatannya sendiri. Dalam hal ini, bidan mempunyai peran yang cukup penting karena bidan sering menjadi tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan ibu.

Otonomi Perempuan

Otonomi perempuan dapat diartikan sebagai kemampuan perempuan untuk ikut menentukan keputusan yang berhubungan dengan dirinya. Perempuan berhak mendapatkan informasi yang jelas sebelum memilih suatu tindakan kesehatan. Setelah memahami informasi tersebut, ibu dapat mempertimbangkan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Otonomi bukan berarti perempuan harus mengambil keputusan tanpa melibatkan suami atau keluarga. Dukungan dari keluarga tetap penting, tetapi keputusan yang berkaitan dengan tubuh dan kesehatan perempuan seharusnya tetap menghargai pendapat dan persetujuan perempuan tersebut.

Menurut WHO, kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan mengenai hubungan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan pelayanan kesehatan reproduksi merupakan salah satu bagian dari pemenuhan hak reproduksi.

Kemitraan Bidan dan Ibu

Bidan mempunyai peran penting dalam membantu meningkatkan kemampuan ibu mengambil keputusan. Hubungan antara bidan dan ibu sebaiknya tidak hanya sebatas tenaga kesehatan dan pasien, tetapi juga sebagai hubungan kemitraan.

Dalam kemitraan tersebut, bidan perlu mendengarkan keluhan dan kebutuhan ibu. Bidan juga harus memberikan informasi yang mudah dipahami mengenai manfaat, risiko, dan pilihan pelayanan yang tersedia. Misalnya ketika ibu ingin memilih alat kontrasepsi, bidan tidak seharusnya langsung menentukan satu jenis kontrasepsi. Bidan perlu menjelaskan beberapa pilihan sehingga ibu dapat menentukan metode yang sesuai dengan keadaan dirinya.

Komunikasi yang baik dapat membuat ibu merasa lebih dihargai dan berani menyampaikan pendapat. Dengan begitu, ibu dapat ikut aktif dalam menentukan pelayanan yang akan diterimanya.

Tantangan di Indonesia

Masih terdapat beberapa masalah yang dapat menghambat otonomi perempuan. Salah satunya adalah adanya anggapan bahwa keputusan kesehatan perempuan harus lebih banyak ditentukan oleh suami atau keluarga. Selain itu, kurangnya pengetahuan, keterbatasan ekonomi, sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan, dan kurangnya informasi juga dapat menjadi hambatan.

Oleh karena itu, peningkatan otonomi perempuan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Suami dan keluarga juga perlu diberikan pemahaman bahwa mereka seharusnya memberikan dukungan, bukan mengambil alih seluruh keputusan.

Bidan juga perlu memahami kondisi sosial dan budaya yang ada di masyarakat. Namun, dalam memberikan pelayanan, bidan tetap harus menghargai hak ibu untuk mendapatkan informasi dan memberikan persetujuan terhadap tindakan yang dilakukan.

Upaya Meningkatkan Otonomi Perempuan

Untuk meningkatkan otonomi perempuan, bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan dan konseling secara rutin. Informasi harus disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh ibu.

Selain itu, bidan perlu memberikan kesempatan kepada ibu untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Setiap tindakan pelayanan juga sebaiknya dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari ibu.

Keterlibatan suami juga dapat dilakukan dengan cara yang tepat. Suami dapat diberikan edukasi mengenai pentingnya mendukung ibu dalam mengambil keputusan kesehatan. Dengan adanya kerja sama antara ibu, suami, keluarga, dan bidan, pelayanan kesehatan reproduksi dapat berjalan lebih baik.

Kesimpulan

Otonomi perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan reproduksi merupakan hal yang penting. Perempuan harus mendapatkan informasi yang cukup dan memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan mengenai kesehatan dirinya.

Bidan dapat membantu mewujudkan hal tersebut melalui komunikasi, konseling, pendidikan kesehatan, dan pelayanan yang menghargai pilihan ibu. Hubungan bidan dan ibu yang dilakukan secara terbuka dan saling menghargai dapat membuat ibu lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

Dengan adanya kemitraan yang baik, perempuan tidak hanya menjadi penerima pelayanan, tetapi juga menjadi pihak yang aktif dalam menentukan kesehatan reproduksinya.

Kalau kita lihat kondisi riil di lapangan, urusan otonomi perempuan ini memang tidak bisa cuma berhenti di atas kertas atau sekadar jadi wacana akademis belakangan ini. Kebanyakan ibu di Indonesia sebenarnya menghadapi serangkaian dilema yang cukup pelik tiap kali harus mengambil keputusan soal tubuh dan kesehatannya sendiri. Ada bayang-bayang tradisi keluarga, himpitan ekonomi, sampai rasa sungkan terhadap pandangan masyarakat sekitar yang sering kali menutup ruang gerak mereka. Di titik inilah peran bidan terasa sangat krusial. Bidan tidak boleh cuma memosisikan diri sebagai “atasan” atau petugas medis yang sekadar membagi instruksi dan resep, melainkan harus hadir sebagai teman diskusi yang tulus, hangat, dan benar-benar mau mendengar tanpa perlu terburu-buru menghakimi.

