close

Opini

KesehatanOpini

Lebih dari Sekadar Buah Manis: Sawo Duren dan Rahasia Antioksidannya

fadilah

Oleh: Fadillah Maryam

Sawo duren kerap hadir tanpa banyak sorotan. Ia tumbuh di pekarangan, dijajakan di pasar lokal, dan dinikmati sebagai buah musiman dengan rasa manis yang khas. Dalam keseharian masyarakat, sawo duren lebih dikenal sebagai pangan tradisional, bukan sebagai objek sains. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa buah ini menyimpan potensi biologis yang jauh melampaui kesan sederhananya.

Sawo duren atau Chrysophyllum cainito L. telah lama dimanfaatkan dalam praktik pengobatan tradisional. Daun dan kulit batangnya digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan, sementara buahnya dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh. Pengetahuan ini diwariskan lintas generasi, meskipun belum seluruhnya dijelaskan melalui pendekatan ilmiah yang sistematis. Di sinilah riset farmasi modern mengambil peran penting.

Antioksidan dan Tantangan Kesehatan Modern

Tubuh manusia secara alami menghasilkan oksidan sebagai hasil metabolisme. Namun, gaya hidup modern—polusi udara, paparan radiasi, stres, dan pola makan tidak seimbang—meningkatkan beban oksidatif secara signifikan. Ketidakseimbangan antara oksidan dan antioksidan memicu stres oksidatif, kondisi yang berkontribusi terhadap penuaan dini dan berbagai penyakit degeneratif.

Selama ini, antioksidan sintetis banyak digunakan untuk menekan dampak tersebut. Meski efektif, penggunaannya memunculkan pertanyaan terkait keamanan jangka panjang. Kondisi ini mendorong pencarian sumber antioksidan alami yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk dari buah-buahan lokal seperti sawo duren.

Metabolomik: Pendekatan Baru dalam Riset Bahan Alam

Penelitian bahan alam tidak lagi cukup hanya mengukur satu atau dua senyawa aktif. Pendekatan metabolomik memungkinkan pemetaan menyeluruh metabolit dalam suatu ekstrak tanaman. Melalui teknologi analitik canggih, aktivitas antioksidan dipahami sebagai hasil interaksi kompleks berbagai senyawa bioaktif, seperti polifenol dan flavonoid, yang bekerja secara sinergis.

Dalam konteks sawo duren, pendekatan ini membuka pemahaman baru bahwa kekuatan antioksidan buah tersebut bukan berasal dari satu komponen tunggal, melainkan dari jaringan metabolit yang saling berinteraksi. Cara pandang ini lebih mencerminkan mekanisme biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia.

Implikasi bagi Pengembangan Farmasi dan Pangan Fungsional

Hasil riset metabolomik tidak berhenti pada tataran akademik. Potensi sawo duren sebagai sumber antioksidan alami membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional dan bahan baku sediaan kesehatan berbasis alam. Bagi Indonesia, ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan biodiversitas secara ilmiah sekaligus berkelanjutan.

Pengembangan tersebut perlu disertai kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan demikian, nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh industri, tetapi juga oleh daerah penghasil dan ekosistem tempat tanaman ini tumbuh.

Refleksi dari Dunia Akademik

Sebagai bagian dari komunitas akademik farmasi, saya memandang riset sawo duren sebagai contoh nyata bagaimana sains modern dapat memperkuat pengetahuan tradisional. Metabolomik bukan sekadar alat analisis, melainkan jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih dari sekadar buah manis, sawo duren merepresentasikan potensi besar bahan alam Indonesia. Ketika diteliti dengan pendekatan yang tepat, buah lokal ini tidak hanya relevan bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kemandirian bangsa di bidang farmasi dan kesehatan.***

Penulis adalah Mahasiswi Program Doktoral Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Kasumba Turate: Dari Kearifan Lokal ke Ilmu Pengetahuan Modern untuk Kesehatan dan Kecantikan

kasumbar

Oleh: apt. Virsa Handayani, M.Farm

Pemanfaatan bahan alam dalam bidang kesehatan dan kecantikan terus mengalami perkembangan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk yang aman, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal. Salah satu tanaman yang kembali memperoleh perhatian dalam kajian akademik adalah Kasumba Turate (Carthamus tinctorius L.), tanaman yang secara historis telah digunakan dalam praktik tradisional masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan.

Kasumba Turate tidak hanya dikenal sebagai pewarna alami dalam tradisi budaya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ramuan herbal untuk menunjang kebugaran dan perawatan diri. Praktik ini lahir dari pengalaman empiris masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dalam konteks ilmu pengetahuan modern, pengetahuan tersebut perlu dikaji secara sistematis agar manfaatnya dapat dipahami, diuji, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam kajian akademik, pengembangan bahan alam berbasis kearifan lokal menuntut pendekatan yang tidak hanya empiris, tetapi juga rasional dan metodologis. Virsa Handayani, mahasiswi Program Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, menjelaskan bahwa integrasi antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern merupakan fondasi penting dalam pengembangan riset bahan alam yang bertanggung jawab.

