close
Layanan PublikSosial Budaya

Pemkab Pemalang siap-siap ungsikan warga lereng Gunung Slamet

gunung slamet

Pemalang, Wartadesa. – Meningkatnya status Gunung Slamet membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang bersiap mengungsikan warga di radius berbahaya di wilayah lereng Gunung Slamet.

“Kalau status dinaikkan jadi siaga tentu jarak radius (bahaya) bertambah. Kalau memenuhi jarak radius nanti kita ungsikan. Jadi tidak terjadi hal-hal yang bahaya‎,” ujar Junaedi, Bupati Pemalang saat berada di Pos Pengamanan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Ahad (11/08).

Junaedi menambahkan, pihaknya sudah menyiapkan jalur evakuasi di desa-desa yang berada di wilayah terdampak Gunung Slamet. Jalur tersebut difungsikan untuk memudahkan warga mengungsi ke tempat lebih aman jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

“Pelatihan evakuasi juga sudah dilakukan sehingga masyarakat tidak kagetan dan gumunan kalau ada bencana. Mereka siap antisipasinya bagaimana. Kalau logistik sifatnya darurat, jadi sudah stand by untuk antisipasi kedaruratan‎,” lanjut Junaedi.

Menurut Junaedi, desa di wilayah Kabupaten Pemalang yang terdekat dengan puncak Gunung Slamet berjarak 3,9 kilometer. Sehingga warga di desa setempat masih berada di luar radius bahaya yang ditetapkan. “Desa terdekat 3,9 kilometer. Jadi masih aman. Warganya sudah biasa karena peningkatan aktivitas Gunung Slamet ini siklus. Kesiapsiagaannya sudah bagus,” lanjutnya.

Junaedi menghimbau warga tetap waspada saat beraktivitas sehari-hari. Sebab aktivitas vulkanik Gunung Slamet bisa sewaktu-waktu mengalami peningkatan dan statusnya dinaikkan menjadi siaga (level III). “Saat ini status masih waspada. Masyarakat tetap beraktivitas tapi waspada. Tidak boleh mendekati radius dua kilometer dari puncak,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Desa Gambuhan Minggu 11 Agustus 2019 dari pukul 12.00-18.00, Gunung Slamet terekam mengalami gempa tremor terus menerus dengan amplitudo 0,5-3 milimeter dan 42 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-13 milimeter.

Sedangkan pengamatan secara visual pada kurun waktu yang sama, ‎puncak gunung terpantau mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 25-50 m di atas puncak kawah.

‎Petugas pengamat di pos pengamatan, Rusdi mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas vulkanik Gunung Slamet terpantau mengalami peningkatan dibandingkan pada Sabtu 10 Agustus 2019. “Amplitudo gempa tremornya membesar. Dari yang dominan satu milimeter sekarang menjadi dua milimeter. Untuk status, masih waspada atau level II,” ujarnya. (Eva Abdullah)

Tags : Gunung Slametwaspada gunung slamet