close
Seni BudayaSosial Budaya

Mengenal Ritual Ageng Banyu Panguripan dalam Festival Wong Gunung

festival wong gunung

Pemalang, Wartadesa. – Gelaran Festival Wong Gunung, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang kembali dihelat dengan agenda utama Ritual Ageng Banyu Panguripan yang merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat air yang melimpah

Acara yang dimulai Sabtu (07/09) dimulai dengan acara Ebeg Jurangmangu, dilanjutkan dengan Pamundhutan Banyu Tuk Pitu, Ruwat Agung Banyu Panguripan, dan pada hari ini (Ahad 08/09) akan dihelat Kirab Agung Banyu Panguripan, Pinasrahan Agung, dan acara hiburan yang dimeriahkan oleh penyanyi papan atas, Ello dengan ditutup pesta kembang api pada malam harinya.

Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas seperti kesenian kuda lumping. Tarian Ebeg menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan diperagakan oleh pemain Ebeg.

Menurut Wikipedia, kesenian Ebeg ini sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

Selain itu Ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain.

Pamundutan Banyu Tuk Pitu

Pamundutan banyu tuk pitu Merupakan prosesi pengambilan banyu panguripan di tujuh sumber mata air yang ada di Gunung Slamet. Prosesi ini dilakukan oleh para pendekar dari Desa Jurangmangu Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang dan dipimpin langsung oleh Juru Kunci Gunung Slamet. Acara ini merupakan pembuka Ritual Agung Banyu Panguripan dalam Festival Wong Gunung 2019.

Ruwat Agung Banyu Panguripan

Ruwat Agung Banyu Panguripan merupakan prosesi Banyu Panguripan yang telah diambil akan disatukan oleh penggowo Desa Jurangmangu. Prosesi ini diiringi ayat-ayat suci Al-Qur’an dan dibagikan ke 12 lodong oleh penggowo 12 desa. Selanjutnya, disemayamkan dengan dikelilingi 99 obor.

Kirab Agung Banyu Panguripan

Setelah disemayamkan, Banyu Panguripan dibawa oleh 12 Putri Banyu Panguripan dan diarak 12 Kepala Desa serta ribuan warga Kecamatan Pulosari. Seluruh pengarak menggunakan pakaian tradisional Jawa dan membawa hasil bumi yang dirangkai menjadi gunungan.

Pinasrahan Banyu Panguripan

Sebagai puncak acara dari Ritual Agung Banyu Panguripan, Pinasrahan dilakukan oleh 12 putri yang membawa Banyu Panguripan dan diserahkan kepada 12 Kepala Desa. Tujuan untuk segera dibawa kembali ke desa masing-masing.

Manunggaling Banyu Panguripan

Setelah di Pinasrahkan, Banyu Panguripan dituangkan ke mata yang ada di desa sebagai simbol keprihatinan sekaligus rasa syukur terhadap keadaan air yang ada di Kecamatan Pulosari. Prosesi ini menjadi penutup Ritual Agung Banyu Panguripan. (Eky Diantara/Eva Abdullah dengan tambahan berbagai sumber)

Tags : festival wong gunungritual ageng banyu panguripan