Simalungun, Sumatera Utara, Wartadesa. – Ternyata kehancuran jalan protokol di kota Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara tidak lepas dari andil puluhan truk pengangkut TBS Sawit yang melebihi kapasitas tonase.
Dari pengamatan Pewarta Suara Komunitas, hampir setiap hari 60-100 unit truk colt diesel pengangkut TBS Sawit membawa beban 6-8 Ton sedangkan kapasitas jalan hanya kelas III dengan kemampuan beban tidak lebih dari empat ton.
Truk-truk yang membawa beban tersebut melintas dari Serbelawan menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Kebun Dolok Ilir. Selain milik perkebunan, ada juga tronton yang membawa TBS Sawit dengan beban 28-35 ton milik pengusaha berinitial E, asal Bah Gunung.
Kehadiran truk-truk dengan beban over kapasitas ini sangat disesalkan warga Serbelawan dan sekitarnya. Karena itu, mereka berharap Aparat Hukum dan Aparat Pemerintah segera melakukan penindakan supaya jalan protokol di daerah itu tidak lagi mengalami kehancuran.
Harga sawit Rp seribu perkilo
Sementara itu, harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani terus mengalami penurunan, bahkan anjlok menjadi Rp.1.000,- (seribu Rupiah) per-kilogram.
Keterangan diperoleh Pewarta Suara Komunitas dari petani sawit di Nagori (Desa) Naga Harjo Kecamatan Bandar Huluan menyebutkan, sebulan sebelum memasuki bulan Ramadhan 2017 lalu, harga TBS Sawit per-kg disekitaran Rp.1.600.Namun setelah lebaran, harga TBS pun anjlok.
“Jika dibandingkan dengan harga pupuk yang dibeli petani, harga TBS ini sudah tidak seimbang lagi,”sebut seorang petani bernama Wulan.
Menurutnya, supaya petani tidak jatuh miskin akibat harga TBS yang terus anjlok, sudah seharusnya instansi Pemerintah yang membidangi Pertanian/Perkebunan menetapkan standarisasi harga.
“Selama ini yang menentukan harga sawit adalah agen-agen dari PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang turun ke lahan-lahan kebun milik rakyat,” jelasnya. (jerry,bay)
Editor : Tohap P.Simamora










