close
sampah kaliloji

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Kali Loji penuh sampah rumah tangga dan limbah industri. Berkali-kali berbagai komunitas peduli membersihkan kali, tak butuh waktu lama, kali dipenuhi dengan sampah yang menggunung. Kenapa ini terjadi?

Tahun 2018 lalu, Pemerintah Kota Pekalongan berjanji akan serius menangani Kali Loji, saat itu Walikota, Saelany Mahfudz mengungkapkan keseriusannya menangani permasalahan Kali Loji. Ia berharap seluruh warga, baik komunitas maupun lainnya mendukung pemkot memperbaiki kondisi Kali Loji yang semakin keruh, kotor dan penuh sampah.

Beragam iven (event) digelar untuk mengenalkan Kali Loji sebagai wisata air di Kota Pekalongan dengan tujuan mengubah perilaku warga, menjaga kebersihan sungai. Namun lemahnya penegakan hukum dan kesadaran warga untuk tidak mengotori kali dengan limbah dan sampah, membuat Kali Loji tak berdaya.

Imam Nurhuda, penggiat Komunitas Sapu Lidi mengungkapkan bahwa masalah utama sampah di Kali Loji adalah antara penegakan hukum dan kesadaran warga terhadap lingkungan Kali Loji. Menurut pria yang biasa disapa Kang Hoed,  ketika penegakan hukum terhadap pembuang sampah dan limbah tidak dilaksanakan maka para pengrajin batik (tukang babar–Jawa.) akan selalu membuang limbah (cair) batiknya ke sungai.

“Yang pada akhirnya berdampak kepada warga masyarakat sekitar bantaran (kali), melihat sungai yang berwarna atau hitam pekat menjadi terangsang untuk ikut membuang sampah (rumah tangga/limbah padat) ke sungai. Maka persoalan sungai yang mendominasi Kali Loji yaitu limbah padat dan limbah cair tidak akan pernah bisa diatasi.” Ujarnya, Senin (05/07/2019).

Sebagai penggiat Komunitas Sapulidi, Kang Hoed menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji yang tak kunjung selesai. “Komunitas Sapulidi sebagai bagian dari komunitas yang konsen terhadap konservasi lingkungan dan sungai sangat menyesalkan dan menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji/sungai Kupang, sampai detik ini pun belum bisa diatasi.” Tuturnya.

Penanganan sampah di Kali Loji, lanjut Huda, bukan tidak dilakukan secara rutin, menurutnya pekerjaan Tim Patroli Sungai Loji (TPSL) dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang setiap hari turun untuk melakukan pembersihan, pengangkatan dan pengakutan sampah di Kali Loji pun seperti sia-sia. Karena setiap waktu sampah akan terus datang memenuhi aliran sungai–akibat lemahnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah dan limbah di sungai.

Kurangnya kesadaran warga maupun industri yang membuang sampah dan limbah, menambah permasalahan yang ingin ditangani. Menurut Huda, berapapun personel yang diterjunkan untuk menangani sampah dan limbah, tidak mampu mengembalikan Kali Loji seperti dahulu, yang bersih.

“Bahkan ketika dilakukan tambahan personil dari teman-teman relawan untuk membantu pekerjaan TPSL, pun tidak banyak membantu, karena hanya mengobati luka sementara waktu, tapi nanti pada hari berikutnya luka atau penyakit itu akan datang lagi dan lagi.” Ujar Huda.

Untuk mengobati penyakit Kali Loji yang masuk “stadium empat”, menurut Imam Nurhuda, dibutuhkan keseriusan dan totalitas dari Pemerintah Kota Pekalongan untuk menangani sampah Kali Loji. “Pemkot seharusnya tidak selalu membebankan (penanganan sampah dan limbah di Kali Loji) kepada salah satu dinas saja. Bila perlu walikota turut turun tangan memimpin langsung  Tim Penanganan Sampah Kali Loji,” ujarnya.

Penanganan sampah dan limbah yang ditawarkan Komunitas Sapulidi, menurut Huda, bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penanganan teknis dan pendekatan kebijakan. Selain itu diperlukan pula sebuah riset/kajian, pemetaan dan pendekataan kepada masyarakat. Juga perlu berperannya institusi keagamaan untuk ikut memberikan himbauan moral melalui ulama, kyai ataupun ustad pada moment khutbah Jum’at, pengajian, dan lain lain.

“Penanganan teknis adalah kegiatan teknis yang rutin dilakukan oleh TPSL untuk mengatasi sampah sungai langsung dilapangan. Dan bisa dibantu relawan bila kuwalahan atau kekurangan tenaga.” Ujar Huda.

Huda menambahkan,  pendekatan kebijakan adalah upaya penanganan sampah sungai dengan menggunakan instrumen hukum yang sudah ada seperti Perda, Perwal (Peraturan Walikota) dan lain lain.

Riset atau kajian, pemetaan dan pendekatan kepada warga adalah upaya yang perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab atau akar permasalahan yang menyebabkan warga membuang sampah ke sungai. Juga pemetaan wilayah dimana saja sumber atau titik-titik sampah itu muncul atau disebabkan. Lanjut Huda.

“Pendekatan menggunakan metode RRA, PRA atau PAR ( RRA–Rapid Rural Appraisal, PRA–Participation Rural Apraisal adalah metode penelitian dengan pendekatan pemberdayaan warga-red.) memungkinkan untuk bisa memberikan gambaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif sampah sungai kota pekalongan.” Ujar Imam Nurhuda.

Huda mengatakan bahwa rencana kajian dan pemetaan serta pendekatan ke warga ini (pendekatan diatas-red.) akan dilakukan antara Komunitas Sapulidi dan Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya penataan lingkungan bantaran sungai Kali Loji di wilayah kelurahan Bendankergon dan Kauman. Semoga upaya yang akan dilakukan ini bisa membuahkan hasil dan bisa direplikasi atau dicontoh kelurahan-kelurahan lain dalam penataan lingkungan dan sampah di wilayah masing-masing.

Tidak kalah penting, lanjut Huda, juga perlunya dukungan dari kalangan tokoh agama islam seperti ulama, kyai dan ustad atau tokoh-tokoh dari agama lain, dalam rangka memberikan himbauan dan nasehat kepada masyarakat luas tentang pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan.

Komunitas Sapulidi berharap agar Kali Loji atau sungai Kupang kembali bersih, sehat dan bermanfaat bagi ekosistem sungai maupun warga Pekalongan khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Pungkas Huda. (Bono)

Tags : kali lojikomunitas sapulidilimbahPekalongansampah

Leave a Response