Modus kejahatan, lanjut Ferry, bermula dari perkenalan pelaku skimming di Kediri, Supeno dengan LT yang masih DPO. LT menawarkan pekerjaan kepada SP untuk melakukan skimming dengan pembagian hasil 10 persen.
Selanjutnya Supeno merekrut SW dan SG yang saat ini sudah diamankan di Maporles Pekalongan dengan upah Rp. 200 ribu perhari.
Tugas SW adalah mencari ATM bermerk Hyosung di wilayah Pekalongan. Perlu diketahui bahwa sampai dengan tahun 2014, mesin-mesin Hyosung yang banyak terlihat di Indonesia adalah mesin ATM-nya. Hyosung merupakan ATM dari Korea Selatan. ATM-nya mempergunakan nama resmi Nautilus Hyosung.
Di Pekalongan mesin ATM merk Hyosung terdapat di SPBU Kertijayan, Kantor Taspen Kota Pekalongan, ATM depan Kampus IAIN Pekalongan Kusuma Bangsa, dan depan Mapolresta Pekalongan. Pelaku menjalankan aksinya sejak 6 Februari hingga 1 Maret 2018.
Tersangka dalam menjalankan aksinya, mencari struk ATM yang dibuang dibawah mesin ATM untuk dicari ID mesin ATM kemudian dipasang spy cam untuk merekam PIN korban.
Hasil rekaman spy cam tersebut kemudian dikopi ke alat penyimpan file (hardisk eksternal/microdisk) yang kemudian diserahkan ke Supeno, untuk diserahkan ke Mr. X di Jakarta melalui kurir.










