close
Berita Desa

PLOT TWIST: Rombongan 40 Orang di Jembatan Kedungpatangewu Ternyata Peserta Pelatihan, Bukan Tim Survei Pembangunan

berita web_20260919_085448_0000

PEKALONGAN, WARTADESA — Harapan warga Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, untuk segera memiliki jembatan gantung permanen mendadak harus kembali disimpan rapat-rapat. Kunjungan rombongan sekitar 40 orang dari Provinsi Jawa Tengah yang sempat dikira sebagai tim survei pembangunan fisik jembatan, ternyata hanyalah kegiatan praktikum lapangan peserta pelatihan kebencanaan.

​Kepastian ini diperoleh setelah Sekretaris Desa Kedungpatangewu, Radies Kusuma, melakukan konfirmasi ulang dengan pihak Kecamatan Kedungwuni pada Jumat (18/9/2026) malam.

​Plot Twist: Hanya Praktikum Pelatihan Jitupasna

​Sebelumnya, kehadiran puluhan orang berseragam dinas di lokasi jembatan bambu darurat Kedungpatangewu pada awal September lalu sempat memicu spekulasi hangat. Warga dan Pemdes menduga rombongan tersebut merupakan tim gabungan BKSDA dan PUPR Provinsi Jawa Tengah yang tengah mengukur lokasi untuk rencana konstruksi jembatan baru pengganti jembatan permanen yang roboh.

​Namun, prasangka tersebut meleset total. Radies membeberkan pesan pemberitahuan resmi dari pihak penyelenggara yang diterimanya usai berkoordinasi dengan kantor kecamatan:

“Assalamu’alaikum Pak Boss, Pemberitahuan n ijin…… Hari ini kami kedatangan peserta pelatihan jitupasna dari prov Jateng dan rencana bakda duhur kita tinjauan lapangan ke jembatan gantung kedung 4000 (peserta 40 orang). Barangkali kaget ntar kok ada rame2 kegiatan apa? Minta tolong ijinke ke kelurahan setempat. Maturnuwun.”

 

​Saat dikonfirmasi ulang apakah peninjauan tersebut berkaitan dengan usulan proyek fisik pembangunan jembatan, jawaban singkat dari pihak kecamatan semakin mempertegas situasi:

“Kayake bukan, mas.”

 

​Rombongan 40 orang tersebut rupanya adalah peserta pelatihan Jitupasna (Pengkajian Kebutuhan Pascabencana)—sebuah program pelatihan analisis dampak dan kerusakan bencana—yang menjadikan bekas reruntuhan Jembatan Kedungpatangewu sebagai objek studi lapangan, bukan untuk melakukan survei eksekusi pembangunan.

​Rangkuman Alur: Dari Musibah, Bisnis Bambu Berbayar, Hingga Janji Politik

​Kejadian ini melengkapi drama panjang krisis aksesibilitas yang dialami warga Kedungpatangewu dan Wonopringgo selama hampir dua tahun terakhir:

  1. Awal Mula & Bisnis Jembatan Bambu Berbayar: Jembatan gantung permanen yang menghubungkan Desa Kedungpatangewu (Kedungwuni) dan Papagan (Wonopringgo) sebelumnya ambrol diterjang banjir bandang pada Januari 2025. Tingginya estimasi biaya perbaikan yang mencapai ratusan juta rupiah membuat pemerintah tak kunjung memperbaiki jembatan tersebut. ​Celah akses ini kemudian diambil alih oleh Pak Wahyu, seorang pengusaha asal Brebes, yang membangun jembatan darurat dari susunan bambu dan drum bekas dengan modal awal sekitar Rp30 juta hingga Rp50 juta. Untuk menutup biaya sewa lahan ke dua desa masing-masing Rp3 juta per bulan serta gaji pekerja, warga dan pengguna jalan yang melintas dikenakan tarif seberang Rp2.000 per motor. Pengelola dan warga pun harus terus bersiap membongkar bambu setiap kali air sungai meluap di musim hujan.
  2. Aroma Janji Politik yang Tak Kunjung Menyeberang: Pengelola jembatan dan warga sempat mengeluhkan bahwa nasib Jembatan Kedungpatangewu kerap hanya dijadikan “komoditas” janji manis menjelang Pilkada atau ajang suksesi kepemimpinan daerah. Setiap menjelang pemilu, wacana perbaikan selalu dihembuskan, tetapi menguap begitu kontestasi usai.
  3. Harapan Semu di Bulan September: Ketika rombongan 40 orang dari provinsi datang meninjau lokasi pada awal September 2026, optimisme warga dan Pemerintah Desa sempat membuncah. Pemdes Kedungpatangewu berharap proyek tersebut setidaknya bisa masuk dalam APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2027 mendatang. Namun, fakta terbaru membuktikan bahwa peninjauan tersebut murni agenda pelatihan akademis kebencanaan, bukan tindak lanjut anggaran pembangunan.

​Murni Angka Studi, Belum Ada Kepastian Pembangunan

​Dengan munculnya kejelasan mengenai agenda pelatihan Jitupasna ini, kepastian kapan jembatan permanen Kedungpatangewu akan dibangun kembali oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih berada di titik nol.

​Warga dan Pemerintah Desa Kedungpatangewu kini hanya bisa mengurut dada. Jembatan yang menjadi nadi vital jalur perekonomian, pasar, dan akses anak-anak pergi sekolah itu hingga kini harus tetap bertumpu pada derit titian bambu berbayar Rp2.000 sekali jalan. (Redaksi Warta Desa)

Terkait
Zaenul Mufti dan Dwi Efriyanti Raih Poin Tertinggi Tes Perangkat Desa Pekiringan Alit dan Tambakroto
Zaenul Mufti dan Dwi Efriyanti Raih Poin Tertinggi Tes Perangkat Desa Pekiringan Alit dan Tambakroto

Kejen, Wartadesa. - Zaenul Mufti meraih nilai tertinggi penjaringan calon Kadus Kambangan Desa Pekiringan Alit Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Selain Read more

50 Nasabah UPK Artha Mandiri Raih Penghargaan

Kedungwuni, Wartadesa. - Puluhan nasabah Unit Pengelola Keuangan (UPK) Artha Mandiri, Badan Pemberdayaan Masyarakat (BKM) Tunas Karya Mandiri, Desa Tangkil Read more

Kapolsek Petungkriyono Ingatkan Penyalahgunaan Dana Desa Akan Berhadapan Hukum

Petungkriyono, Wartadesa. - Kapolsek Petungkriyono, Iptu Felix Prasetyawan mengingatkan para kepala desa untuk tidak menyalahgunakan anggaran Dana Desa (ADD) karena Read more

KNTI Ajak Pemuda Gali Potensi Daerah Pesisir

Pekalongan-Warta Desa- Dewan Pimpinan Daerah Kerukunan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Kabupaten Pekalongan mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : jembatan darurat kedungpatangewu