BOJONG, WARTADESA – Gelombang ketidakpuasan warga terhadap tata kelola Pemerintah Desa Sembungjambu, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, mencapai puncaknya hari ini, Selasa (14/04/2026). Puluhan pemuda yang tergabung dalam aliansi Pemuda Sembungjambu Bersatu menggelar aksi unjuk rasa dan audiensi besar-besaran di balai desa setempat.
Massa yang diperkirakan berjumlah hampir 100 orang tersebut mulai mendatangi kantor kepala desa sejak pukul 09.00 WIB. Dengan pengawalan unit kendaraan roda empat (Colt pickup) serta puluhan kendaraan roda dua, warga datang membawa alat peraga berupa spanduk tuntutan dan pengeras suara untuk menyuarakan kegelisahan mereka.
Fokus Utama: Pertanggungjawaban Keuangan
Koordinator aksi, Rayitno, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan akumulasi dari kekecewaan warga terhadap penggunaan anggaran desa yang dinilai tertutup. Dalam audiensi tersebut, warga menyodorkan 10 poin tuntutan yang mencakup transparansi anggaran APBDes periode 2019-2025, laporan realisasi pembangunan jalan, hingga kejelasan pengelolaan BUMDes.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah dana desa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pembangunannya dilakukan secara terbuka,” tegas perwakilan massa dalam pesan moral yang disampaikan.
Rentetan Kekecewaan Sejak 2025
Aksi ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan Wartadesa.net, Desa Sembungjambu telah menjadi sorotan sejak Agustus 2025 terkait dugaan penyelewengan dana Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Saat itu, warga mempertanyakan aliran dana PBB yang rutin ditarik namun tidak dikelola secara transparan oleh perangkat desa.
Selain masalah pajak, dinamika sosial di desa ini sempat memanas pada pertengahan 2025 akibat kasus hukum yang menjerat salah satu pemilik usaha penggilingan padi lokal, yang semakin memicu sentimen negatif terhadap kebijakan lingkungan desa.
Isi Tuntutan dan Kritik Pedas
Di halaman balai desa, massa membentangkan spanduk-spanduk dengan diksi yang tajam, di antaranya:
-
“Dalane Becek Koyo Dalan Bayi” (Sindiran atas buruknya infrastruktur jalan).
-
“Muleh Ndeso Ngrusak Deso” (Kritik terhadap kepemimpinan kepala desa).
-
“Di Program Dewe, Digarap Dewe, Dimonitor Dewe” (Sindiran terhadap minimnya partisipasi masyarakat).
Harapan Solusi Melalui Audiensi
Melalui aksi ini, Pemuda Sembungjambu Bersatu menuntut penjelasan gamblang dan pembukaan data pembangunan secara objektif di hadapan publik. Warga berharap pemerintah desa tidak lagi “tuli dan buta” terhadap aspirasi rakyat.
Hingga siang ini, pihak kepolisian setempat masih melakukan pengamanan ketat di lokasi untuk memastikan audiensi berjalan kondusif. Warga menegaskan akan terus mengawal janji pemerintah desa hingga ada realisasi nyata di lapangan. (Andi Purwandi)