Dalam perspektif filsafat ilmu pengetahuan, kearifan lokal merupakan bentuk pengetahuan empiris yang memiliki nilai epistemologis. Ilmu pengetahuan modern tidak meniadakan pengalaman tradisional, melainkan mengembangkannya melalui proses rasionalisasi dan verifikasi metodologis. Pendekatan ini menempatkan tradisi sebagai titik awal eksplorasi ilmiah, bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sains.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa bunga Kasumba Turate mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi berperan sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan memiliki relevansi penting dalam bidang kesehatan karena berkaitan dengan upaya menekan stres oksidatif, yang diketahui berkontribusi terhadap proses degeneratif. Dalam konteks kecantikan, aktivitas tersebut juga dikaitkan dengan perlindungan kulit dari penuaan dini akibat faktor lingkungan.

Lebih lanjut, Virsa Handayani menekankan bahwa pendekatan ilmiah terhadap bahan alam harus diarahkan pada pemahaman mekanisme biologis yang mendasari manfaatnya, sehingga pemanfaatannya tidak berhenti pada klaim tradisional semata, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang rasional dan aman untuk diaplikasikan.

Selain itu, kajian Kasumba Turate juga membuka ruang integrasi antara ilmu pengetahuan dan konteks sosial-budaya. Pendekatan ini mencerminkan paradigma ilmu yang humanis dan kontekstual, di mana penelitian tidak terlepas dari nilai budaya, etika, dan keberlanjutan sumber daya alam. Dengan demikian, pengembangan bahan alam lokal tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga pada tanggung jawab sosial.

Melalui penguatan kajian ilmiah yang berlandaskan filsafat ilmu pengetahuan, Kasumba Turate berpotensi dikembangkan sebagai bahan pendukung kesehatan dan kecantikan berbasis herbal yang berakar pada kearifan lokal Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern dapat tumbuh dari tradisi, selama diuji dengan nalar kritis, metodologi yang tepat, dan orientasi pada kemaslahatan manusia. ***

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Doktoral Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Pengobatan Penyakit Secara Individual: Mengapa Setiap Orang Membutuhkan Terapi yang Berbeda?

faturahman

Oleh: Muhammad Fathurrahman

Selama ini, banyak orang berpikir bahwa satu jenis obat bisa cocok untuk semua pasien dengan penyakit yang sama. Misalnya, semua pasien diabetes mendapat obat yang serupa, atau semua pasien hipertensi minum obat yang sama. Padahal, pada kenyataannya, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, sehingga respons terhadap obat juga bisa berbeda.

Inilah yang menjadi dasar dari konsep pengobatan penyakit secara individual, atau sering disebut personalized medicine.

Apa Itu Pengobatan Secara Individual?

Pengobatan secara individual adalah pendekatan terapi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pasien, bukan hanya berdasarkan jenis penyakitnya.

Penyesuaian ini bisa berdasarkan:

  • Usia
  • Jenis kelamin
  • Berat badan
  • Riwayat penyakit
  • Kondisi organ (hati, ginjal, jantung)
  • Gaya hidup
  • Faktor genetik (bawaan sejak lahir)

Tujuannya sederhana:

Memberikan obat yang paling tepat, dengan dosis yang tepat, pada pasien yang tepat.

Mengapa Setiap Orang Bisa Memberi Respons Berbeda terhadap Obat?

Pernahkah Anda mendengar bahwa:

  • Ada orang yang cepat sembuh dengan suatu obat
  • Ada yang tidak bereaksi sama sekali
  • Ada pula yang justru mengalami efek samping berat

Hal ini terjadi karena tubuh setiap orang bekerja dengan cara yang berbeda, terutama dalam:

  • Menyerap obat
  • Mengubah obat di dalam hati
  • Membuang obat melalui ginjal

Selain itu, faktor genetik juga memengaruhi bagaimana tubuh merespons obat tertentu.

Contoh Pengobatan Secara Individual dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa contoh yang sering kita temui:

  1. Dosis obat anak berbeda dengan dewasa
    Anak tidak bisa diberi dosis yang sama seperti orang dewasa.
  2. Pasien dengan gangguan ginjal
    Dosis obat sering harus diturunkan agar tidak menumpuk dan meracuni tubuh.
  3. Pasien alergi obat tertentu
    Harus diberi alternatif obat yang lebih aman.
  4. Pasien diabetes
    Ada yang cukup dengan diet dan olahraga, ada yang perlu obat, dan ada yang harus insulin.

Peran Tes Genetik dalam Pengobatan Modern

Di era sekarang, pengobatan semakin maju dengan adanya tes genetik. Tes ini dapat membantu dokter mengetahui:

  • Obat mana yang paling efektif
  • Obat mana yang berisiko menimbulkan efek samping
  • Dosis yang paling sesuai

Contohnya:

  • Beberapa obat jantung dan kanker kini dipilih berdasarkan hasil tes genetik pasien.

Namun, tes ini masih belum digunakan secara luas karena biaya dan ketersediaan yang terbatas.

