close
Opini WargaTekno

Cerito Kampung: Upaya Kita agar Minat Baca Bertambah

ilustrasi membaca elektronik
ilustrasi. Foto: Kisspng

“Buku adalah jendela dunia”, sebuah ungkapan yang mungkin sekilas sudah ketinggalan zaman.Disebut demikian bisa jadi karena melihat perkembangan teknologi informasi sekarang ini, yang sedemikian rupa telah maju pesat. Ditandai dengan kemampuan gawai sekarang yang sepertinya membuat beragam aktivitas mengerucut hanya pada penggunaan sebuah perangkat. Begitu pula kegiatan membaca, yang pastinya tidak terpancang pada sebuah buku sebagai medianya.

Pada zaman nirkertas seperti sekarang ini, membaca buku sebagai bahan bacaan tampaknya sudah banyak ditinggalkan orang. Tetapi menurutku, buku masih tetap bahan bacaan yang utama. Bukan mengesampingkan adanya e-book yang sudah lumrah digunakan, tapi mungkin lebih kepada kebiasaan, karena kita sudah terbiasadari dulu, bahwa membaca, pasti merujuk pada sebuah benda fisik hasil cetakan, bisa berupa buku ataupunmajalah. Atau bisa jadi kita lebih banyak melakukan aktivitas fisik agar buku bisa kita dapatkan dankemudian membacanya.

Buku adalah produk budaya. ia ada karena ada budaya membaca. Menjadi semacam daur atau siklus, jika budaya membaca tinggi, membutuhkan ketersediaan buku yang mencukupi. Merangsang penulis untuk lebih produktif menghasilkan karyanya. Sayangnya di sekitar kita tampaknya budaya membaca masih kurang, pun jika membaca masih menjadi kebiasaan, banyak dari kita yang menginginkan bukunya di dapat secara gratis, menurut beberapa penggiat buku, keinginan mendapatkan buku secara cuma-cuma dari penulis misalnya, bias mematikan atau berakibat negatif dari segi pendapatan penulis, karena dari satu buku yang diberikan gratis sebagai gantinya harus ada 10 buku yang terjual. Tentunya kita tidak ingin memadamkan semangat para penulis dengan cara yang demikian. Seyogianya penghargaan kita terhadap para penulis tidak saja hanya dengan membaca karyanya tetapi harus diimbangi dengan memberi penambahan nilai ekonomi pada karya yang telah dihasilkannya. Kemauan kita dalam membeli buku, baik buku baru ataupun bekas, sangat membantu perputaran industri buku secara lebih luas.

Di beberapa tempat sekitar kita mungkin pernah kita menemui taman baca masyarakat atau TBM yang mulaibermunculan, ini mungkin sebuah berita bagus untuk menumbuhkembangkan budaya membaca. TBM seperti walaupun didirikan dengan segala keterbatasan tentu sedikit banyak bisa mendorong minat baca masyarakat, terutama anak-anak. Anak-anak menjadi sasaran utama karena dari merekalah nantinya diharapkan setelah dewasa mempunyai minat baca yang tinggi. Karena anak-anak yang menjadi sasaran utama, bisa pula diupayakan dengan mengenalkan buku sejak dini pada mereka dengan cara membacakan cerita sebelum mereka tidur, dan tentunya tekad kuat orang tua untuk melaksanakannya. Satu lagi kiat dari teman seorang penulis, pada tiap-tiap tempat yang ada ruang tunggunya diusahakan untuk menyediakan buku bacaan, ini dimaksudkan agar orang-orang yang menunggu setidaknya mempunyai obyek untuk menghabiskan waktunya. (*)

Penulis : Muhammad Benbella

Tags : bacamembacaminat baca