close
BencanaLayanan PublikLingkungan

Masuk musim penghujan, Pekalongan darurat banjir dan longsor

banjir rob
Ilustrasi. Memasuki musim penghujang, diprekdisikan Kota Pekalongan darurat banjir, sedang Kabupaten Pekalongan darurat tanah longsor. Foto: Youtube

Pekalongan, Wartadesa. – Memasuki musim penghujang, diprekdisikan Kota Pekalongan darurat banjir, sedang Kabupaten Pekalongan darurat tanah longsor. Seperti diketahui banjir dan tanah longsor menjadi teman akrab Pekalongan sejak beberapa tahun lalu.

Seperti terjadi kemarin, hujan yang mengguyur Kota Pekalongan menyebabkan permukiman warga dan pasar darurat di Taman Sorogenen dikepung air.  Tahun sebelumnya, banjir juga menggenangi  Kelurahan Panjang Wetan, Kandang Panjang, Panjang Baru, Bandengan, Krapyak, Padukuhan Kraton yang terletak di Kecamatan Pekalongan Utara serta Kelurahan Pasirkratonkramat dan Tirto di Kecamatan Pekalongan Barat.

Kali ini, banjir dan rob menggenangi wilayah Panjang Wetan, Pekalongan Utara. Menurut Anissa (34), warga Panjang Wetan, wilayahnya merupakan langganan banjir rob jika musim penghujan.  “Kalau tempat saya jadi langganan, hujan tidak ada semalam saja jalan pemukiman di Panjang Wetan sudah digenangi air,”  ujarnya kemarin.

Anissa mengaku ingin pindah namun bertahun-tahun rumah yang ditawarkan untuk dijual tidak laku.  “Ya, kami hanya menunggu, semoga proyek pembangunan tanggul raksasa segera bisa selesai, hingga warga sini tidak terdampak banjir rob lagi,” pungkasnya.

Kota Santri Tak Luput Dari Darurat Banjir dan Longsor

Darurat banjir juga terjadi di Kabupaten Pekalongan, sedikitnya 10 wilayah terdeteksi sebagai daerah rawan banjir. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Bambang Sujatmiko, mengatakan intensitas curah hujan pada November 2018 di wilayah atas dan bawah kini sudah mulai meningkat meski belum merata. “Berdasarkan hasil kajian Badan Geologi Bandung, kita perlu mewaspadai kejadian tanah gerak maupun longsor, khususnya di wilayah atas atau pegunungan,” ujarnya.

Menurut Bambang Sujatmiko, ada tujuh kecamatan yang diprediksikan darurat longsor, yakni Kandangserang (potensi tinggi), Kecamatan Paninggaran (tinggi), Petungkriyono (tinggi), Lebakbarang (tinggi), Kajen (sedang), Doro (sedang), dan Kesesi (sedang). Kemudian 10 titik rawan banjir meliputi Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, Siwalan, Sragi, Kesesi, Buaran, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Tirto, Wonokerto, Siwalan, serta Wiradesa.

“Untuk wilayah Kecamatan Kedungwuni ancaman terbesar adalah banjir bandang pada aliran Sungai Sengkarang. Demikian juga di Kecamatan Wonopringgo yang terdapat pertemuan dua sungai sehingga berpotensi terjadi banjir,” jelas Bambang.

BPBD telah membentuk desa tangguh bencana dengan melibatkan para relawan. Empat desa tersebut, yaitu Kutorembet Kecamatan Lebakbarang yang berkaitan dengan potensi longsor, Desa Kesesi Kecamatan Kesesi, Desa Galangpengampon Kecamatan onopringgo, dan Desa Tengengwetan Kecamatan Siwalan terkait potensi banjir.

“Desa-desa yang sudah dibentuk ini akan didorong dapat menangani secara mandiri apabila terjadi bencana. Beberapa hal yang kita berikan antara lain berupa pelatihan relawan, kajian risiko bencana, dan sosialisasi tanggap bencana,” pungkas Bambang. (WD)

Tags : banjirlongsorRob