Manfaat Pengobatan Secara Individual

Pendekatan ini memberikan banyak keuntungan, antara lain:

  • Lebih efektif: peluang sembuh lebih besar
  • Lebih aman: risiko efek samping lebih kecil
  • Lebih efisien: mengurangi percobaan ganti-ganti obat
  • Lebih manusiawi: pasien diperlakukan sebagai individu, bukan sekadar “penyakit”

Peran Dokter dan Apoteker

Pengobatan secara individual tidak bisa dilakukan sendiri. Peran tenaga kesehatan sangat penting:

  • Dokter menegakkan diagnosis dan memilih terapi yang sesuai
  • Apoteker memastikan obat, dosis, dan cara pakai sudah tepat serta memberikan edukasi kepada pasien

Pasien juga berperan aktif dengan:

  • Memberi informasi riwayat penyakit yang lengkap
  • Menginformasikan obat yang sedang dikonsumsi
  • Melaporkan efek samping yang dirasakan

Kesimpulan

Pengobatan penyakit secara individual adalah pendekatan modern yang menyesuaikan terapi dengan kondisi unik setiap pasien.

Pendekatan ini membantu:

  • Meningkatkan keberhasilan pengobatan
  • Mengurangi risiko efek samping
  • Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas

Dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan farmasi, masa depan pengobatan akan semakin tepat sasaran dan berpusat pada pasien. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Sintesis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Ilmu Farmasi dalam Inovasi Model Intervensi Digital Apoteker Berbasis User-Centered Design pada Pasien Hemodialisis

foto penulis

Oleh: apt. Siti Rahmawati.,S.Farm.,M.Farm

Ilmu farmasi sebagai disiplin keilmuan terapan tidak hanya berorientasi pada obat sebagai objek material, tetapi juga pada manusia sebagai subjek utama. Dalam konteks penyakit kronis seperti gagal ginjal stadium akhir yang memerlukan terapi hemodialisis, praktik kefarmasian menghadapi tantangan besar seperti kompleksitas biologis, psikologis, sosial, dan teknologi. Diperlukan landasan filsafat ilmu yang kuat agar pengembangan pengetahuan tidak bersifat teknokratis semata, tetapi juga bermakna secara ilmiah, etis, dan humanistik.

Secara ontologis, pasien hemodialisis tidak dipahami hanya sebagai entitas biologis yang menerima terapi farmakologis, melainkan sebagai individu dengan sistem keyakinan, perilaku, persepsi risiko, dan pengalaman hidup yang memengaruhi keberhasilan terapi. Keyakinan terhadap obat, kepatuhan pengobatan, persepsi risiko, dan kualitas hidup merupakan realitas yang bersifat abstrak dan konstruk psikososial, namun memiliki eksistensi nyata dalam praktik kefarmasian karena secara langsung memengaruhi luaran klinis dan humanistik. Realitas tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi pasien dengan obat, tenaga kesehatan, sistem layanan, serta teknologi digital. Intervensi digital apoteker secara ontologis dipahami sebagai artefak ilmiah hasil rekayasa kefarmasian, yang diciptakan untuk menjembatani kebutuhan manusia dengan sistem terapi. Dengan demikian, terjadi pergeseran ilmu farmasi dari paradigma product-oriented menuju paradigma patient-centered dan technology-enabled pharmaceutical care.

Pengetahuan tentang efektivitas intervensi digital apoteker diperoleh melalui proses ilmiah yang menggabungkan metode kuantitatif berbasis bukti dengan pemahaman kontekstual terhadap pengalaman pengguna. Pengukuran perubahan keyakinan, kepatuhan, persepsi risiko, dan kualitas hidup dilakukan melalui instrumen yang tervalidasi secara ilmiah, mencerminkan pendekatan positivistik dan post-positivistik yang menekankan objektivitas, reliabilitas, dan validitas. Namun, pendekatan user-centered design menempatkan pasien sebagai subjek aktif dalam proses pengembangan intervensi, sehingga pengetahuan juga dibangun melalui pemahaman subjektif, partisipatif, dan kontekstual. Epistemologi ini bersifat konstruktivistik-kritis, di mana kebenaran ilmiah tidak hanya ditentukan oleh signifikansi statistik, tetapi juga oleh relevansi klinis, keberterimaan pengguna, dan keberlanjutan praktik. Pengetahuan farmasi dipahami sebagai hasil dialog antara teori, bukti empiris, dan praktik profesional apoteker dalam ekosistem digital kesehatan.

Pengembangan model intervensi digital apoteker bukan semata menghasilkan inovasi teknologi, tetapi meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis melalui penguatan keyakinan positif terhadap terapi, peningkatan kepatuhan, dan pemahaman risiko yang rasional. Nilai etika dalam tercermin dalam penghormatan terhadap otonomi pasien, perlindungan privasi dan keamanan data digital, serta prinsip keadilan dalam akses layanan kefarmasian. Peran apoteker dalam intervensi digital diposisikan sebagai pendamping terapi (pharmaceutical care provider), bukan sekadar penyampai informasi, sehingga memperkuat dimensi humanistik profesi farmasi. Aksiologi mencakup kontribusinya terhadap pengembangan praktik kefarmasian modern, transformasi layanan kesehatan berbasis digital, serta penguatan posisi apoteker dalam sistem pelayanan penyakit kronis. Dengan demikian, ilmu farmasi tidak hanya bernilai secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi pasien, profesi, dan sistem kesehatan.

