Doro, Wartadesa. – Festival Pekuluran I degelar sejak Sabtu – Ahad (29-30/4) di dukuh Pekuluran Desa Sidoharjo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan. Agak susah mencari nama Pekuluran Pekalongan dengan perangkat mesin pencari internet, kita lebih diarahkan ke Pakuluran yang ada di Jawa Barat. Namun saat kita mencari ‘Curug Bendo’, langsung muncul Pekuluran.
Untuk memperkenalkan sekaligus peluncuran Pekuluran sebagai Desa Wisata dan peresmian Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cikulur, festival yang mengusung acara camping, nyanyi bareng, dan pesta rakyat ini Festival Pekuluran I dibuka kemarin.
Festival Pakuluran I merupakan inisiatif warga Pakuluran Desa Sidoharjo Kecamatan Doro dalam rangka menjadikan dukuh Pekuluran dan Desa Sidoharjo menjadi destinasi wisata di Kabupaten Pekalongan.
Obyek wisata Curug Bendo menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Pekalongan dan sekitarnya. Apalagi disinyalir bahwa Curug Bendo merupakan peninggalan zaman Mataram Hindu.
Meski letaknya tidak jauh dari pusat kota Doro, dukuh Pekuluran bisa dibilang masih perawan. Hutan rimba, curug, air yang mengalir dan ramahnya warga akan kita temui, namun kita tak akan menemui listrik maupun sinyal telepon disana.
Jadi bila kita ingin melepaskan kepenatan aktivitas sehari-hari, mampirlah ke Pekuluran. Serasa kembali ke jaman baheula.
Diperjalanan dari Terminal Doro menuju dukuh Pekuluran, kita akan disambut pohon pinus yang berjajar rapi bak tentara yang menyambut kedatangan sang jendral, hembusan angin yang sejuk seperti membisikkan selamat datang di Pekuluran, dipertengahan jalan mobil doplak (bak terbuka) mulai bergoyang mengajak menari.
“Selamat datang, maklumlah aspalnya belum sampai, hanya batu besar yang di tata rapi, ternyata grombolan monyetpun ikut menyambut di rating pohon yang rapuh.” Sambut Imam Nurhuda, Ketua Panitia Festival Pekuluran I.
Kurang lebih satu jam perjalanan kita akan sampai di Pakuluran, dan sinyal ponsel hilang entah dimana. Ada yang menarik perhatian, yaitu makanan yang terlihat kinyis-kinyis dan manis. Singkong rebus yang dilumuri gula aren. Ternyata bukan hanya singkong, pisangpun diperlakukan sama. Hangatnya wedang aren menambah suasana menjadi manis.
Hutan Prabuto yang disebut sebagai Amazon-nya Jawa Tengah dapat kita nikmati di Pekuluran. Hujan yang sering turun di wilayah tersebut, tak ada salahnya untuk membuat bivak atau menyiapkan tenda.
Tapi … jangan kaget kalau sewaktu-waktu kita akan dipeluk lintah disana. Beberapa wisatawan yang menjelajahi hutan Prabuto pasti akan mengalami digigit lintah.
Selain hutan Prabuto, pengunjung dapat melihat batu bersejarah peningalan Hindu berupa lingo yoni. Berbagai macam flora akan kita jumpai, udara segar penuh dengan oksigen memberi tenaga baru.
Sungai yang begitu jernih dan segar langsung akan kita dapati disana, dan jangan ragu untuk langsung meminum tanpa proses perebusan, karena segarnya berasa sampai ubun-ubun.
Rasa lelah capek akan terlupakan dengan keindahan alam Pekuluran. Dengan menyusuri sungai kita bisa menuju ke Curug Prabuto. Hebusan angin bercampur butiran air terjun Curug Prabuto, terasa adem sampai menembus jiwa. (WD, Pekuluran)









