close
gambar sumarni
Sumarni, pengrajin gerabah Desa Wonorejo sedang membuat gerabah saat kunjungan salah satu lembaga pendidikan di Doro

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Dukuh Lengkong, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan mulai menggeliat. Kerajinan “usaha lemah” yang merupakan usaha turun-temurun warga ini awalnya sempat meredup. Dari ratusan pengrajin di pedukuhan teresebut, kini tingal puluhan pengrajin yang tinggal.

Beragam permasalahan pengrajin dilontarkan ketika Warta Desa menyambangi mereka Sabtu (02/02) di sekretariat Desa Wisata Edukasi Gerabah. Bersamaan dengan kunjungan dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah, Doro.

Sumarni (65), pengrajin gerabah desa setempat menuturkan bahwa punahnya kerajinan di desanya lantaran anak-anak muda mulai tidak mengyukai kerajinan tersebut. “Kerajinan gerabah mulai punah, anak-anak muda tidak menyukai kerajinan tersebut karena penghasilan yang tidak menjanjikan, proses pembuatan yang lama, apalagi ketika musim hujan.
Sehari ambil tanah, tiga hari diproses diijek-injek/diuleni, baru kemudian dibuat, dijemur dan dibakar,” tuturnya.

Menurut Sumarni, jika harga gerabah maupun bentuk gerabah di desanya bervariasi mungkin anak-anak muda akan menyukainya. Dia berharap agar kerajinan gerabah yang merupakan warisan turun-temurun tidak punah. Harus ada usaha untuk menumbuhkan kecintaan para remaja dan pemuda pada kerajinan gerabah.

Ibu paruh baya yang pernah melakukan studi banding ke Gunungkidul, Yogyakarta untuk belajar pembuatan gerabah tersebut mengungkapkan bahwa di sana jenis, bentuk dan model gerabah beraneka macam dan pengrajinnya merupakan anak-anak muda. Sumarni berharap agar gerabah produksi di desanya bisa bervariasi seperti pengrajin di Gunungkidul.

Permasalahannya para pengrajin di desanya, yang nota bene sudah tua-tua tidak tahu cara membuat gerabah modern. Alat yang saat ini masih manual menjadi kendala. “Belum pernah membuat kerajinan yang modern seperti yang di Jogja. Selain itu jenis tanah di Jogja berbeda dengan kondisi di Wonorejo,” lanjutnya.

“Pengolahan tanahnya menggunakan mesin, sehingga tidak banyak menggunakan air. Mesin ini menjadi kebutuhan utama para pengrajin, untuk membuat kerajinan gerabah yang modern,” ujar Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan mesin pengolah tanah tersebut, uletan tanah lebih kenyal dan merata, sehinga hasilnya lebih baik.

Selain bantuan mesin pengolah tanah untuk kerajinan gerabah, pengrajin desa setempat juga membutuhkan instruktur gerabah modern dari Jogja untuk menerapkan seni gerabah modern di desanya. “Ya … selain bantuan mesin pengolah tanah, kalo bisa ada instruktur atau guru yang mengajari warga untuk membuat gerabah modern,” harap Sumarni.

Desa Wonorejo saat ini sering dikunjungi oleh lembaga pendidikan untuk melakukan wisata edukasi pembuatan gerabah. Beberapa tahun terakhir ini sering dijadikan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN), bahkan Bupapi Pekalongan, Asip Kholbihi pernah datang ke desa tersebut untuk melihat langsung kerajinan warga tersebut. (WD)

Tags : gerabahgerabah pekalonganwonorejo

Leave a Response