close
muhammadiyah

Kedungwuni, Wartadesa. – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan memberdayakan segala potensi yang dimilikinya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan Covid-19. PDM akan menggali semua potensi Muhammadiyah Pekalongan untuk bersama-sama melakukan kegiatan penanggulangan Covid-19, dengan melibatkan Lazismu dalam penggalangan dana, UMPP dan RSI, struktur pimpinan dari cabang hingga ranting, relawan untuk edukasi dan teknis desinfeksi lingkungan. Demikian disampaikan oleh  Mulyono, Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, dalam Konferensi Pers Muhammadiyah, pada hari Sabtu, 28 Maret 2020, di Kampus Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP).

Mulyono juga menghimbau kepada warga Muhammadiyah dan masyarakat umum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, karena sejatinya wabah adalah sebagian azab dan sekaligus rahmat bagi orang beriman. Dan mengingatkan betapa pentingnya untuk tetap berada di rumah ketika berada di daerah wabah, karena balasan pahalanya adalah pahala mati syahid.

Sementara itu para mahasiswa UMPP (Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan) dilibatkan untuk menjadi relawan  yang mengedukasi masyarakat sekitarnya. Sedangkan Program Studi Farmasi, dosen dan mahasiswanya diberdayakan dalam upaya produksi Hand Sanitizer dan Hand Washer, yang saat ini keberadaannya langka di pasaran, untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian masyarakat.

“Terkait surat edaran dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pelibatan Mahasiswa dalam Penanggulangan Covid-19, khususnya mahasiswa prodi kesehatan, untuk menjadi tenaga relawan di rumah sakit dan dinas kesehatan, masalah kompensasi berapa SKS atau menjadi pengganti tugas akhir, masih dibicarakan di Universitas,” ungkap Nur Izzah, Rektor UMPP.

Dalam kesempatan itu, UMPP  memberikan hibah 17 Spryer kepada PDM Kabupaten Pekalongan, yang selanjutnya akan dibagikan kepada 17 Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan, untuk mengoptimalkan program desinfeksi lingkungan.

Permasalahan APD (Alat Pelindung Diri) bagi para tenaga medis disampaikan oleh dr Widjdan Kadir, Direktur RSI Pekajangan, “Problem utama yang dihadapi oleh rumah sakit dan tenaga kesehatan saat ini adalah minimnya APD. Meskipun punya uang, tapi APD minim, jadi tidak bisa menyediakan untuk persiapan. Ibaratnya kami akan perang tapi tidak dilengkapi senjata,” ungkapnya.

Widjdan mengungkapkan bahwa RSI Pekajangan tetap menyiapkan hal terburuk yang akan terjadi, yakni ledakan pasien Covid-19 dengan menyiapkan tenaga kesehatan dan meyediakan APD dan sarana prasarana lainnya. “Tenaga Kesehatan jangan dibuat stress, tapi harus dimotivasi, karena mereka adalah mujahid-mujahid yang berjuang melawan COVID-19,” pungkasnya. (Eva Abdullah)

Tags : covid-19Muhammadiyah