- Tak hanya grosir batik Setono yang sepi, hunian hotel pun anjlok akibat tol
Pekalongan, Wartadesa. – Pengoperasian ruas tol Pemalang-Batang (Gringsing) ternyata berdampak signifikan terhadap turunnya perekonomian di Pekalongan. Setidaknya tingkat hunian hotel hanya 35 persen, padahal sebelumnya selalu penuh. Selain itu bisnis restoran dan rumah makan serta batik di Pekalongan juga turun drastis. Banyak pihak berharap agar Pekalongan tidak menjadi kota mati setelah beroperasinya jalan tol.
Disampaikan Ketua Badan Promosi Pariwisata (BP2KP) Kota Pekalongan, Cucut Suranto, Senin (3/4) tingkat hunian (okupansi) hotel di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, selama arus mudik dan balik Lebaran 2017 anjlok akibat diberlakukannya jalan darurat tol Pemalang-Batang untuk arus lalu lintas kendaraan.
Cucut mengungkapkan bahwa kondisi bisnis hotel di Pekalongan mulai memprihatinkan. “Tingkat hunian dari belasan hotel di daerah setempat sejak arus mudik dan balik Lebaran 2017 memang turun sehingga para pelaku bisnis hotel kehilangan pendapatan hingga mencapai miliaran rupiah,” katanya.
Cucut menambahkan bahwa hal yang sama juga berdampak pada bisnis restoran maupun makanan. Ia mengatakan PHRI akan bergerak bersama pemangku kepentingan dan pemerintah untuk mengatasi persoalan itu agar Kota Pekalongan tidak menjadi “kota mati” setelah diberlakukan jalan tol tersebut.
“Kami harus dapat membuat semacam inovasi baru agar kondisi bisnis perhotelan maupun restoran bisa kembali ramai,” kata Cucut.
Tidak berbeda dengan bisnis hotel maupun restoran dan makanan, bisnis batik di Pekalongan juga terimbas pengoperasian jalan tol. Seperti yang dirasakan pedagang di Pasar Grosir Setono.
Pedagang batik Pasar Grosir Setono, Rozak, Sabtu, mengatakan bahwa pemfungsian jalur fungsional Tol Pemalang-Batang berimbas terhadap para pedagang grosir karena banyak pemudik yang melintas di jalur tol itu.
“Jujur saja, tingkat pengunjung ke pasar Grosir Setono pada Lebaran 2017 turun drastis jika dibanding Lebaran tahun sebelumnya. Hingga H-1 Lebaran 2017 pengunjung relatif sepi padahal pada H-5 Lebaran 2016 tingkat kunjungan pemudik sudah ramai,” kata Rozak.
Rozak mengatakan dengan turunnya tingkat kunjungan ke pasar Grosir Setono berimbas relatif cukup besar pada perolehan omset yang diperoleh oleh para pedagang batik.
“Tingkat kunjungan konsumen bisa dikatakan mencapai 50 persen dibanding Lebaran tahun sebelumnya. Jika pada H-5 Lebaran 2016 lokasi parkir Grosir Setono sudah tidak mampu menampung mobil dan sepeda motor kini Lebaran 2017 tampak lengang,” kata Rozak.
Pihaknya berharap pada pemerintah daerah bisa memikirkan nasib pedagang Grosir Setono seiring dengan dioperasikannya jalur Tol Pemalang-Batang dan Batang Semarang.
“Kami berharap pemkot ikut membantu masalah yang dihadapi pedagang batik Grosir Setono. Kami berharap jalan tembus atau jalur `interchange` menuju simpang tol yang sudah direncanakan pemerintah segera realisasikan,” kata Rozak. (WD, Antara)










