close
apem
Apem Kesesi. Foto Lanna Maulana

Kata Apem, beberapa hari terakhir ini menjadi perbincangan banyak orang. Media sosial maupun warung kopi tak lepas dari pembicaraan kue yang terbuat dari tepung beras, berbentuk bulat, memiliki tekstur yang empuk dan legit rasanya –di Pekalongan apem Kesesi, pembuatannya ditambahkan gula jawa atau gula aren– ini. Apem 80 juta saat ini jadi perbincangan.

Apem Comal menjadi distorsi pertama penyebutan kue apem di Pekalongan dan sekitarnya. Sebetulnya kue apem Pekalongan berasal dari Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan, namun karena tempat menjajakan kue ini ramai di Pasar Comal, warga lebih mengenal apem Kesesi sebagai apem Comal.

Apem Kesesi yang enak, menurut penuturan banyak warga, hanya bisa ditemui pada pengrajin kue apem di Dukuh Bantul, Kesesi. Pengrajin apem di pedukuhan tersebut dapat membuat kue apem dengan sempurna dengan kualitas yang baik dan enak. Air yang bagus dan cocok dianggap warga menjadi pembeda kualitas dan rasa apem dari Dukuh Bantul dengan pedukuhan lainnya di Kesesi.

Selanjutnya, pendistorsian makna apem yang berupa kuliner menjadi alat kelamin perempuan. Akibatnya, di beberapa tempat, generasi sekarang tidak berani menyebut kata apem. Mereka mengubahnya menjadi serabi. Padahal serabi dan apem adalah kuliner yang berbeda.

Distorsi ini muncul akibat penyebutan kelamin laki-laki maupun perempuan secara gamblang kerap dianggap jorok. Makanya orang suka menggunakan kata lain untuk menyebutkan atau menggambarkan kedua kelamin tersebut. Biasanya kata yang dipilih itu adalah sebuah hal yang terlihat mirip dengan bentuk kedua kelamin tersebut.

Selain dua distorsi makna (kata) apem diatas, dikemudian hari sepertinya akan kita dapati distorsi lainnya yang berkaitan dengan apem ini.

Untuk mengembalikan apem Kesesi sebagai ikon kuliner khas Pekalongan, Pemkab Pekalongan menggelar acara pemecahan rekor MURI sajian apem terbanyak bulan November 2018 lalu. Acara yang dihelat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korpri ke 47 tersebut memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dengan urutan 8.762.

Proses pembuatan apem Kesesi. Foto: Kaskus

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat apem Kesesi adalah tepung beras, gula merah/gula jawa/gula aren. Sedang peralatan yang digunakan untuk membuatnya adalah dandang, anyaman, sarangan dan daun. Anyaman dan sarangan dibuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mencetak apem Kesesi.

Beras dicuci bersih, lalu direndam selama dua malam, kemudian digiling sampai menjadi tepung, setelah itu tepung diuleni / diaduk rata sampai berbentuk adonan. Gula merah dicairkan lalu adonan dicampurkan menjadi satu dan dicetak. Setelah dicetak lalu dikukus selama 10 menit.

Apem yang baik, kalau dimakan enak, tidak “nggedabel” (bahasa Pekalongan) atau agak lengket di mulut. Kalau dilihat warnanya terang, tidak kusam, kelihatan tidak halus tapi seperti ada gelembung-gelembung udaranya. Untuk lebih gurih, kadang ada pedagang yang sengaja menaruh irisan kelapa (bukan parutan) di atas apem. (WD, diolah dari berbagai sumber)

Tags : apemapem comal

Leave a Response