Warta Desa, 26 Agustus 2025 – Desa Langensari, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, menjadi lokasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari mahasiswa IPB University. Pada tanggal 21–22 Juli 2025, tim KKN-T IPB melaksanakan kegiatan pengukuran pH tanah sawah sebagai bagian dari program edukasi dan pendampingan kepada petani lokal.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keasaman atau kebasaan tanah guna mengetahui kondisi kimia tanah pertanian. Selain itu, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada petani terkait cara menjaga kesuburan tanah dan strategi mengatasi kekeringan yang kerap melanda wilayah tersebut.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Langensari, Solihin, mengungkapkan bahwa sebagian sawah di desa mengalami kekeringan akibat keterbatasan pengairan.
“Di sini hujan jarang turun, jadi harus sering buka pintu irigasi. Tapi airnya tetap kurang, soalnya desa kami di bagian paling ujung, airnya sudah dibagi ke desa-desa yang lebih atas,” ujarnya.
Ia menyambut baik kegiatan pengukuran pH tanah, karena data tersebut sangat berguna untuk merencanakan pemupukan yang lebih tepat dan mempertahankan produktivitas lahan.
Pengukuran dilakukan menggunakan soil moisture test di tiga dusun: Gintung, Bangisari, dan Patempelan. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata pH tanah berada di angka 6,1, yang masih sesuai untuk budidaya padi (idealnya pH 5,5–6,5). Hal ini menandakan bahwa kesuburan tanah di desa tersebut masih relatif baik, meskipun ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian utama.
Sebagai solusi awal, mahasiswa KKN-T memberikan sampel produk pertanian Bio Sigma kepada para petani. Produk ini mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya serap unsur hara, serta memperkuat pertumbuhan akar tanaman agar lebih tahan terhadap kekeringan.
“Bio Sigma ini bisa bikin tanah lebih gembur, jadi air bisa disimpan lebih lama. Tanaman pun jadi lebih tahan kalau musim kering,” jelas Ajil, Koordinator Desa Langensari dari tim KKN-T IPB.
Selain itu, tim juga memberikan beberapa rekomendasi teknis kepada petani untuk mengurangi dampak kekeringan, antara lain:
Pembuatan kolam penampung air hujan
Penggunaan mulsa jerami untuk mempertahankan kelembapan tanah
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala Desa Langensari, Setyo Budi.
“Saya senang melihat mahasiswa mau turun langsung ke sawah, melihat langsung kondisi petani. Pengalaman ini sangat penting karena ke depan mereka inilah yang akan membawa inovasi di sektor pertanian. Harapannya tentu manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh para petani,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, petani diharapkan tidak hanya mendapatkan data kondisi lahan, tetapi juga kesadaran dan pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga kualitas tanah dan mengantisipasi kekeringan. Diharapkan perwakilan petani yang terlibat dalam kegiatan ini dapat menyebarkan informasi kepada kelompok tani lainnya di Desa Langensari. (Gusanto)










