close
Hukum & KriminalNasional

Diduga mengalami gangguan jiwa, pemuda ini ditemukan gantung diri

ilustrasi gantung diri
ilustrasi: Sirmanem (26 thn), warga dusun Lendang Beriri, desa Sukadana, kecamatan Bayan – Lombok Utara, ditemukan warga tergantung di pohon mente kebun milik kakeknya sendiri, Minggu (02/10/16) sekitar pukul 11.30 Wita.

Lombok Utara, Warta Desa. – Warga dusun Lendang Beriri, desa Sukadana, kecamatan Bayan – Lombok Utara dibuat heboh oleh penemuan mayat pemuda dalam kondisi gantung diri. Sirmanem (26 thn), ditemukan warga tergantung di pohon mente kebun milik kakeknya sendiri, Minggu (02/10) sekitar pukul 11.30 Wita.

Dilansir dari suarakomunitas.net, korban yang diketahui mengalami gangguan kejiwaan, pergi meninggalkan rumah sejak 27 September 2016. Istri korban mengaku, dirinya tidak diberitahu akan kemana perginya korban. “Meskipun dia ada gangguan kejiwaan tidak biasanya dia bepergian tanpa memberi tahu saya, karena setiap bepergian dia pasti pamit dulu sama saya,” ungkapnya sambil mengangis.

Hingga saat ini pihak keluarga menolak otopsi jenazah korban  untuk memproses kejadian Ini lebih lanjut. Mereka mengikhlaskan almarhum dan menerima keadaan tersebut dengan menandatangani surat pernyataan tidak keberatan yang dibuat oleh pihak kepolisian.

Kapolsek Bayan, Iptu I Made Suarta yang ditemui dilokasi kejadian mengungkapkan, pihaknya setelah menerima laporan langsung melakukan olah tempat kerjadian perkara (TKP).

“Dari hasil laporan salah satu warga, saya dan beberapa anggota langsung mendatangi tempat kejadian dan memang benar ada kejadian gantung diri,” ungkapnya. Dari hasil penelusuran di tempat kejadian, polisi berhasil mengamankan alat bukti berupa simpul tali yang gigunakan untuk menggantung diri.

Untuk sementara ini dari hasil penyelidikan, kasus ini memang murni bunuh diri, dan tidak ada unsur pembunuhan dan lain sebagainya. Sebab kami menemukan simpul tali yang diduga dibuat sendiri oleh korban untuk menggantung dirinya, tutup Suarta.  (Hafidz/SK)

Tags : BayanBunuhdiriGantungdiriHukumKriminalLombok