Secara filosofis, inovasi model intervensi digital apoteker berbasis user-centered design pada pasien hemodialisis merepresentasikan kesatuan ontologi manusia sebagai pusat terapi, epistemologi pengetahuan berbasis bukti dan pengalaman, serta aksiologi yang menjunjung nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan sosial. Landasan filsafat ini menegaskan bahwa ilmu farmasi modern adalah ilmu yang ilmiah, humanistik, dan transformatif, selaras dengan tantangan pelayanan kefarmasian di era digital dan penyakit kronis. .***

Penulis adalah  Mahasiswa program Doktoral Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan dan Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS Dr Soepraoen Kesdam V/Brawijaya Malang

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Inovasi Sehat untuk Diabetes: Peran Multigrain, Umbi Yakon, dan Daun Kelor dalam Menjaga Gula Darah

foto

Oleh : Elisa Issusilaningtyas

Diabetes mellitus telah menjadi ancaman kesehatan global yang serius, dengan prevalensi terus meningkat di seluruh dunia. Di tengah keterbatasan akses obat-obatan dan efek samping yang tidak diinginkan, masyarakat kini mulai melirik kembali kepada kearifan alam. Penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil, dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memilih makanan yang tepat. Salah satunya adalah inovasi makanan sehat yang menggabungkan tiga bahan alami multigrain, umbi yakon, dan daun kelor muncul sebagai inovasi sehat yang menjanjikan dalam membantu mengontrol kadar gula darah penderita diabetes.

Multigrain adalah campuran berbagai biji-bijian seperti gandum, jagung, dan beras merah. Biji-bijian ini kaya akan serat dan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga dapat membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan. Penelitian komprehensif menunjukkan bahwa konsumsi multigrain secara signifikan dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada penderita diabetes. Studi meta-analisis yang melibatkan berbagai uji klinis menemukan bahwa asupan 50 gram multigrain per hari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 24%. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa proporsi multigrain yang lebih tinggi dalam sumber karbohidrat berkorelasi negatif dengan fluktuasi glukosa darah setelah makan. Para ahli merekomendasikan asupan harian lebih dari 150 gram bahan multigrain sebagai pendekatan preventif untuk diabetes. Intervensi dengan berbagai jenis multigrain terbukti lebih efektif dibandingkan konsumsi tunggal satu jenis biji-bijian saja

Umbi yakon (Smallanthus sonchifolius), tanaman asal Amerika Selatan yang kini mulai dikenal luas, memiliki potensi luar biasa sebagai agen antidiabetes. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air dari berbagai bagian tanaman yakon dapat meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan. Ekstrak daun yakon mampu menurunkan indeks glikemik terintegrasi hingga 30,2%, sementara ekstrak umbi menunjukkan efek yang lebih kuat dengan penurunan mencapai 39,4%. Keunggulan yakon terletak pada kandungan fruktooligosakaridasnya yang tinggi sekitar 70-80% dari komposisinya yang berfungsi sebagai prebiotik alami. Senyawa bioaktif dalam yakon, terutama ester asam caffeic, berkontribusi pada efek hipoglikemik yang telah diakui secara luas dalam komunitas ilmiah. Umbi ini tidak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga memodulasi sistem imun dan meningkatkan kesehatan pencernaan.

Daun kelor (Moringa oleifera) yang mudah ditemukan di Indonesia ternyata menyimpan khasiat menakjubkan untuk penderita diabetes. Studi klinis menunjukkan bahwa suplementasi daun kelor dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c secara bermakna. Dalam sebuah penelitian quasi-eksperimental, konsumsi jus daun kelor selama tujuh hari berturut-turut mampu menurunkan kadar gula darah rata-rata sebesar 15,7 mg/dL pada pasien diabetes tipe 2. Lebih menggembirakan lagi, terapi rebusan daun kelor terbukti efektif menurunkan kadar gula darah dan HbA1c dengan nilai signifikansi yang tinggi. Kandungan flavonoid, beta-karoten, vitamin C, dan senyawa bioaktif lainnya dalam daun kelor bekerja sebagai agen antihiperglikemik alami yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur metabolisme karbohidrat

Kombinasi olahraga aerobik dengan suplementasi daun kelor bahkan menunjukkan efek sinergis yang superior dalam meningkatkan kontrol glikemik, profil lipid, dan kadar adiponektin pada pasien diabetes tipe 2.

Sinergi multigrain diperkaya umbi yakon, dan daun kelor bisa menjadi alternatif yang aman dan alami dalam pengelolaan diabetes untuk membantu mengatur kadar gula darah. Multigrain menyediakan karbohidrat kompleks yang melepas energi bertahap membantu menjaga kestabilan gula darah dengan serat dan karbohidrat kompleks, sementara umbi yakon menambah rasa manis alami plus prebiotik, dan kelor memberikan vitamin serta senyawa bioaktif pelindung. Formulasi tepat menghasilkan produk dengan indeks glikemik rendah (52-56), tinggi protein (11,2-14,3%), tinggi serat (9,1-11,6%), dan kaya antioksidan dengan konsep “makanan sebagai obat” dalam filosofi pengobatan tradisional. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Dosen Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Kearifan Alam dan Keilmuan Islam: Inovasi Granul Effervescent Antidiabetes untuk Masyarakat

foto

Oleh: Nikmah Nuur Rochmah

Peningkatan kasus diabetes melitus di Indonesia menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga terjangkau, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Salah satu upaya yang berkembang adalah inovasi granul effervescent antidiabetes berbasis kombinasi umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas, yang dikaji dalam perspektif keilmuan Islam dan kearifan alam.

