close
goro suro

Karanganyar, Wartadesa. – Pelibatan masyarakat adat dalam peringatan satu Suro dan memperingati Hari Jadi ke-397 Pemkab Pekalongan, digelar dengan acara Goro Suro di Desa Legok Kalong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Ahad (01/09) lalu.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi yang hadir dalam gelaran tersebut mengungkapkan bahwa Goro Suro merupakan upaya nguri-uri (melestarikan) budaya. “Ini bagian dari upaya nguri-nguri budaya Jawa, meskipun ada beberapa kekurangan,”  ujarnya.

Asip mengucapkan terima kasih kepada para penganut Kepribaden dalam mempertahankan budaya Jawa agar tetap eksis, dengan melibatkan mereka dalam acara doa bersama antar umat beragama pada Peringatan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan.

Menurut Asip, falsafah Jawa jika dilaksanakan mampu menjadikan manusia seutuhnya dan dengan nguri-uri budaya Jawa, akan mengembalikan entitas orang Jawa.

“Dalam falsafah Jawa dikenal dengan karakter adigang, adigung, adiguno. Padahal jika kita mampu mengalahkan sifat adigang, adigung, adiguno akan timbul sifat lemah lembut, sopan, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake,”  kata Asip.

Untuk nguri-uri budaya, Pemkab Pekalongan akan menggunakan bahasa Jawa dala upacara maupun kegiatan pemerintahan tiap hari Kamis, lanjut Asip.

Asip berharap kegiatan Goro Suro terus dilakukan turun-temurun sebagai ikhtiar dalam menjaga tradisi budaya Jawa. “Ini sebagai pengingat bahwa orang tua kita dahulu memiliki penanggalan Jawa atau pranatan yang pantas disandingkan dengan penanggalan lainnya,” lanjutnya.

Dikutip dari Tirto id, penghayat Kapribaden tak memiliki kitab suci. Mereka hanya mengacu pada buku tuntunan mencapai kesempurnaan sejati yang ditulis pinisepuh Wahyono Raharjo.

Penghayat kapribaden mengajarkan lima gaib dan lima tindakan. Setiap warga Kapribaden yang dianggap mumpuni memiliki dua nama, yakni nama bagi fisik dan rohnya. Manusia secara fisik akan menjadi tua dan mati, tapi bagi mereka, roh tetap abadi. Mereka diajarkan untuk mereduksi sifat buruk dengan berlaku sabar, menerima, welas asih, dan tulus terhadap sesama.

Buku pedoman mencapai kesempurnaan sejati  ditulis oleh pinisepuh Wahyono Raharjo. Sebelum meninggal pada 1981, sesepuh paguyuban, Herucokro Semono yang dipanggil romo, mewariskan kepemimpinan kepada Wahyono Raharjo dan Hartini Wahyono—keduanya disebut pinisepuh. Secara simbolik romo memberikan pusaka tongkat komando kepada kedua pinisepuh itu. Ini tanda peralihan kekuasaan untuk memimpin penganut Kapribaden dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta. (Eva Abdullah dengan tambahan sumber dari Tirto.id)

Tags : goro suropenganut kepribaden