close
Hukum & Kriminal

Siram air keras, Bolot divonis 10 tahun kurungan

bolot

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Ruslam alias Bolot (32), warga Desa Pandanarum, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, pelaku penyiraman air keras  kepada IPR (32) istri tersangka dan K (42) mertua perempuan pada Selasa (18/06) lalu, akhirnya divonis kurungan penjara 10 tahun dan membayar biaya perkara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, dalam sidang putusan yang digelar Senin (11/11).

Perbuatan Bolot tersebut membuat orangtua Ika (IRT), Suhaimi harus menjual kebun untuk biaya pengobatan istri dan anaknya senilai Rp 100 juta.

Baca: Penyiram air keras di Silirejo ditangkap

Bolot divonis lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kajen dengan tuntutan delapan tahun. Ia terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tidak kekerasan fisik dalam lingkungan rumah tangga (KDRT) hingga menyebabkan korban luka berat.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukam tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan korban luka berat sebagaimana dalam dakwaan ke satu primer dari penuntut umum. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama sepuluh tahun, dikurangi masa tahanan yang telah dijalani,” ujar Hakim Ketua Utari Wiji SH

Hal yang memberatkan, menurut Hakim Ketua adalah perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, dilakukan terhadap istri dan mertua yang seharusnya dilindungi dan disayangi, saksi korban tidak memaafkan perbuatan terdakwa, terdakwa tidak mempunyai itikad baik membantu biaya pengobatan dan perawatan kedua korban, perbuatan terdakwa mengakibatkan kedua korban mengalami cacat fisik, terdakwa melarikan diri setelah melakukan perbuatannya, dan terdakwa sudah pernah dihukum.

Sedangkan hal-hal yang meringankan terdakwa berterus terang selama menjalani pemeriksaan di persidangan. Lanjut hakim. Selain itu fakta persidangan mengungkap bahwa terdakwa merencanakan perbuatannya. Putusan dari majelis hakim yang memvonis terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun itu sendiri merupakan pidana maksimal sebagaimana yang diatur dalam Pasal 44 ayat (2) tentang Penghapusan KDRT.

Diberitakan sebelumnya, Ruslam   berhasil ditangkap oleh petugas kepolisian, setelah sempat buron lebih dari satu bulan.

Kapolresta Pekalongan, AKBP Ferry Sandy Sitepu dalam ekspos kasus di aula Mapolresta, Rabu (31/07) mengatakan bahwa   motif dari penyiraman air keras tersebut lantaran tersangka tidak mau digugat cerai oleh korban.

Tersangka mengaku selepas menyiram air keras, dia melarikan diri ke Jakarta selama satu pekan, kemudian ke Balikpapan, Kalimantan Timur selama satu pekan. Setelah dari Balikpapan, ia kembali ke Jakarta selama sepuluh hari. Hingga akhirnya Bolot ditangkap oleh Tim Resmob Satreskrim Polres Pekalongan Kota.

Bolot mengaku bahwa perbuatannya sudah ia rencanakan sejak lama. Ia mengatakan, mendapatkan air keras di toko batik sejak beberapa minggu sebelumnya, kemudian air keras tersebut ia simpan dan disembunyikan di semak-semak dekat rumah istrinya di Silirejo.

Aksi nekat penyiraman air keras tersebut dilakukan Bolot lantaran sangat kesal atas gugatan cerai yang dilakukan oleh istrinya. Beberapa kali sidang cerai di Pengadilan Agama, sang istri tetap meminta cerai kepada pria yang pernah dinjara dua tahun lantaran pencurian motor tersebut.

Pada Selasa (18/06) sekitar pukul 10.00 WIB, Bolot mendatangi rumah korban dan mengambil air keras yang telah disiapkannya. Saat kedua korban berada di teras rumah, Bolot langsung menyiramkan air keras ke arah istrinya dua kali dan kearah mertua perempuannya satu kali.

Akibat perbuatan Bolot, kedua korban mengalami luka bakar serius pada bagian wajah, tangan, dan beberapa bagian tubuh lainnya dan harus dirawat di rumah sakit.

Selain menangkap tersangka, pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa kaleng bekas isi air keras, antara lain beberapa pakaian korban bekas kena air keras, tas korban, dan beberapa barang bukti lainnya.

Perbuatan tersangka tersebut akan dijerat dengan Pasal 44 ayat (2) dan Pasal 44 ayat (1) UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.  (Eva Abdullah)

Tags : kdrtPekalongansilirejoTirto