Batang, Wartadesa. – Perekonomian dan wisata Kabupaten Batang terancam mengalami penurunan akibat wilayah tersebut dilewati jalan Tol Trans Jawa, ruas Batang-Semarang. Menurut Bupati Batang, Wihaji, akibat exit tol dan rest area tidak sesuai dengan kondisi yang diinginkan oleh Pemkab Batang, akan berdampak pada terancamnya perekononomian dan wisata di Batang.
Wihaji mengungkapkan bahwa selama ini masyarakat batang menggantungkan ekonominya di Jalan Pantura, dirinya berharap, seharusnya warga bisa diajak mengembangkan perekonomian dengan memanfaatkan jalan tol.
“Saya sebenarnya agak marah setelah pembebasan tanah jalan tol, kita kayak ditinggal. Pemerintah daerah tidak diajak musyawarah, yang tahu–tahu muncul rest area, exit toll,” kata Wihaji, Jumat (29/9) seperti dikutip dari Kompas.
Menurut Wihaji, Pemkab Batang sudah berkali-kali bertanya kepada pihak tol, terkait rest area dan exit toll, namun jawaban pihak tol bahwa rest area dan exit toll sudah tidak bisa diubah lagi.
“Ini dalam rangka kami menolong masyarakat Batang di sekitar jalan pantura yang kehilangan pendapatannya sekaligus memberdayakan masyarakat Batang yang dilewati jalan tol sepanjang 70 km. Di dunia ini yang tidak bisa diubah cuma ada dua yaitu Quran dan Hadist yang lain bisa diubah,” tambah Wihaji.
Melihat hal demikian, Wihaji akan melayangkan surat resmi untuk bertemu Menteri Pekerjaan Umum guna meminta tambahan dua exit toll di Kandeman dan di Plelen.
Wihaji ingin, rest area dan exit toll pindah ke Celong, Kecamatan Subah, agar dapat terkoneksi dengan wisata seperti Pantai Celong yang memiliki sungai, hutan dan laut.
Sementara itu, Pimpinan Proyek Jalan Tol Semarang-Batang, Beny Kristiadi mengungkapkan bahwa penambahan exit toll dan rest area masih dimungkinkan. (WD, kompas)