Dalam pandangan Islam, alam semesta merupakan amanah dari Allah SWT yang mengandung tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat kauniyah). Setiap tumbuhan diciptakan dengan fungsi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Umbi bit merah dikenal kaya antioksidan alami, jahe memiliki aktivitas antiinflamasi dan pengatur metabolisme, sereh berpotensi mendukung keseimbangan metabolik, sedangkan nanas mengandung enzim alami yang membantu proses pencernaan. Kombinasi keempat bahan alam ini mencerminkan kearifan lokal yang selama berabad-abad telah dimanfaatkan masyarakat sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

Keunggulan inovasi ini terletak pada bentuk sediaannya, yaitu granul effervescent. Bentuk ini dipilih karena praktis, mudah dikonsumsi, memiliki rasa yang lebih dapat diterima, serta memungkinkan penyerapan senyawa aktif secara lebih cepat. Dari sisi keilmuan farmasi, formulasi effervescent menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat mengoptimalkan bahan alam tanpa menghilangkan karakter alaminya. Inilah wujud sinergi antara sains kontemporer dan pengetahuan tradisional yang berakar pada budaya masyarakat.

Dalam kajian filsafat ilmu Islam, inovasi ini dapat dipahami melalui tiga aspek utama. Secara ontologis, bahan alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki hakikat dan potensi penyembuhan. Secara epistemologis, pengembangannya dilakukan melalui metode ilmiah—eksperimen, pengujian, dan pembuktian—yang sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang menjunjung tinggi akal dan observasi. Sementara itu, secara aksiologis, tujuan inovasi ini diarahkan pada kemaslahatan umat, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui solusi kesehatan yang aman dan terjangkau.

Lebih dari sekadar produk kesehatan, granul effervescent antidiabetes ini juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Pemanfaatan bahan alam lokal membuka peluang pemberdayaan petani dan masyarakat desa, sekaligus mendorong kemandirian bangsa dalam pengembangan produk kesehatan berbasis sumber daya sendiri. Nilai ini sejalan dengan prinsip Islam tentang keadilan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, inovasi granul effervescent dari umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas bukan hanya menjawab tantangan medis diabetes melitus, tetapi juga merepresentasikan wajah peradaban Islam yang berkemajuan—peradaban yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Melalui kearifan alam dan keilmuan Islam, inovasi ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat sekaligus inspirasi bagi pengembangan sains yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. ***

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap

 

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
Opini

Isra’ Mi’raj sebagai Sumber Nilai Pendidikan Spiritual dan Moral

penulis

Oleh : Dr. Cholisa Rosanti,M.Si

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa pendidikan ilahiah yang sarat makna bagi pembangunan manusia, khususnya dalam dunia pendidikan. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, nilai-nilai Isra’ Mi’raj relevan untuk meneguhkan arah pendidikan agar tidak kehilangan ruh dan tujuan.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan spiritual dan akhlak. Perintah shalat yang diterima Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa Mi’raj menjadi simbol bahwa hubungan dengan Allah (hablum minallah) adalah fondasi utama dalam kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, hal ini menegaskan bahwa proses belajar seharusnya melahirkan pribadi yang sadar akan tanggung jawabnya kepada Tuhan, bukan sekadar manusia yang cakap secara akademik.

Selain itu, Isra’ Mi’raj menunjukkan pentingnya proses dan keteladanan. Nabi Muhammad saw. dipersiapkan secara spiritual sebelum menerima perintah besar. Ini memberi pelajaran bahwa pendidikan memerlukan tahapan, kesabaran, dan pendampingan. Seorang pendidik bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing yang menuntun peserta didik melalui proses pembentukan karakter. Keteladanan Nabi dalam menerima dan menjalankan perintah shalat menjadi contoh nyata bahwa nilai yang diajarkan harus terlebih dahulu dihidupkan oleh pendidiknya.

Dalam dunia pendidikan modern, sering kali keberhasilan diukur melalui angka, peringkat, dan prestasi formal. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa keberhasilan sejati adalah keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kecerdasan dan kesalehan. Pendidikan yang terlepas dari nilai spiritual berisiko melahirkan generasi yang pintar tetapi kehilangan arah, cakap namun miskin empati.

Oleh karena itu, momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi refleksi bagi dunia pendidikan untuk kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran moral, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial, sebagaimana shalat mendidik manusia untuk taat, tertib, dan peduli. Dengan demikian, nilai-nilai Isra’ Mi’raj tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihidupkan dalam praktik pendidikan sehari-hari demi melahirkan generasi berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. ***

Penuis adalah Dosen Universitras Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Integrasi Bioinformatika dan Farmakogenetik terhadap Respon Terapi Imunosupresan pada Resipien Transplantasi Ginjal

khusnul

Oleh: Khusnul Khotimah

Abstrak

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat ditentukan oleh efektivitas dan keamanan terapi imunosupresan jangka panjang, khususnya tacrolimus sebagai agen lini pertama. Namun, tacrolimus memiliki indeks terapeutik sempit dan menunjukkan variabilitas farmakokinetik serta respon klinis yang tinggi antarindividu. Variasi genetik pada gen metabolisme dan transporter obat, terutama CYP3A5, berperan signifikan dalam menentukan kebutuhan dosis, stabilitas kadar obat, serta risiko penolakan graft dan toksisitas. Pendekatan farmakogenetik konvensional yang berfokus pada gen tunggal belum mampu menjelaskan kompleksitas respon terapi yang melibatkan interaksi multi-gen, jalur biologis, serta faktor klinis.