Ketika seorang ibu merasa pendapatnya dihargai dan tidak lagi merasa tertekan, rasa percaya diri untuk menentukan arah kesehatannya akan tumbuh dengan sendirinya. Hal semacam ini tentu bukan berarti mengabaikan peran suami atau keluarga, melainkan mendudukkan posisi perempuan sebagai subjek utama yang memegang kendali atas dirinya sendiri. Kita perlu menyadari bahwa perubahan besar dalam kualitas layanan kesehatan reproduksi nasional sebetulnya tidak selalu lahir dari kebijakan yang megah di tingkat atas. Langkah nyata itu justru sering kali dimulai dari hal-hal sederhana, yakni lewat dialog yang setara dan saling menghormati antara bidan dan ibu di bilik-bilik pemeriksaan saban harinya.

 

Daftar Pustaka

1.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Standar Profesi Bidan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

2.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Standar Kompetensi Kerja Bidang Kebidanan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

3.Rizkianti, A., Afifah, T., Saptarini, I., & Rakhmadi, M. F. (2020). Women’s decision-making autonomy in the household and the use of maternal health services: An Indonesian case study. Midwifery, 90, 102816. https://doi.org/10.1016/j.midw.2020.102816

4.World Health Organization. (2025). Compendium on Respectful Maternal and Newborn Care. Geneva: WHO.

5.World Health Organization. (2024). Transitioning to Midwifery Models of Care: Global Position Paper. Geneva: WHO.

6.World Health Organization. (2026). Towards a Responsive Health System and Equitable Access to Quality RMNCAH Services. WHO Indonesia.

7.Bappenas. (2023). Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (RAN SDGs) 2021–2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Ibu Rumаh Tаnggа juga dapat kerja. Bagaimana? Coba cek di sini!

Mеnjаdі іbu rumаh tаnggа mеmаng tаk mudаh sеlаіn mengurus kеluаrgаnyа іа jugа dіsіbukkаn untuk mеrаwаt rumаh. Tаk jаrаng іbu rumаh Read more

22 kasus kejahahatan terhadap perempuan dan anak di Pemalang diungkap

Pemalang, Wartadesa. - Polres Pemalang Polda Jateng berhasil mengungkap 22 kasus kejahatan pada anak dan perempuan sepanjang tahun 2018. Wakapolres Read more

Perempuan di Kabupaten Pekalongan lebih banyak ajukan cerai, mengapa?

Kajen, Wartadesa. - Kasus gugatan perceraian di Kabupaten Pekalongan lebih didominasi oleh aduan dari pihak perempuan. Pengadilan Agama Kota Santri Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

selengkapnya
Opini

Upaya Menyiapkan Generasi Sehat Dimulai dari Pencegahan Stunting

202602030043.jpg

OLEH: KHANSA KHAIRUN NISA 

Pendahuluan

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting nasional mengalami penurunan dari 21,5% pada tahun 2023 menjadi 19,8% pada tahun 2024. Penurunan tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam penanganan stunting, tetapi persoalan ini belum dapat dianggap selesai dan masih memerlukan perhatian secara berkelanjutan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025). Stunting juga tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, tetapi berhubungan dengan kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi dalam jangka panjang. Berbagai faktor dapat berkaitan dengan terjadinya stunting, sehingga pencegahannya tidak cukup hanya berfokus pada makanan anak, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi ibu, kesehatan anak, dan lingkungan tempat anak tumbuh (Siramaneerat et al., 2024; Siregar et al., 2024).

Pencegahan stunting menjadi penting karena kesehatan anak saat ini akan berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dampak stunting tidak hanya dirasakan pada masa anak-anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan generasi pada masa mendatang. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu bagian penting dalam masa depan Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas, 2023). Oleh karena itu, pencegahan stunting bukan hanya bertujuan menurunkan angka kasus, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan mampu berkembang secara optimal.

Pembahasan

Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata. Kondisi ini berkaitan dengan proses tumbuh kembang yang berlangsung dalam waktu cukup lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya dengan memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup. Kondisi kesehatan ibu, berat badan anak saat lahir, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta lingkungan tempat anak tumbuh juga perlu diperhatikan. Penelitian Siramaneerat et al. (2024) menunjukkan bahwa usia anak, berat lahir, status gizi ibu, dan tempat tinggal memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada anak di Indonesia.

