Pekalongan Kota, Wartadesa. – Gelaran lomba Kali Loji Marathon Run mendapat sorotan dan protes dari peserta. Peserta ajang tersebut kecewa karena ketidak jelasan track lari, kaos yang belum dibagikan dan berbagai masalah lain. Meski panitia mengembalikan uang pendaftaran peserta pada Ahad (11/11) di depan Museum Batik Pekalongan yang kemudian dipindah ke GOR Jetayu. Namun permasalahan ini berbuntuk ke pihak kepolisian.
Hadiah untuk pemenang lomba yang tidak langsung diberikan membuat panitia Kali Loji Marathon Run diperiksa Polisi. “Panitia sudah diperiksa di Polres dan sudah membuat perjanjian untuk melaksanakan kewajibanya yakni pembayaran hadiah untuk juara satu sampai enam,” ujar Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Ferry Sitepu kemarin.
Panitia menjanjikan akan mentransfer hadiah lomba, ke rekening pemenang maksimal empat hari selepas hari Ahad kemarin. Meski demikian, protes yang dilakukan oleh peserta lomba tidak menimbulkan kericuhan. “Tidak ada kericuhan saat lari 10K kali Loji. Duduk masalahnya adalah kesiapan panitia lari 10 K yang minim dan terkesan dipaksakan. Sehingga banyak pelari yang salah jalan, tidak disiapkan bantuan medis, baik ambulans maupun P3K,” jelasnya.
Evien, salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ketidak-profesional-an panitia dirasakannya jauh hari. Ketidakjelasan track (jalur) lari, kaos yang belum jadi pada saat lomba digelar dan lainnya.
Menurut Evien, kekisruhan tersebut merupakan ketidakmampuan panitia ataupun event organizer (EO) menggelar kegiatan. “Jika ada EO yang ngegarap event mengatasnamakan Pekalongan. Mohon jaga nama baiknya dengan cara profesional dalam penyelenggaraan. Semoga ini jadi polemik yang terakhir,” lanjutnya.
Hamdan Farid, peserta lainnya membenarkan apa yang disampaikan oleh Evien, “Sejak awal ketika kaos yang dijanjikan oleh pantia tak kunjung diterima padahal acara sudah dimulai. Kemudian rute dan papan petunjuk lomba yang tidak terpasang dan tidak adanya tim medis yang berjaga.” Ujarnya.
Bahkan waktu pelaksanan lomba pun molor, “Ya tadi habis ikut lari, peserta pada kecewa. Jam yang molor hingga peserta yang juara dari Jepang tidak tercatat oleh panitia. Peserta semua dibohongi panitia, jersey, medali, hadiah dan lain-lain hingga siang ini belum diberikan. Padahal lari sudah dijalankan,” lanjut Hamdan.
Hadiah yang awalnya dijanjikan, Juara satu tingkat putri Rp 15 juta, kini menjadi Rp 10 juta. Sedangkan juara dua dijanjikan awal Rp 10 juta diberikan Rp 8 juta.
Sementara itu, EO yang diwakili Heri Hermawan menjelaskan awalnya dia sempat berencana membatalkan lomba lari tersebut karena keterbatasan dana yang ada. Namun oleh pihak Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) memintanya untuk meneruskan. “Sebelumnya memang kita akan batalkan. Dalam keuangannya seakan kita dipaksakan,” jelasnya.
Heri menambahkan total peserta 500 orang dari target sebelumnya enam ribu orang. Tiap peserta membayar biaya Rp 325 ribu untuk lomba 20 K, untuk 10 K ditarik Rp 275 ribu, untuk 5 K sebesar Rp 175 Ribu dan pelajar Rp 75 ribu.
Titik Nuraini dari Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) mengaku sudah menyetorkan uang pelaksanaannya kepada Heri. “Untuk lari ini kita tidak pernah dilibatkan. Uang pelaksanaan sudah kami setor dari Rp 10 juta, Rp 15 juta dan kita genapi Rp 60juta,” katanya. (WD, dan dari berbagai sumber)








