close
budi rahayu setiawan
Budi Rahayu Setiawan, penggiat KMPS

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Sekali lagi warga secara berdaya mampu mewujudkan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. Seperti dilakukan oleh Komunitas Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) di Lebakbarang yang membuat aturan bersama guna melindungi ikan endemik jenis Masher di Kali Sengkarang. Hal tersebut terungkap dalam diskusi bertajuk Ngobrol karo Ngopi yang digelar oleh Komunitas Cerito Wong Pekalongan di Alesscow Coffe, Simbangkulon, Buaran Pekalongan, Sabtu (20/10).

Komunitas yang bermula dari penghobi mancing mania Lebakbarang tersebut berdiri sejak tahun 2008. “Awalnya dari penghobi mancing mania di Kali Sengkarang, Lebakbarang, kemudian bernama Komunitas Masyararakat Peduli Sungai Sengkarang, kini setelah berbadan hukum menjadi Komunitas Masyarakat Peduli Sungai,” ujar Budi Rahayu Setiawan, salah seorang penggagasnya.

Berdirinya KMPS tidak lepas dari keprihatinan warga yang pada tahun 2008-2009 dimana banyak warga yang mengambil ikan secara eksploitatif dengan menebar racun ikan (tuba), apotas, setrum dan eksploitasi lainnya. “Tahun 2008-2009 tantangan terberat dari warga … tetangga sendiri karena mengambil ikan untuk penghasilan yang mengambil ikan dengan eksploitasi,” lanjut Budi.

Namun, eksistensi KMPS dengan membuat aturan bersama dengan warga, menjadikan wilayah Lebakbarang terkenal dan menjadi tujuan penggila mancing mania dari berbagai kota di wilayah sekitar untuk memancing ikan masher. “Sekarang terkenal dan menjadi tujuan, denga ikan masher, sejenis ikan tambra atau wader tetapi berbeda, yang saat ini langka di Jawa. Saat ini ikan tersebut hanya ada di Dongkal (Randudongkal Pemalang) dan Lebakbarang.” Ujar pria yang lebih dikenal dengan Budi Rounald tersebut.

Selain permasalahan pengambilan ikan secara eksploitatif, saat musim kemarau, habitat ikan di Kali Sengkarang ikut punah dengan adana Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), “Permasalahannya adalah adanya pltmh yang saat musim kemarau mengambil air hampir keseluruhan (debit Kali Sengkarang) untuk pembangkit listrik, hingga air berkurang banyak, yang menyebabkan ikan berkurang. Kondisi air saat musim kemarau seperti sekarang, ketika air dibendung oleh warga … desa-desa dibawahnya tidak mendapatkan air, airnya seperti habis.” Tutur Budi.

Namun, warga tidak dapat berbuat banyak, mengingat hal tersebut sudah menjadi kebijakan pemerintah, “karena kita menikmati hasilnya berupa listrik, tapi disisi lain ada ekosistem yang hilang. Ya … kita tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun akibatnya hingga sampai Lolong yang kekurangan air saat musim kemarau.” Lanjut Budi.

Terkait perhatian pemerintah terhadap kelestarian ikan di Kali Sengkarang, pemerintah pernah memberi 6000 benih ikan mas dan nila untuk diterbar. “Pernah ada penebaran benih ikan dari pemerintah, berupa bibit ikan mas dan nila hitam sebanyak 6000 yang kita bagi bagi ke sungai sungai kecil di sekitar … kita menghargai upaya pemerintah, namun ketika banjir bandang…. ikan ttersebut langsung habis tersapu air.” ujar Budi.

Tantangan pengambilan ikan dengan cara-cara yang tidak sesuai dan eksploitatif menjadikan komunitas ini bersama warga membuat aturan bersama yakni  dilarang mengambil ikan dengan racun, jaring apung, peledak, dan perangkap apung.

Namun tantangan baru muncul ketika warga melakukan overfishing atau mengambil ikan secara berlebihan dengan cara memanah. Pencari ikan menyelam kemudian memanah ikan yang ada di sarangnya, “kalau mancing dan menjala dapatnya tidak banyak … kalau memanah, dia dapatnya banyak, sekali memanah 15 ikan bobotnya 20 kg dan diunggah ke media sosial…. hal tersebut menjadi permasalahan bagi anggota komunitas, karena memanah merupakan aktivitas yang ramah lingkungan, namun overfishing berakibat bagi keberlangsungan ikan itu sendiri. Maka dibuatlah aturan bersama tidak boleh mengambil ikan selain dengan memancing, jala tebar, dan bubu,” tutur Budi.

Pengalaman berharga yang didapatkan KMPS bersama Warta Desa adalah ketika menyuarakan kondisi sampah di wilayah Kali Sengkarang, langsung ada respon dari dinas terkait untuk membersihkan sampah. “Dengan menyuarakan di Warta Desa … dari dinas terkait langsung membersihkan sampah.” Pungkas Budi. (WD)

Tags : kali sengkarangmancing mania

Leave a Response