close
FeminisiaHukum & Kriminal

Alami pelecehan di Pekalongan, ini yang akan diajarkan kepada putrinya kelak

pelecehan seksual
ilustrasi, Foto:magdalene.co

Pelecehan seksual bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Gerakan untuk mengajak masyarakat ikut memerangi kasus pelecehan seksual pun ramai dilakukan dengan beragam cara. Salah satu cara yang digunakan untuk memberikan awarness terhadap pelecehan seksual adalah menuliskannya untuk menjadi pembelajaran bersama.

Adalah Theodora Sarah Abigail yang biasa disapa Ebi, seorang bloger yang menceritakan pengalaman pelecehan seksual di Pekalongan dalam laman magdalene, Senin (14/01) bertajuk Lessons from My Sexual Harassment that I Want My Daughter to Understand (Pelajaran dari Pelecehan Seksual (yang) Saya (alami) yang harus Dipahami Putriku.

Ebi menceritakan pengalamannya, awal tahun ini, ia berjalan menyusuri sebuah jalan di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia mengenakan kaus merah muda (pink) dengan celana jins berpinggang tinggi. Baju kepunyaan ibunya yang ia kenakan saat itu. Tanpa membawa peralatan apapun, hanya ponsel yang ia bawa. Sekitar pukul 06.00 WIB ia keluar ke jalan raya menuju rumah bibi.

Suasana masih sepi, namun di jalanan arah rumah bibinya ada beberapa lelaki, tua dan muda. Mereka menyapa dengan tersenyum. Beberapa orang tidak menyapa, dan satu orang sedang duduk-duduk diatas jok motornya.

Saat berada pada jarak 100 meter dari rumah bibinya, Ebi melihat pria yang sedang memarkir motor beberapa meter di depan Ebi. Pria tersebut langsung membuka celananya dan berkata “Enak lho, Dek. Cobain aja.” Ebi melihat pria itu meraih kemaluannya dan memperlihatkannya sambil tangannya melambai-lambai ke arah Ebi.
Melihat hal tersebut, Ebi langsung lari ke rumah bibinya.

Sejak saat itu, Ebi berfikir bahwa kejadian tersebut karena kesalahannya. Dipikirannya selalu muncul pertanyan: Apakah ini salah saya? Ia yakin pemikirannya benar (menyalahkan diri sendiri), sembari memikirkan apa yang akan terjadi ketika ia membela diri, seperti memukul pria tersebut. Ia merasa pasti akan disalahkan karena membuat keributan.

Tanpa sadar, Ebi memperkuat gagasan bahwa lelaki lebih diprioritaskan ketimbang keselamatannya. Hingga ia berfikir bahwa perempuan musti diam dan tidak melawan ketika “batasan pribadinya” dilanggar, sementara pria dipuji karena kekuatannya.

Setelah berjam-jam Ebi membaca artikel online, ia berkesimpulan bahwa kejadian yang menimpanya bukan kesalahannya. Tidak ada yang meminta diperkosa atau dianiaya. Tidak ada satu orang pun yang ingin batas-batas mereka dilanggar. Dan bahkan jika dia melawan orang di jalan, dia tidak bersalah, karena dia mencoba melindungi diri.

Kesadaran tersebut membuat Ebi sadar bahwa mengetahui batas-batas dirinya untuk melindungi diri bukanlah sebuah kesalahan. Suatu saat nanti, Ebi akan menjadi seorang ibu dari gadis muda. Ia akan mengajari beberapa hal, pertama, sama seperti dirinya, yakni bertanggung jawab atas pilihannya. Pilihannya untuk bertindak ada pada dirinya. Pelajaran tersebut tidak dipahami oleh predator seksual.

Pelajaran kedua yang ingin dia sampaikan adalah bahwa akan ada beberapa orang yang akan menyakitinya. Meski sistem yang tidak cukup peduli dan memihak (kaum perempuan), kurangnya sistem dan orang yang peduli pada kaum perempuan bukanlah kesalahannya.

Ketiga, Ebi akan menunjukkan data statistik kepada putrinya bahwa hanya 35 persen kasus kekerasan seksual yang dilaporkan kepada pihak berwenang. Ia akan mengajarkan kepada putrinya untuk melindungi diri dengan alat pengaman, bila perlu (ia akan mengajarkan) berteriak atau meminta bantuan.

Keempat, saat putrinya bertambah usia, ketika ada orang yang berusaha membungkam dan menyalahkannya, ia akan “bersuara” lebih kencang.

Sebagai seorang perempuan, salah satu senjata yang paling berharga yang dimiliki adalah suaranya. Ia akan mengajari putrinya bagaimana cara menggunakan “suara”nya. (Dikutip dan diterjemahkan secara bebas dari Magdalene)

Sumber: https://magdalene.co/news-2033-lessons-from-my-sexual-harassment-that-i-want-my-daughter-to-understand.html

Terkait
GP Ansor Kab. Pekalongan serukan warga tak ikut demo

GP Ansor Kab. Pekalongan menghimbau agar warga NU Kab. Pekalongan tidak ikut-ikutan melakukan aksi demo ke Jakarta tanggal 4 Nopember Read more

Hindari Hectic Saat Dandan di Pagi Hari dengan Cara Ini

Wartadesa. - Saat-saat mempersiapkan diri memulai aktivitas di pagi hari banyak dibumbui kepanikan dan urgensi untuk tergesa-gesa. Pakaian entah terselip Read more

Operasi Zebra akan digelar serentak November ini

Pekalongan, Wartadesa. - Seluruh jajaran Polsek, Polres dan Polda di Indonesia akan menggelar operasi zebra, terhitung mulai tanggal 16 hingga Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : pelecehan seksual