Bioinformatika menawarkan pendekatan berbasis sistem biologi untuk mengintegrasikan data genomik, molekuler, dan klinis secara komprehensif. Artikel ini mengkaji peran integrasi bioinformatika dan farmakogenetik dalam memahami dan memprediksi respon terapi imunosupresan pada resipien transplantasi ginjal, dengan penekanan pada tacrolimus dan stabilitas kadar obat yang direpresentasikan oleh Tacrolimus Trough Level Coefficient of Variation (TTL-CV). Pendekatan integratif ini berpotensi mendukung penerapan precision medicine guna meningkatkan keberhasilan jangka panjang transplantasi ginjal.

Kata kunci: transplantasi ginjal, tacrolimus, bioinformatika, farmakogenetik, TTL-CV, precision medicine.

Pendahuluan

Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal paling optimal bagi pasien penyakit ginjal tahap akhir dan terbukti memberikan harapan hidup serta kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dialisis jangka panjang. Secara global, jumlah transplantasi ginjal terus meningkat seiring bertambahnya beban penyakit ginjal kronis dan kemajuan teknologi medis. Di Indonesia, meskipun jumlah prosedur masih terbatas, tren transplantasi ginjal menunjukkan peningkatan sejalan dengan berkembangnya pusat transplantasi dan sistem pelayanan kesehatan.

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat bergantung pada pengelolaan terapi imunosupresan seumur hidup untuk mencegah penolakan graft. Tacrolimus menjadi agen imunosupresan utama karena efektivitasnya yang tinggi, namun penggunaannya menghadapi tantangan besar akibat indeks terapeutik sempit dan variabilitas farmakokinetik yang tinggi, baik antarindividu maupun intra-pasien. Variabilitas ini berkontribusi terhadap risiko subterapi yang berujung pada penolakan graft, maupun overeksposur yang menyebabkan nefrotoksisitas, gangguan metabolik, dan komplikasi jangka panjang.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa variasi genetik, khususnya polimorfisme pada gen CYP3A5, CYP3A4, dan ABCB1, berperan penting dalam menentukan metabolisme dan distribusi tacrolimus. Namun, sebagian besar studi farmakogenetik masih bersifat reduksionistik dengan fokus pada satu gen, sehingga belum mampu menjelaskan kompleksitas respon terapi yang melibatkan interaksi multi-gen dan jalur biologis. Dalam konteks ini, bioinformatika menjadi pendekatan strategis untuk mengintegrasikan data genetik dan klinis guna mendukung penerapan terapi imunosupresan berbasis presisi.

Ontologi: Hakikat Respon Terapi Imunosupresan dalam Transplantasi Ginjal

Secara ontologis, respon terapi imunosupresan merupakan hasil interaksi dinamis antara obat, sistem imun, dan karakteristik biologis individu. Tacrolimus tidak bekerja dalam ruang biologis yang sederhana, melainkan dalam jaringan molekuler kompleks yang melibatkan enzim metabolisme, transporter obat, jalur pensinyalan imun, serta faktor klinis dan lingkungan. Variasi genetik membentuk dasar biologis yang menyebabkan setiap resipien transplantasi ginjal memiliki respon terapi yang unik.

Konsep ini menegaskan bahwa terapi imunosupresan tidak dapat diperlakukan sebagai intervensi “satu dosis untuk semua”. Stabilitas kadar tacrolimus, yang dapat diukur melalui TTL-CV, mencerminkan keseimbangan biologis antara metabolisme obat dan respon imun. Oleh karena itu, pemahaman ontologis terhadap respon terapi harus mencakup dimensi sistemik yang melampaui analisis gen tunggal.

Epistemologi: Integrasi Bioinformatika dan Farmakogenetik sebagai Kerangka Pengetahuan

Epistemologi respon terapi imunosupresan dibangun melalui integrasi bukti genetik, molekuler, dan klinis. Farmakogenetik menyediakan dasar pengetahuan mengenai hubungan antara variasi genetik dan farmakokinetika tacrolimus, khususnya peran polimorfisme CYP3A5 dalam menentukan kebutuhan dosis dan pencapaian kadar terapeutik. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan ketika diterapkan secara terpisah.

Bioinformatika berperan sebagai kerangka epistemologis yang memungkinkan analisis sistem biologi melalui pemanfaatan basis data genomik seperti GWAS Catalog, HaploReg, GTEx, Ensembl, dan PharmGKB. Melalui pemetaan jalur biologis dan jaringan interaksi gen, bioinformatika mampu mengidentifikasi gen dan pathway kunci yang berkontribusi terhadap variabilitas respon terapi. Integrasi ini memungkinkan pemahaman mekanistik yang lebih mendalam serta mendukung pengembangan model prediksi respon terapi berbasis data.

Dengan demikian, integrasi bioinformatika dan farmakogenetik memperkuat praktik berbasis bukti (evidence-based practice) dalam pengelolaan terapi imunosupresan, sekaligus menjembatani kesenjangan antara temuan genetik dan penerapannya di klinik.