Pencegahan stunting sebenarnya perlu dimulai bahkan sebelum anak lahir. Kondisi kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Setelah anak lahir, pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi juga tetap diperlukan. Selain itu, terdapat perbedaan kondisi antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang dapat berkaitan dengan akses terhadap layanan kesehatan dan sumber daya lainnya. Hal ini membuat upaya pencegahan stunting perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat, karena kebutuhan dan hambatan yang dihadapi setiap wilayah belum tentu sama (Siramaneerat et al., 2024).

Pengetahuan orang tua, khususnya ibu, juga menjadi salah satu hal yang penting. Orang tua yang memahami kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak akan lebih mudah memperhatikan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kinasih dan Afifah (2024) menemukan bahwa edukasi stunting menggunakan media video berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap ibu balita. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyampaian informasi kesehatan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan, terutama ketika informasi diberikan dengan cara yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan ibu dan anak. Bagi mahasiswa keperawatan, persoalan ini juga dapat menjadi ruang untuk ikut berkontribusi melalui kegiatan yang berkaitan dengan promosi dan pencegahan penyakit. Edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan dapat menjadi bentuk kontribusi yang dapat dilakukan sesuai dengan bidang keilmuan.

Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan. Mahasiswa keperawatan juga dapat ikut berkontribusi sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari selama perkuliahan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak serta memenuhi kebutuhan gizi sejak masa kehamilan. Edukasi menjadi penting karena pengetahuan orang tua dapat memengaruhi cara mereka memenuhi kebutuhan dan melakukan pengasuhan terhadap anak. Penelitian Kinasih dan Afifah (2024) menunjukkan bahwa edukasi stunting menggunakan media video dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita.

Mahasiswa keperawatan dapat terlibat dalam kegiatan edukasi melalui pengabdian masyarakat, kegiatan kampus, maupun kerja sama dengan Posyandu dan fasilitas kesehatan di lingkungan sekitar. Informasi yang disampaikan juga tidak harus selalu dalam bentuk penyuluhan formal. Mahasiswa dapat memanfaatkan media yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti poster, video singkat, atau konten media sosial. Materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, misalnya mengenai pemenuhan gizi ibu dan anak, pentingnya pemantauan pertumbuhan, atau pencegahan masalah kesehatan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Selain memberikan edukasi, mahasiswa keperawatan juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan sejak dini. Berdasarkan Siregar et al. (2024), stunting berkaitan dengan faktor ibu, anak, dan lingkungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan tidak cukup dilakukan ketika anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan kebutuhan anak, serta kondisi lingkungan perlu dilakukan secara bersamaan. Melalui keterlibatan dalam kegiatan promotif dan preventif, mahasiswa keperawatan dapat menjadi bagian dari upaya untuk membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan stunting sejak awal.

Penutup

Pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan karena persoalan ini berkaitan dengan kesehatan dan perkembangan generasi di masa depan. Penanganannya tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan mahasiswa. Mahasiswa keperawatan dapat berkontribusi melalui edukasi dan kegiatan promotif serta preventif sesuai bidang keilmuannya. Upaya pencegahan sejak dini menjadi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, pencegahan stunting dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang sehat untuk mendukung Indonesia Emas 2045.

 

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 26 Mei). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%

Kementerian PPN/Bappenas. (2023, 15 Juni). Luncurkan rancangan akhir RPJPN 2025–2045, Presiden paparkan visi Indonesia Emas 2045. Bappenas. Luncurkan rancangan akhir RPJPN 2025–2045, Presiden paparkan visi Indonesia Emas 2045

Kinasih, A. D., & Afifah, C. A. N. (2024). Eduting (edukasi stunting) dengan media video untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita di Desa Ngepung Kabupaten Nganjuk. Nutrizione: Nutrition Research and Development Journal, 3(3), 66–75.

Siramaneerat, I., Astutik, E., Agushybana, F., Bhumkittipich, P., & Lamprom, W. (2024). Examining determinants of stunting in urban and rural Indonesia: A multilevel analysis using the population-based Indonesian Family Life Survey (IFLS). BMC Public Health, 24, Article 1371.

Siregar, R. J., Harahap, M. L., & Suryani, E. (2024). Determinants of stunting among children under five years in Indonesia: Evidence from the 2021–2022 demographic and health survey. International Journal of Public Health Excellence, 3(2), 666–676.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP

Terkait
Pemalang masuk dalam 100 desa prioritas penanganan gizi buruk stunting

Pemalang, Wartadesa. - Kabupaten Pemalang masuk dalam 100 desa dari 10 kabupaten prioritas penanganan stunting (gizi buruk yang menyebabkan balita Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

selengkapnya