close
Jalan-jalan

Susur jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang-Kalibening

1

Lebakbarang, Wartadesa. – Sejak lama jalur Lebakbarang-Kalibening melalui Dukuh Totogan, Desa Kutorembet dijadikan jalur perdagangan para sesepuh warga Lebakbarang untuk melakukan niaga di pasar Kalibening, Kabupaten Pekalongan. Jalur tersebut sudah lama hilang, lantaran kondisi medan yang sangat sulit.

Lima orang Trabasser, Feri, Sugiono keduanya warga Kutorembet, Slamet Haryadi, warga Sidomulyo, Akbar Fauzan dan Bambang Sukma Hendra, keduanya warga Tembelanggunung melakukan penyusuran jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang. Dimulai dari Dukuh Totogan, Desa Kutorembet Selatan. Jum’at (11/10) Pukul 13.00 WIB.

Penyusuran jalur lawas tersebut dilakukan lantaran kelima Trabasser sangat penasaran untuk membuka kembali jalur tersebut. Menggunakan tiga sepeda motor, mereka berboncengan.  Perjalanan yang dilakukan kali ini, harus masuk kedalam hutan blantara melalui jalan yang lumayan ekstrim yang sebagian  menanjak dengan tanah licin dan bebatuan.

Perjalanan dimulai dari Selatan Desa Kutorembet

Tim yang baru saja masuk ke dalam hutan, langsung  dihadapkan dengan kesulitan, yang memaksa mereka untuk mendorong satu-persatu sepeda motor yang dinaiki, teruuuuus menuju keatas sampai menemukan jalan yang mudah dilewati. Tak cukup satu dua kali, lagi-lagi mereka harus mendorong motor saat harus berhadapan dengan jalanan yang licin dan menanjak.

Baca: Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pegamatan burung

Setelah itu, perjalananpun dilanjutkan lebih dalam lagi masuk menuju hutan dengan suasana yang agak berkabut. Di sepanjang jalan, sara kicauan burung, ranting yang saling beradu saat diterpa angin, serta suara tupai dan hewan aneh lainnya, menambah sensasi tersendiri yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.

Setengah jam lebih berlalu, daaaan, yak!, mereka berhenti di jalan yang agak rata–posisi jalan tersebut berada hampir dipuncak gunung–. Sembari melihat beberapa pemukiman yang berada agak jauh dibawah posisi mereka, pemukiman tersebut masih di daerah Lebakbarang, yaitu Desa Tembelanggunung yakni Dukuh Jrakah, Pomahan, Kedawung, dan Petungkon.

Pemandangan desa-desa di Lebakbarang dari puncak ketinggian

Selepas istirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan kembali dengan rasa penasaran. Alhamdulillah, jalanya rata dan sedikit menurun, hinga membuat otot santuy (baca: santai) tanpa harus mendorong-dorong motor.

Namun, baru beberapa menit, ternyata medan jalan sudah mentok.  Ya, mentok alias pol, dan jalan yang sekarang ada di hadapan mereka, hanyalah jalan setapak yang dipenuhi rumput liar yang lumayan tinggi, yang membiat mereka sempat hampir putus asa.

Jalan setapak jalur Lebakbarang-Kalibening

Dengan berjalan kaki, mereka menulusuri jalan setapak, sembari mengamati. Dan akhirnya, mereka kembali dan memutuskan bahwa jalan tersebut masih bisa dilewati motor. Merekapun melanjutkanya dengan menelusuri jalan setapak itu menggunakan motor. Tiba-tiba, mereka merasaakan kaki dan tangan terasa perih tergesrek duri-duri dan terserempet akar-akar rumput liar.

Setelah bersusah payah agak lama, akhirnya mereka menjumpai tanah lapang (sekitar 10 m²) dengan sebuah tugu, di perempatan jalan setapak, disana ada dua orang sedang mengumpulkan gelagah (bahan untuk membuat sapu lantai) yang sedang dijemur.

Tugu perbatasan

Merekapun berhenti dan kemudian bertanya kepada mereka berdua. Dan ternyata, perempatan jalan tersebut adalah jalan menuju Kutorembet, Gunung Surat, Bulu pitu dan Sijaha. Dengan perasaan senang mereka melanjutkan perjalanan kembali melewati jalan setapak tapi dengan kondisi yang lebih gampang.

Diperkirakan jalan tersebut dulunya sudah di lebarkan, hanya saja saat ini sudah tertutup rumput lagi. Namun, selang beberapa menit, hujan gerimis turun dan kabut mulai menutupi jalan. Jalan mulai kembali licin, penglihatan kurang jelas karena kabut, yang kemudian membuat mereka agak khawatir.

Hujan semakin lebat dan pendokumentasian perjalanan yang mereka lakukan dengan perekam video dihentikan. Cuaca semakin dingin, baju dan tubuh basah kuyup. Namun setelah itu, hujan sedikit reda walaupun kabut masih menghalangi jalan.

Jalur Trabas Lebakbarang-Kalibening

Dan akhirnya pukul 14.46 WIB, tim sampai di pertigaan, dan kemudian berteduh di sebuah gubuk, disitu ada sekelompok orang yang sedang melakukan pengaspalan jalan Petungkon. Di pertigaan tersebut, arah kiri adalah jalan menuju Petungkon, dan arah kananya menuju Gunung surat. (±200-300 meter lagi)

Trabas pun dihentikan, namun mereka akan melakukan perjalanan lagi karena mereka yakin bahwa jalur tersebut dapat digunakan warga Lebakbarang menuju Kalibening dengan lebih cepat, khususnya jika melalui jalur Kutorembet.

Bila jalur tersebut difungsikan kembali, jalur perdagangan jaman dulu tersebut akan dapat meningkatkan ekonomi warga Lebakbarang untuk melakukan perniagaan ke Kalibening dengan rute yag sangat dekat. (Sumber: laman media sosial Kutorembet)

Editor: Buono

Kredit Foto: Desa Kutorembet

Tags : jalur perdagangan kunolebakbarangPekalongantrabas