close
banjir pekalongan 2020

Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Alih fungsi lahan dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap luasan banjir di Pekalongan. Penelitian yang dilakukan oleh Gardena Smoro Lasksmi, lulusan Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang yang dipublikasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, di Palembang 20 Oktober 2020,  membuktikan hal tersebut.

Penelitian berjudul Dampak Alih Fungsi Lahan dan Curah Hujan terhadap Banjir di Kota Pekalongan, Jawa Tengah menunjukkan data bahwa terjadi alih fungsi lahan yang sangat masif. Laksmi mengambil rentang data 10 tahun, yakni 2010-2020.

Tabel 1. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 1999 – 2010 oleh Gardena Smoro Laksmi
Tabel 2. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 2011 – 2018 oleh Gardena Smoro Laksmi

Masifnya alih fungsi lahan di Pekalongan terjadi lantaran letak geografis yang berada di jalur utama Pulau Jawa, menjadikan Kota Pekalongan memiliki potensi strategis pada sektor industri. Kondisi tersebut menyebabkan Kota Pekalongan menjadi daerah dengan nilai urbanisasi demografi paling tinggi pada tahun 2006 di Jawa Tengah dan mendorong terjadinya perubahan tutupan lahan.

Perubahan penggunaan lahan memberikan dampak negatif jika tidak terkendali yaitu berkurangnya area resapan, terlebih jika curah hujan tinggi.  Semakin berkurangnya daerah resapan air menyebabkan indeks banjir semakin meningkat. Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Data penelitian Laksmi menunjukkan bahwa analisis per-kecamatan maupun per-DAS, kondisi daerah resapan air di Kota Pekalongan pada tahun 2011 tergolong mulai kritis. Pada tahun 2012, Kota Pekalongan digolongkan menjadi daerah yang rawan terhadap kejadian bencana banjir.

Pada 6 Mei 2012, banjir merendam delapan kelurahan di Kota Pekalongan yang mengakibatkan kelumpuhan pelabuhan, kerusakan permukiman dan kerusakan areal permukiman. Rata-rata ketinggian banjir yaitu 10-50 cm dan ketinggian maksimal 70 cm. Banjir di Pekalongan hampir terjadi setiap hari ketika air laut pasang (rob).

Fenomena banjir ini terjadi sejak 10 tahun terakhir. Kejadian banjir ini terutama melanda
kelurahan yang berbatasan dengan laut. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan,
pasang tertinggi di Pekalongan adalah 1,1 meter. Luas area yang tergenang mencapai 51 %
dari total luas Kota Pekalongan.

Genangan banjir terluas terjadi pada tahun 2014 di Kelurahan Bandengan, Kecamatan
Pekalongan Utara dengan luas 1.209.753 m2 atau sebesar 60,12% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 58.236 m2 atau sebesar 3,33% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Tabel 4. Luas genangan banjir tahun 2014

Genangan banjir terluas tahun 2018 di Kecamatan Pekalongan Utara terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas 1.522.443 m2 atau sebesar 75,67% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 84.145 m2 atau sebesar 4,81% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Genangan banjir di Kecamatan Pekalongan Utara bertambah seluas 1.181.052 m2. Perubahan luasan genangan banjir terbesar terjadi di Kelurahan Kandang Panjang dengan luas perubahan genangan sebesar 428.486 m2 atau sebesar 149,48% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Kandang Panjang Tahun 2014. Sedangkan, perubahan luasan genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas perubahan 312.690 m2 atau sebesar 25,85% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Bandengan tahun 2014.

Tabel 5. Luas genangan banjir tahun 2018

Pada tahun 2017, seluruh desa di Kabupaten Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 hektar. Banjir di Kabupaten Pekalongan sejak Januari 2020 terjadi di delapan belas desa. Sungai tidak dapat menampung curah hujan dengan intensitas tinggi dan menyebabkan genangan air sepanjang 20-30 cm.

Kondisi banjir di Pekalongan Tahun 2020

Berdasarkan peta potensi bencana yang dikeluarkan oleh BPBD Kabupaten Pekalongan tahun 2020, Bojong, Buaran, Kedungwuni, Siwalan, Sragi, Tirto, Wiradesa, Wonokerto, dan Wonopringgo termasuk dalam kategori rawan banjir, padahal tahun 2010 wilayah tersebut masih ditetapkan sebagai kawasan industri atau permukiman. (Buono)

 

Terkait
AAf inginkan penanganan banjir Pekalongan secara menyeluruh

Kota Pekalongan, Wartadesa. - Hingga Kamis (04/03) air yang merendam wilayah Kramatsari, Kota Pekalongan belum juga surut. Satu pompa yang Read more

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

Pekalongan, Wartadesa. - Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa Read more

Dua pekan banjir Pekalongan, 3500 jiwa mengungsi

Wonokerto, Wartadesa. - Hingga Sabtu (20/02), dua pekan banjir yang merendam Kabupaten Pekalongan, sedikitnya 3.500 jiwa mengungsi dan tersebar di Read more

Banjir Pekalongan, Kokam instruksikan seluruh anggota membantu korban

Kajen, Wartadesa. - Komandan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan menginstruksikan seluruh anggotanya Read more

Tags : alih fungsi lahanbanjir pekalongan