Aksiologi: Nilai Manfaat bagi Pasien dan Sistem Kesehatan

Dari sudut pandang aksiologi, tujuan utama integrasi bioinformatika dan farmakogenetik adalah memberikan manfaat nyata bagi resipien transplantasi ginjal. Pendekatan ini memungkinkan individualisasi dosis tacrolimus secara lebih akurat, mempercepat pencapaian kadar terapeutik, serta menurunkan risiko penolakan graft dan toksisitas obat. Pemanfaatan TTL-CV sebagai mediator biologis memberikan alat evaluasi yang lebih sensitif terhadap stabilitas terapi jangka panjang.

Selain manfaat klinis, pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi pembiayaan kesehatan melalui penurunan komplikasi pascatransplantasi dan kebutuhan rawat inap berulang. Dalam konteks sistem kesehatan nasional, integrasi ini mendukung pengembangan kebijakan berbasis precision medicine yang relevan dengan karakteristik populasi Indonesia.

Penutup

Integrasi bioinformatika dan farmakogenetik merupakan pendekatan inovatif dan strategis dalam memahami serta mengoptimalkan respon terapi imunosupresan pada resipien transplantasi ginjal. Dengan memadukan pemahaman ontologis terhadap kompleksitas biologis, kerangka epistemologis berbasis sistem biologi, dan orientasi aksiologis pada kemaslahatan pasien, pendekatan ini memberikan landasan ilmiah yang kuat bagi penerapan precision medicine dalam transplantasi ginjal. Ke depan, integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan jangka panjang transplantasi ginjal dan kualitas hidup resipien secara berkelanjutan.***

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Farmasi, Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Melampaui Romantisme Bahari: Menuntut Keadilan bagi Penjaga Kedaulatan Pangan Laut

Khoirul-Fatah

Oleh: Khoirul Fatah

Indonesia kerap membanggakan jati dirinya sebagai negara maritim terbesar di dunia. Narasi mengenai kekayaan sumber daya laut, bentangan garis pantai yang panjang, dan potensi ekonomi kelautan terus digaungkan dalam berbagai forum akademis dan pemerintahan. Akan tetapi, di balik gemerlap data statistik ekspor hasil perikanan dan industri pariwisata pantai, tersimpan kenyataan pahit yang sering luput dari perhatian: kehidupan rentan para nelayan tradisional dan komunitas pesisir yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan maritim kita.

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia Nelayan dan Masyarakat Sipil setiap 13 Januari bukanlah sekadar rutinitas tahunan belaka. Momentum ini menjadi pengingat penting bahwa pelaku utama yang menjaga ketahanan pangan laut justru berada dalam kondisi paling tidak berdaya. Ironi ini sangat nyata: mereka yang menyediakan sumber protein bagi jutaan keluarga Indonesia, justru sering kesulitan mencukupi kebutuhan gizi keluarganya sendiri.

Membongkar Ketidakadilan Sistemik

Masalah fundamental yang dihadapi para nelayan saat ini bukan semata persoalan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim, melainkan ketimpangan struktural yang mengakar. Nelayan tradisional dipaksa menghadapi pertarungan yang tidak seimbang. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan kondisi laut yang kian tidak bersahabat; di sisi lain, mereka berhadapan dengan kebijakan tata ruang pesisir yang kerap mengutamakan kepentingan industri besar dan pariwisata komersial dibandingkan ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal.

Hak asasi para nelayan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai hak untuk menangkap ikan di laut. Hak mereka meliputi perlindungan dari perampasan wilayah tangkap (ocean grabbing), jaminan harga jual yang layak, akses terhadap teknologi modern, serta perlindungan jaminan sosial yang memadai. Ketika area tangkapan mereka terenggut akibat proyek reklamasi atau tercemar limbah industri, sesungguhnya telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia secara terstruktur terhadap komunitas pesisir.

Kontribusi Strategis Masyarakat Sipil dan Dunia Akademik

Di sinilah pentingnya peran organisasi masyarakat sipil dan lembaga pendidikan tinggi. Universitas tidak boleh lagi berperan sebagai institusi yang terpisah dari realitas sosial, yang hanya mengkaji laut dari sudut pandang ilmu alam atau teknik semata. Diperlukan integrasi pendekatan ilmu sosial, hukum, dan ekonomi politik dalam memahami persoalan kelautan secara komprehensif.

Kredibilitas akademik sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah publikasi di jurnal internasional, tetapi dari seberapa besar institusi tersebut hadir secara nyata di tengah masyarakat pesisir untuk memberikan solusi konkret. Karya ilmiah harus bertransformasi menjadi instrumen advokasi yang berbasis rigor akademik. Data tentang kemiskinan pesisir, kerusakan ekosistem laut, dan konflik pertanahan di wilayah maritim harus diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong pembuat keputusan untuk berpihak pada kemanusiaan.

