close
Jalan-jalanSosial Budaya

Menengok empat tradisi kuliner Syawalan di Pekalongan

lopis raksasa

Pekalongan, Wartadesa. – Tradisi Syawalan (sepekan selepas Idulfitri) di Pekalongan diwujudkan dengan berbagi makanan dan minuman. Tradisi turun-temurun tersebut merupakan wujud syukur warga sekaligus momen berbagi kebahagiaan.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal (kalender hijriyah) merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Di Pekalongan ada empat tradisi berbagi kuliner khas yang dihelat dalam rangka memperingati Syawalan. Empat tradisi kuliner tersebut yakni lopis raksasa di Krapyak, Kota Pekalongan, gunungan Gebral di Pekajangan, Kedungwuni, gethuk lindri terpanjang di Ambokembang, Kedungwuni, serta gunungan Megono di Linggo Asri, Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Gunungan Gebral Pekajangan

Perhelatan Gunungan Gebral Pekajangan digelar di Pekajangan Gang 20, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalogan, Ahad (09/06). Gunungan Gebral (makanan terbuat dari singkong yang diserut) setinggi 1,5 meter menjadi pusat perhatian warga.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi dalam gelaran Gunungan Gebral Pekajangan, Ahad (09/06)

Ratusan warga yang datang untuk menikmati gunungan secara gratis telah memenuhi gang sejak pagi.  Muhammad Yuniarsi soleh, panitia Gunungan Gebrak mengungkapkan bahwa acara tersebut telah memasuki usia 21 tahun.

“Ini sudah berjalan 21 tahun,kita persiapkan untuk kelapa satu minggu sebelum lebaran sedangkan untuk singkong datang pada H+5,tinggi gunungan 1,5 meter,” ujar Soleh.

Menurut Soleh, perhelatan tersebut merupakan acara tahunan untuk mempererat silaturahmi warga Pekajangan sekaligus berhalal-bihalal.

Sementara, Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan yang hadir membuka acara menyarankan agar gelaran Gunungan Gebral tidak hanya berhenti pada tradisi Syawalan semata, melainkan dikembangkan (potensinya) membentuk jiwa kewirausahaan.

“Ini yang dinamakan mendidik jiwa entrepreneurship masyarakat,jadi tidak berhenti di gebyar syawalan saja tapi harus dipasarkan melalui cafe-cafe yang kita kemas secara modern dan dikelola oleh anak-anak muda,” ujar Asip.

Gethuk Lindri Terpanjang Ambokembang

Tradisi Gethuk Lindri terpanjang di Desa Ambokembang gang 9 dihelat Selasa (11/06). Tradisi tersebut digelar dalam rangka menghidupkan Syawalan warga Desa Ambokembang dengan menyajikan makanan tradisional berbahan baku singkong dengan taburan parutan kelapa dan kinco (saus gula merah) sepanjang 350 meter yang dibagikan kepada para pengunjung.

Warga Ambokembang sedang menyiapakan gethuk lindri sepanjang 350 meter dalam traedisi Syawalan desa setempat

Camat Kedungwuni, Bambang Dwi Yuswanto mengungkapkan bahwa Pemkab Pekalongan mendorong upaya pelestarian tradisi Syawalan tersebut. “Kita dorong untuk terus lestari dan meningkat setiap tahunnya, dan mudah-mudahan kedepan bisa masuk MURI (Museum Rekor Indonesia),” tuturnya, Selasa (11/06).

Menurut Bambang, tradisi Syawalan dengan berbagi gethuk lindri terpanjang merupakan momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi antar warga yang sempat terkoyak oleh adanya Pilkades, Pileg maupun Pilpres.

Zainal Mutaqin, panitia gethuk lindri terpanjang menyebut bahwa gethuk sepanjang 350 meter tersebut menghabiskan 1,5 ton singkong, 220 butir kelapa, dan 80 kilogram gula jawa. Pembuatan gethuk dikerjakan warga secara gotong-royong selama dua hari.

“Tradisi ini sudah kali ke delapan dilakukan warga dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antar sesama,” ujar Zainal.

Lopis Raksasa Krapyak

Bagi warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan gelaran lopis raksasa merupakan tradisi tahunan. Meski saat ini air rob merendam wilayah Krapyak, hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk menyiapkan dua lopis raksasa yang akan dihelat pada Rabu (12/06) besok.

Warga Sembawan, Krapyak Kidul menyiapkan lopis raksasa seberat 1,6 kwintal

Lopis raksasa seberat 1,6 kwintal tengah disiapkan oleh warga Krapyak Kidul Gang 8 atau gang Sembawan dan Krapyak Lor gang 1. Acara yang akan dihadiri oleh Walikota Pekalongan tersebut menjadi daya tarik wisatawan sejak puluhan tahun lalu.

Lopis saat ini telah diangkat dan diletakkan di dua tempat pemotongan, yakni Krapyak Kidul gang 8 dan Krapyak Lor gang 1. Lopis raksasa diangkat warga secara gotong-royong dari tempat memasak ke lokasi acara pada Ahad (09/06) kemarin.

Ketua panitia Syawalan Krapyak Lor Gang 1, Ahmad Timbul mengungkapkan lokasi untuk pemotongan lopis saat ini dikelilingi oleh air rob dan akan disedot dengan pompa agar kering saat hari H.

Sedangkan menurut panitia syawalan di Krapyak Kidul Gg 8, Akhir Budiyanto menjelaskan meskipun dapur pemasakan terendam rob, namun dilakukan pengurugan sehingga tidak ada kendala dalam pembuayan lopis raksasa.

Mengono Gunungan Linggo Asri

Megono Gunungan di Obyek Wista Linggo Asri, Kajen

Berbeda dengan ragam tradisi Syawalan lainnya yang diinisiasi oleh warga, tradisi Syawalan Megono Gunungan diinisiasi oleh Pemkab Pekalongan, dalam hal ini Dinporapar, dengan rangkaian kirab Gunungan Megono dan 19 gunungan kecamatan yang akan dibagikan gratis kepada warga.

Perhelatan yang akan digelar pada Rabu (12/06) besok tersebut akan dimeriahkan dengan pagelaran seni tradisional kuda lumping, musik rampak dan campursari, serta dangdut. (WD)

Tags : Pekalongansyawalan