Pekalongan Kota, Wartadesa. – Penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) Tahun 2017 menyebut bahwa 39 persen mahasiswa telah terpapar gerakan radikal. Mereka tersebar di 15 Provinsi di Indonesia. Demikian diungkapkan oleh Anggota Komisi X DPR Marlinda Irwanti, dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Aula Gedung C Kampus Unikal, Rabu (06/06).
Marlinda menyebut bahwa 25 Mei lalu, DPR telah mensahkan revisi UU Nomor 15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Menurutnya, UU yang baru tersebut akan menjadi payung hukum dalam pemberansatan tindak pidana terorisme.
Untuk memberantas dan menumpas terorisme, lanjut Marlinda, tidak hanya tugas Polri dan Badan Nasional Penanggulagan Terorisme (BNPT). Tetapi tugas seluruh komponen masyarakat. ”Karena itu, mahasiswa yang punya pendidikan yang baik, harus jadi garda terdepan dalam menangkal radikalisme,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat Kepolisian Resor (Kasat Bimmas Polres) Pekalongan Kota AKP Arisun meminta mahasiswa untuk membentengi diri dari pengaruh paham radikal. ”Jangan sampai menyepelekan paham radikal. Karena setiap saat, bisa terayu paham radikal.” Tuturnya.
Usai sosialisasi empat pilar, mahasiswa dan dosen Universitas Pekalongan (Unikal) membubuhkan tanda tangan pada kain panjang deklarasi menolak radikalisme.
Dikutip dari laman VOA, Kepala BIN Budi Gunawan dalam ceramah umum di hadapan Badan Eksekutif Mahasiwa Perguruan Tinggi se-Indonesia di kampus Universitas Wahid Hasyim di Semarang, Sabtu (28/4), mengatakan bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Bahkan dalam riset yang dilakukan BIN tahun 2017 itu, ada tiga universitas yang menjadi perhatian khusus karena menjadi basis penyebaran paham radikal tersebut, meskipun tidak disebut nama universitas yang dimaksud tersebut.
Dalam ceramah umum di Semarang itu, Kepala BIN Budi Gunawan mengatakan bahwa mahasiswa terbukti menjadi target cuci otak yang kemudian dicekoki pemahaman-pemahaman teroris. “Kampus jadi lingkungan menjanjikan bagi pengusung paham radikal dan menjadikan mahasiswa sebagai target cuci otak dengan memanfaatkan kepolosan mahasiswa,” tegasnya.
Riset BIN tahun 2017 itu juga mendapati bahwa 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA dan sederajat, setuju dengan tegaknya negara Islam di Indonesia.
Upaya memperoleh rincian hasil penelitian BIN ini masih belum membuahkan hasil. (Eva Abdullah dan sumber dari VOA)