Mewujudkan Keadilan Maritim

Momentum Hari HAM Nelayan dan Masyarakat Sipil ini harus menjadi katalis perubahan. Kita perlu mengadvokasi konsep “Keadilan Maritim” (Blue Justice), di mana pembangunan sektor kelautan harus inklusif dan tidak meninggalkan satu pun warga negara dalam keterpurukan. Perlindungan terhadap aktivis lingkungan yang menyuarakan kerusakan ekosistem laut juga harus dijamin, mengingat maraknya upaya pembungkaman terhadap para pembela lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai bagian dari komunitas akademik, kontribusi kita adalah menyoroti isu-isu yang terpinggirkan ini ke permukaan. Melalui riset, publikasi, dan keberpihakan nyata, kita tidak hanya menjaga kelestarian laut, tetapi juga memuliakan martabat manusia yang hidup bersamanya. Mari kita pastikan bahwa lautan Indonesia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memberikan harapan cerah bagi masa depan para nelayan dan keluarga mereka. ***

Diperkenankan mengambil sebagian atau keseluruhan dari tulisan ini dengan menyertakan link/tautan aktif artikel ini

Penulis adalah Dosen UMPP Pekalongan

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Pasien DM Semakin Banyak, Saatnya Apoteker dan Teknologi Digital Bergerak Bersama

ainun

Oleh: Ainun Muthoharoh

Diabetes melitus (DM) bukan lagi sekadar penyakit kronis, melainkan masalah kesehatan serius yang terus meningkat di Indonesia. Angka kematian dan kesakitan akibat diabetes bahkan menempati peringkat tertinggi dibandingkan penyakit tidak menular lainnya. Ironisnya, meskipun jumlah penyandang diabetes terus bertambah, kesadaran untuk menjalani pengobatan secara rutin masih sangat rendah. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar dua pertiga penyandang diabetes di Indonesia yang menjalani pengobatan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 90 persen pasien diabetes memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya minum obat secara teratur. Kondisi ini membuat diabetes semakin sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kebutaan.

Prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia diprediksi mencapai lebih dari 10 persen penduduk. Jawa Tengah sendiri termasuk provinsi dengan kasus diabetes tertinggi. Di tingkat layanan kesehatan, berbagai permasalahan muncul, salah satunya adalah kejadian efek samping obat atau adverse drug reaction (ADR) pada pasien rawat jalan yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan diabetes bukan hanya soal pemberian obat, tetapi juga membutuhkan pemantauan yang berkelanjutan. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kepatuhan pasien. Pasien diabetes dengan kepatuhan rendah terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Faktor usia di atas 40 tahun dan tingkat pendidikan yang rendah semakin memperbesar risiko ketidakpatuhan. Ketika pasien tidak patuh pada resep dokter, target pengobatan sulit tercapai dan kesejahteraan pasien pun menurun.

Di sinilah peran apoteker menjadi sangat penting. Sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan, apoteker memiliki tanggung jawab melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Sayangnya, selama ini PTO lebih banyak diterapkan pada pasien rawat inap, sementara pasien rawat jalan yang jumlahnya jauh lebih besar, belum mendapatkan perhatian optimal. Padahal, sebagian besar pasien diabetes menjalani pengobatan jangka panjang secara rawat jalan. Penerapan PTO pada pasien rawat jalan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan pemantauan yang baik, apoteker dapat mendeteksi ketidakpatuhan, mengidentifikasi efek samping obat, serta menyesuaikan terapi sesuai kondisi pasien. Tantangannya adalah keterbatasan jumlah apoteker, waktu pelayanan, dan biaya operasional.

Di tengah tantangan tersebut, teknologi digital menawarkan solusi yang menjanjikan. Aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat memungkinkan apoteker memantau kepatuhan pasien secara real-time tanpa harus bertemu langsung. Pasien pun dapat berkonsultasi dari rumah, menghemat waktu dan biaya, serta tetap mendapatkan pendampingan profesional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi yang dikombinasikan dengan peran aktif apoteker mampu meningkatkan kepatuhan minum obat, memperbaiki kontrol gula darah, serta menurunkan kejadian efek samping obat. Pemantauan yang efektif juga membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah inovasi aplikasi kesehatan untuk pasien diabetes, baik sebagai media edukasi maupun pemantauan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan layanan kefarmasian, khususnya peran apoteker dalam PTO.

Selain aspek teknologi, keberhasilan pengelolaan diabetes sangat dipengaruhi oleh self-efficacy atau keyakinan pasien terhadap kemampuannya mengelola penyakit. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindakan dan mencapai hasil yang diharapkan. Pada pasien DM, self-efficacy yaitu pada keyakinan pasien bahwa dirinya mampu mengelola penyakit diabetes secara mandiri. Contoh sederhana, yaitu jika pasien memiliki self-efficacy tinggi: “Saya yakin bisa minum obat setiap hari dan mengatur makan, meskipun sedang sibuk.” Jika pasien memiliki self-efficacy rendah: “Saya tahu harus minum obat, tapi rasanya sulit dan saya tidak yakin bisa melakukannya terus.” Pasien dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih patuh terhadap pengobatan, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Sebaliknya, self-efficacy yang rendah berhubungan erat dengan kontrol gula darah yang buruk dan meningkatnya risiko komplikasi.

Oleh karena itu, pengelolaan diabetes di masa depan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan konvensional semata. Kolaborasi antara apoteker, tenaga kesehatan lain, dan teknologi digital menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan, keselamatan penggunaan obat, serta kualitas hidup penyandang diabetes. Sudah saatnya pemantauan terapi obat berbasis aplikasi mobile menjadi bagian dari layanan kesehatan rutin bagi pasien diabetes rawat jalan. Dengan dukungan teknologi dan peran aktif apoteker, pengendalian diabetes bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta / Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya